[EDUKASI, HOAX] Bir Berbahasa Arab di Jakarta

Sumber : Media Sosial

Narasi :

Sebelum situs-situs penyebar konten sampah ngepost yang beginian, nih ada bahan buat kalian

Ahok mana Ahok?? Jakarta jual Beer dengan tulisan Arab??

Penjelasan :

Sebelum masuk ke pokok permasalahan bir bertuliskan dengan bahasa Arab, mari mengenal dahulu bir itu sendiri. Hampir seluruh masyarakat di dunia mengenal dan pernah menenggak minuman berwarna kuning dengan busa-busa putih yang mengambang di sebuah gelas. Orang-orang menyebut minuman tersebut adalah bir. Bir adalah salah satu minuman olahan tertua di dunia, dan minuman terpopuler ketiga secara keseluruhan setelah air putih dan teh.

Bir diseduh dari biji-bijian sereal paling sering dari jelai malang , meskipun gandum, jagung, dan beras juga digunakan. Selama proses pembuatan bir, fermentasi gula pati di wort menghasilkan etanol dan karbonasi dalam bir yang dihasilkan. Kebanyakan bir modern diseduh dengan hop , yang menambahkan rasa pahit dan rasa lainnya dan bertindak sebagai agen pengawet alami dan stabilisasi. Bahan penyedot lainnya seperti roti , bumbu, atau buah dapat dimasukkan atau digunakan sebagai pengganti hop.

Sejarah Bir di Dunia

Bir berasal dari Neolitik awal atau 9500 SM , saat sereal pertama kali diternakkan , dan dicatat dalam sejarah kuno Irak kuno dan Mesir kuno . Arkeolog berspekulasi bahwa bir berperan penting dalam pembentukan peradaban. Sekitar 5000 tahun yang lalu, para pekerja di kota Uruk (Irak modern) dibayar oleh majikan mereka dengan bir. Selama pembangunan Piramida Besar di Giza, Mesir , setiap pekerja mendapat jatah empat liter lima liter bir setiap hari, yang berfungsi sebagai nutrisi dan penyegaran yang sangat penting bagi konstruksi piramida, seperti dikutip dari wikipedia.

Bukti bahan kimia barli yang paling awal diketahui berasal dari sekitar 3.500-3100 SM dari lokasi Godin Tepe di Pegunungan Zagros di Iran barat. Beberapa tulisan Sumeria paling awal berisi referensi tentang bir; Contohnya termasuk doa kepada dewi Ninkasi , yang dikenal sebagai “Himne untuk Ninkasi”, yang berfungsi sebagai doa sekaligus metode untuk mengingat resep bir dalam budaya dengan sedikit orang melek huruf, dan nasehat kuno ( isi perut Anda) Siang dan malam bergembira ) ke Gilgames , yang tercatat dalam Epik Gilgames , oleh ale-istri Siduri , setidaknya, setidaknya mengacu pada konsumsi bir. Tablet Ebla , ditemukan pada tahun 1974 di Ebla, Syria, menunjukkan bahwa bir diproduksi di kota pada tahun 2500 SM. Minuman fermentasi menggunakan nasi dan buah dibuat di China sekitar 7000 SM. Tidak seperti sake, jamur tidak digunakan untuk mengolah nasi (amylolytic fermentation); Beras itu mungkin disiapkan untuk fermentasi dengan cara pengunyahan atau malting.

Dikutip dari cnnindonesia.com, di zaman dulu bir disinyalir dibuat sebagai minuman obat, seperti yang diungkapkan oleh Arie Susanto, Brewmaster (ahli racik bir) dari Paulaner Brauhaus. Kegunaan bir sebagai minuman obat, terlihat dari tulisan di Mesir kuno yang diduga dibuat pada tahun 1600 Sebelum Masehi.

“Tulisan Mesir ini berisi tentang 100 resep pengobatan dengan menggunakan bir,” ujar pria lulusan Beer Engineering di Technische Universitat Munchen, Jerman ini.

Selain itu, sebuah resep kuno yang sudah berusia tiga milenium yang ditemukan di kuil matahari Ratu Nefertiti. Resep ini pernah digunakan oleh New Castle Brewery di Inggris dan dijadikan 1000 botol bir yang diberinama Tuthankhamun Ale.

Resep ini ditemukan ketika arkeolog, Barry Kemp menggali makam sang Ratu Mesir di tahun 1990. Saat menggali, ia menemukan 10 ruang pembuatan bir yang terkubur di bawahnya. Masing-masing ruang diketahui meninggalkan jejak residu bir. Bir dari resep asli sang ratu awalnya dijual dengan harga US$ 7.686 (sekitar Rp 93 juta). Namun lama-lama harganya turun drastis menjadi US$ 75 atau sekitar Rp 907 ribu per botol.

Arie Susanto juga membeberkan sejarah bir menjadi industri komersial. “Produksi bir untuk tujuan komersil pertama kali tercatat pada tahun 1200-an di sebuah tempat yang sekarang ini masuk ke dalam wilayah negara Jerman,” ujarnya. Namun, industri ini mulai berkembang sekitar tahun 1506. Di tahun tersebut, pemerintah Jerman mengeluarkan sebuah undang-undang yang mengatur kemurnian bir, dan pembotolan bir mulai diterapkan pada tahun 1605. Sampai sekarang, industri bir di Jerman berkembang sangat pesat.

“Untuk jenis bir-nya sendiri ada lebih dari 100 jenis. Sedangkan resepnya, bisa ada ribuan jenis,” ucap Arie yang memiliki julukan the beer doctor.

Bir Masuk ke Indonesia

Sejarah bir di Indonesia dimulai pada tahun 1929, di mana saat itu bangsa Belanda yang dalam masa pendudukannya di Indonesia, mendirikan sebuah brewery yang berlokasi di Surabaya. N.V. Nederlandsch-Indische Bierbrouwerijen atau yang dulu juga dikenal dengan nama Java Brewery adalah nama dari brewery tersebut. Bir yang diproduksi di sana lalu dikenal dengan nama Java Bier. Di tahun 1937, Java Brewery melakukan renovasi pabrik dan memperluas jaringan usahanya. Tidak berselang lama, nama perusahaannya pun berganti menjadi Heineken’s Nederlands-Indische Bierbrouwerij Maatschappij. Sejak saat itu penjualan bir Heineken mulai merambah pasar Indonesia dan impor bir Heineken kemudian dihentikan. Satu fakta yang cukup menarik pada masa itu, orang kerap memesan bir Heineken dengan menyebut “Bintang” karena gambar bintang berwarna merah yang memang ada di logo Heineken tersebut.

Pasca Perang Dunia II, tepat sebelum Jepang akhirnya menyerah, Republik Indonesia diproklamirkan. Setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia pada 27 Desember 1949, perusahaan bir Heineken tetap menjalankan operasinya dengan nama Heineken’s Indonesia Brewery ME. NV.

Pada masa Demokrasi Liberal (1950-1957), pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan kapital nasional, di mana perekonomian sepenuhnya diserahkan kepada pasar. Ini membuat para pengusaha non pribumi harus angkat kaki dari Indonesia, termasuk pula Heineken. Kondisi ekonomi Indonesia saat itu semakin buruk karena pengusaha pribumi masih belum sanggup bersaing dengan pengusaha non pribumi.

Masuk ke era Orde Baru, Heineken kembali mengambil alih tempat pembuatan bir di tahun 1967 dan namanya kemudian berganti menjadi PT Perusahaan Bir Indonesia. Di tahun 1982, PT Perusahaan Bir Indonesia mengubah namanya menjadi PT Multi Bintang Indonesia. Dan hingga kini Multi Bintang tetap melakukan proses brewing untuk Bir Bintang dan Heineken.

Sebelumnya, di tahun 1931, tepatnya di bulan Agustus, di mana N.V. Archipel Brouwerij Compagnie didirikan oleh Geo Wehry & Co. Unit usaha ini dibentuk dengan tujuan sebagai pabrik pembuatan dan penyulingan bir serta minuman berkarbonasi dengan es. Pabrik ini lalu dikenal sebagai pengimpor untuk bir-bir buatan Bremen di Jerman kepada brewery Koentji Beer di Indonesia.Pada tanggal 8 April 1933, Archipelago Brewery resmi beroperasi. Produk-produk bir yang dihasilkan oleh pabrik ini, seperti bir Diamonds, Anker, dan Kris, cukup mendapatkan respon yang positif.

Memasuki era 1960-an, brewery tersebut diambil oleh oleh pemerintah kota Jakarta dan sekelompok orang Indonesia dikirim ke Eropa untuk belajar di sekolah brewing. Tidak berapa lama kemudian, brewery tersebut diambil alih pengoperasiannya oleh San Miguel Corporation dari Filipina. Saat ini, PT Delta Djakarta Tbk, merupakan bagian dari grup San Miguel Corporation dan Anker Beer yang hingga kini masih memproduksi bir jenis lager dan stout.

Selama hampir satu abad ini, PT Delta Djakarta telah tumbuh menjadi salah satu perusahaan bir terbesar di Jakarta bahkan Indonesia. Pemerintah provinsi DKI Jakarta sendiri memiliki saham di perusahaan bir PT Delta Djakarta (DLTA).Saat ini kepemilikan saham Pemprov DKI Jakarta di perusahaan pemilik merek Anker Bir, Carlsberg, San Miguel, dan Stout tersebut sebesar 26,25 persen. Jumlah itu merupakan gabungan dari 23,34 persen saham Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan 2,91 persen milik BP IPM Jaya, yang juga berada di bawah naungan Pemprov DKI. Pemprov DKI telah memiliki saham tersebut sejak tahun 1967. Sementara sisanya dimiliki oleh San Miguel Malaysia (L) Pte, Malaysia sebesar 58,33 persen dan publik sebesar 18,33 persen.
Fakta dari Bir bertuliskan bahasa Arab
Foto botol bir bermerk budweiser dengan tulisan bahasa Arab yang dimuat oleh akun facebook humor politik dalam postingannya di tanggal 15 Februari 2016. Postingan tersebut menjadi polemik karena menyindir Ahok, gubernur DKI Jakarta periode 2015-2017.
Nyatanya, bir tersebut tidak dijual di Jakarta. Bir tersebut juga tidak mengandung alkohol. Bir tanpa alkohol itu hanya dijual di wilayah Timur Tengah, yang menggunakan bahasa Arab. Jenis bir sendiri ada yang tidak mengandung alkohol, seperti root beer, bir pletok, dan ginger beer.
Bagi umat Islam, hal-hal yang memabukkan itu diharamkan, alkohol termasuk di dalamnya.
Dikutip dari greenprophet.com, Alkohol dalam linguistik bernama khamr (خمر) bahasa Arab untuk “anggur”, adalah alkohol yang berasal dari buah anggur. Inilah yang dilarang oleh teks-teks tertentu dari Quran (lihat 5:90). Oleh karena itu alkohol secara kategoris haram (haraam) dan dianggap tidak murni (najis). Mengkonsumsi jumlah apapun adalah haram, meski tidak menimbulkan efek mabuk.

Nabi Muhammad Islam berkata, “Pengkhianat berasal dari dua pohon ini,” sambil menunjuk ke pohon anggur dan pohon kurma. Alkohol yang berasal dari kurma atau kismis juga dilarang, lagi berapa pun jumlah yang dikonsumsi, seperti yang dijelaskan di situs pencari pencari Islam.

Pada awalnya, sebuah peringatan umum diberikan untuk melarang umat Islam melakukan sholat saat berada dalam keadaan mabuk (Quran, 4:43). Kemudian sebuah ayat kemudian diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa sementara secara khusus alkohol memiliki beberapa manfaat obat, efek negatifnya melebihi kebaikan (Quran, 2: 219).

Akhirnya, “minuman keras dan perjudian” disebut “kekejian hasil karya Setan,” yang memperingatkan orang-orang dengan kesadaran diri untuk tidak berpaling dari Tuhan dan melupakan doa, dan umat Islam diperintahkan untuk berpantang (Quran, 5: 90-91).

Nabi Muhammad SAW juga menginstruksikan rekan-rekannya untuk menghindari zat-zat yang memabukkan (diparafrasekan), “jika memabukkan dalam jumlah besar, dilarang bahkan dalam jumlah kecil.” Oleh karena itu, kebanyakan Muslim yang taat menghindari alkohol dalam bentuk apapun, bahkan kecil sekalipun. jumlah yang kadang-kadang digunakan dalam memasak.

 

Referensi : https://translate.google.com/translate?hl=id&sl=en&u=https://en.wikipedia.org/wiki/Beer&prev=search
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20141031151709-262-9121/bir-awalnya-diciptakan-sebagai-obat/
http://beergembira.com/beer-talk/sejarah-bir-di-indonesia.html
https://kumparan.com/aditiarizkinugraha/sejarah-pemprov-dki-di-anker-bir
https://www.greenprophet.com/2011/11/muslims-alcohol-haraam/
https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/244138549252021/

 

 

 

About Levy Nasution 298 Articles
Journalist, traveller