[SALAH] Video “Nasbung Buat Reuni Kadrun diludahin dulu”

Ditiup, BUKAN diludahi. FAKTANYA, meniup setelah mendoakan adalah ritual yang diikuti oleh kalangan masyarakat tertentu. Selain itu, lokasi peristiwa BUKAN di Indonesia, sehingga mengaitkan dengan hal-hal yang terjadi di Indonesia adalah KELIRU.

Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

KATEGORI: Konteks yang Salah.

SUMBER: Twitter, https://archive.md/w7xnY (arsip cadangan).

NARASI: “Nasbung Buat Reuni Kadrun diludahin dulu sama korlap 😂😂
Modyar Kowe….

#TolakReuniKadrun212

#TolakReuniKadrun212″.

PENJELASAN

Berdasarkan 7 Jenis Mis dan Disinformasi oleh First Draft, termasuk “Konteks yang Salah: Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah” [1].

SUMBER membagikan video ritual meniup makanan dengan narasi yang TIDAK sesuai dengan fakta, sehingga menimbulkan kesimpulan yang SALAH. Peristiwa terjadi di India, BUKAN Indonesia, sehingga KELIRU jika mengaitkan dengan hal-hal yang terjadi di Indonesia (“Kadrun” dan Reuni 212).

Verifikasi Video

Salah satu hasil pencarian dengan video yang identik, Alt News: ““Ulama itu meniup makanan, bukan meludah. Ada sebagian masyarakat yang mengikuti ritual ini. Bahkan di dargah lain, beberapa jamaah meminta Dum (air yang ditiup setelah pembacaan ayat-ayat Alquran). Ini untuk Barkat (kemakmuran) dan kesejahteraan. Ini untuk memberikan Fatiha setelah makanan disiapkan.” [2]

Referensi Lainnya yang Berkaitan

Berkaitan dengan istilah “Kadrun”, The Jakarta Post: “Kadrun adalah kependekan dari kadal gurun (kadal dabb), reptil yang mendiami bagian utara Afrika dan Timur Tengah. Menurut John P. Rafferty dalam bukunya Deserts and Steppes , kadal ini, ketika dipanggang, adalah makanan khas Badui. Kadrun kini sering digunakan oleh pendukung garis keras Jokowi untuk menyebut mereka yang kritis terhadap Presiden dan mendukung Gubernur Jakarta Anies Baswedan, yang kini dipandang sebagai calon presiden potensial pada 2024. Istilah ini mengandung sedikit nada rasis, karena terutama digunakan untuk mendiskreditkan kritikus Jokowi yang tersisa dan paling gigih: para Islamis, beberapa di antaranya keturunan Arab (seperti Anies) atau mengenakan pakaian Timur Tengah.” [3]

Pencarian Google News, kata kunci: “reuni 212”. [4]

REFERENSI

[1] firstdraftnews.org: “Memahami gangguan informasi” (Google Translate), https://bit.ly/3wHx0lO / https://archive.md/nb52W (arsip cadangan dengan bahasa asli, English).

[2] altnews.in: “Cek fakta: Apakah video ini menunjukkan maulana “meludah” pada makanan?” (Google Translate), https://bit.ly/2ZRZuwW / https://bit.ly/3Er5uvR (arsip cadangan) & https://archive.md/j643V (arsip cadangan dengan bahasa asli, English).

[3] thejakartapost.com: “Bangkitnya ‘kadrun’ dan ‘Togog’: Mengapa polarisasi politik di Indonesia masih jauh dari selesai” (Google Translate), https://bit.ly/31zWhT9 / https://bit.ly/3DomdyA (arsip cadangan) & https://archive.md/pyYnj (arsip cadangan dengan bahasa asli, English).

[4] google.com, https://bit.ly/3GfzlIa / https://bit.ly/3ryUMzL (arsip cadangan).