[SALAH] Vaksin Covid-19 Merusak Sel Otak dan Sel Darah

Hasil Periksa Fakta Nadine Salsabila Naura Marhaeni (Universitas Diponegoro)

Associate Professor dan Peneliti Kimia Farmasi Universiti Putra Malaysia mengatakan bahwa virus yang menyerang otak memang ada. Namun, BUKAN karena vaksin atau kandungan aluminium. Sementara, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melalui CNN Indonesia mengklarifikasi bahwa aluminium yang terkandung dalam vaksin Covid-19 tidak merusak sel darah dan sel otak.

= = = =

KATEGORI: Konten yang Menyesatkan/Misleading Content

= = = =

SUMBER:
FACEBOOK
https://archive.fo/8Xu0Z

= = = =

NARASI:
“Allahuakhbar.
Darah berubah lepas kena…………..
BUKTI peksin MERUSAK SEL DARAH DAN SEL OTAK MANUSIA YG MENDAPAT peksin
Ini adalah hasil penelitian di laboratorium perbedaan antara sel darah orang yg belum di peksin dan sel darah orang lain yg sudah di peksin
Dan hasil nya mengejutkan.. sel darah orang yg sudah di peksin mengalami kerusakan dan perubahan.
[…]
(Narasi dilanjutkan setelah bagian Referensi)

= = = =

PENJELASAN:
Beredar sebuah unggahan dalam sebuah akun Facebook yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan kerusakan pada sel otak dan sel darah. Narasi tersebut menyatakan bahwa kandungan aluminium yang terkandung dalam vaksin Covid-19 merupakan kandungan yang dapat menyebabkan kerusakan pada sel otak dan sel darah.

Berdasarkan hasil penelusuran, unggahan serupa juga beredar pada tanggal 1 April 2021, satu hari sebelum unggahan pada akun Mohamad Nasrun diunggah. Melansir dari Liputan6 yang mewawancarai dr. Muhammad Fajri Adda’i, yang merupakan edukator dan relawan tim penanganan Covid-19 menjelaskan bahwa aluminium yang disebutkan dalam unggahan tersebut berfungsi untuk membuat kemampuan vaksin menjadi lebih efektif. Hal ini mengindikasikan bahwa aluminium yang terkandung dalam vaksin Covid-19 tidak merusak sel otak dan sel darah, justru membantu meningkatkan kemampuan kerja vaksin.

Hingga detik ini tidak ada penelitian yang menyatakan bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kerusakan sel otak dan sel darah. Meskipun unggahan tersebut mencantumkan sumber referensi dari jurnal, isi dari jurnal tersebut tidaklah berhubungan dengan Covid-19. Isi jurnal tersebut menjelaskan hubungan antara aluminium dengan Alzheimer serta peningkatan CRP secara umum, dan tidak sama sekali menyinggung tentang Covid-19.

Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa isi unggahan yang diunggah oleh akun Facebook Mohamad Nasrun tidak sesuai fakta dan masuk ke dalam kategori misleading content atau konten yang menyesatkan.

= = = =

REFERENSI:
https://www.liputan6.com/…/cek-fakta-tidak-benar-vaksin…
https://www.cnnindonesia.com/…/vaksin-bisa-rusak-otak…

= = = =

(Lanjutan Narasi)
sel sel darah orang yg sudah di peksin di kuasai oleh sesuatu yg aneh yg terkandung di dalam peksin
(Sample di ambil dari 3 orang berbeda.. 1 yg belum di fakfak, 2 lain nya yg udah di fakfak)
Dua paper penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal of Inorganic Biochemistry menyimpulkan bahwa alumunium adjuvant dalam peksin bersifat merusak sel sel di dalam otak yaitu pada sel neural dan sel endothelial microvessel.
Paper pertama melakukan pengujian toksisitas adjuvant alumunium terhadap genetik sel neural. Senyawa alumunium dalam adjuvant vaksin menyebabkan perubahan ekspresi genetik pada sel sel neural otak manusia sehingga menyebabkan kerusakan sel.
Paper kedua menguji dampak pemberian senyawa alumunium adjuvant pada peningkatan kadar CRP (C-Reactive Protein) pada sel endothelial di otak. Senyawa alumunium adjuvant dalam peksin menyebabkan kenaikan kadar CRP pada endothelial sel otak. CRP adalah biomarker/ indikator inflamasi pada sel endothelial otak.
Tidak heran kenapa para peneliti independen di luar negeri banyak yang mengkaitkan pemberian peksin yang mengandung adjuvant alumunium dengan penyakit alzheimer yang menyerang otak. Khususnya di negara amerika yang memiliki jumlah penderita alzheimer sangat banyak.
Hal ini disebabkan program peksin yang diterapkan pemerintah amerika jauh lebih banyak dibanding negara negara lain didunia, sehingga dampak negatif peksin di negara amerika juga terbanyak di dunia.
Sumber Journal:
1. https://sci-hub.se/10.1016/j.jinorgbio.2005.04.021
2. https://sci-hub.se/10.1016/j.jinorgbio.2015.07.013

Penulis: Nadine Salsabila Naura Marhaeni
Editor: Bentang Febrylian