[SALAH] Pesan Berantai Video “Potensi Bahaya Vaksin COVID-19”

Isu yang sebelumnya sudah diklarifikasi, disebarkan kembali berkaitan dengan program vaksinasi yang saat ini sedang berlangsung. Video tentang respon imun ADE (Antibody-dependent Enhancement), yang berdasarkan hasil penelitian hingga saat ini TIDAK ditemukan karena penyakit virus corona pada manusia TIDAK memiliki atribut klinis, epidemiologis, biologis, atau patologis dari penyakit ADE.

Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

KATEGORI: Konten yang Menyesatkan.

SUMBER: Pesan berantai WhatsApp.

NARASI: Cek video.

PENJELASAN

Berdasarkan “7 Jenis Mis dan Disinformasi” oleh First Draft, masuk ke kategori “Konten yang Menyesatkan: Penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu” karena SUMBER membagikan BERITA LAMA yang sudah diklarifikasi [1]

Sebelumnya pada 12 Oktober 2020, Kusnandi Rusmil (Guru Besar Fakultas Kedokteran & Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad) mengklarifikasi: “Hingga saat ini belum ada bukti terjadinya ADE (pada kandidat vaksin COVID-19). Kewaspadaan dan monitoring terhadap keamanan vaksin tetap harus dilakukan,” (detikHealth) [2]

Dijelaskan oleh CHOP (Children’s Hospital of Philadelphia): “Baik penyakit COVID-19 maupun vaksin COVID-19 baru tidak menunjukkan bukti penyebab ADE. Orang yang terinfeksi SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan COVID-19, kemungkinan tidak mengembangkan ADE setelah terpapar berulang. Ini juga berlaku untuk virus korona lainnya. Demikian pula, penelitian vaksin di laboratorium dengan hewan atau uji klinis pada manusia belum menemukan bukti ADE.” [3]

Referensi dari PubMed.gov: “Mungkinkah vaksin COVID-19 membuat manusia peka terhadap infeksi terobosan yang bergantung pada antibodi (ADE)? Ini tidak mungkin karena penyakit virus corona pada manusia tidak memiliki atribut klinis, epidemiologis, biologis, atau patologis dari penyakit ADE yang dicontohkan oleh virus dengue (DENV). Berbeda dengan DENV, SARS dan MERS CoVs terutama menginfeksi epitel pernapasan, bukan makrofag. Penyakit parah berpusat pada orang tua dengan kondisi yang sudah ada sebelumnya dan bukan pada bayi atau individu dengan infeksi virus corona sebelumnya. Tantangan virus hidup pada hewan yang diberi vaksin SARS atau MERS menghasilkan reaksi hipersensitivitas vaksin (VAH), serupa dengan yang terjadi pada manusia yang diberi vaksin campak atau virus pernapasan yang tidak aktif. Vaksin COVID-19 yang aman dan efektif harus menghindari VAH.” [4]

Selain itu, video yang sama hasil suntingan dengan tambahan narasi “rakyat akan dibunuh vaksin Cina” sudah pernah diperiksa sebelumnya [5]

REFERENSI

[1] firstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.”, http://bit.ly/3pIsnm2 (Google Translate) & http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/3sjlBou (arsip cadangan).

[2] detik.com: “Pakar Sebut Fenomena ADE pada Kandidat Vaksin COVID-19 Aman” https://bit.ly/3p65BVZ / https://archive.md/tr32j (arsip cadangan).

[3] chop.edu: “Antibodi-dependent Enhancement (ADE) dan Vaksin” http://bit.ly/3v1NqnK (Google Translate) / https://archive.st/w31s (arsip cadangan).

[4] pubmed.ncbi.nlm.nih.gov: “Vaksin COVID-19: Haruskah Kita Takut pada ADE?” http://bit.ly/3sKn8oQ (Google Translate) / https://archive.md/jTRFl (arsip cadangan).

[5] turnbackhoax.id: “[SALAH] Tangkapan Layar Video CNN Memberitakan Rakyat akan dibunuh oleh Vaksin dari Tiongkok” https://bit.ly/3c6UKrc / https://archive.md/JSqMH (arsip cadangan).