[SALAH] “VAKSINASI PRESIDEN HARUS DIULANG DAN HATI-HATI DENGAN VAKSINASI”

FAKTANYA, menyuntik TIDAK harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular. Mengenai reaksi ADE, penyakit virus corona pada manusia TIDAK memiliki atribut klinis, epidemiologis, biologis, atau patologis dari penyakit ADE.

Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Konten yang Menyesatkan.

======

SUMBER

Pesan berantai WhatsApp.

======

NARASI

“VAKSINASI PRESIDEN HARUS DIULANG DAN HATI-HATI DENGAN VAKSINASI

Injeksi vaksin Sinovac, harusnya intramuskular ( menembus otot). Untuk itu, penyuntikkan harus lah dilakukan dengan tegak lurus (90 derajat). …

Pada akhirnya demi rasa kasih sesama manusia dan untuk tidak dimurkai Tuhan sebagai orang-orang yang menyembunyikan ilmunya, maka saya menasihatkan anda untuk mengecek rapid antibody sebelum mengulang vaksin yang gagal itu. Hal itu untuk mencegah terjadinya reaksi Antibody Dependent Enhacement( ADE ). …”

(Salinan narasi selengkapnya di bagian CATATAN).

======

PENJELASAN

(1) First Draft News: “Konten yang Menyesatkan

Penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu atau individu”.

* SUMBER mengedarkan opini yang tidak berdasarkan fakta dan uji klinis sehingga menyebabkan kesimpulan yang keliru.


(2) Beberapa artikel yang berkaitan,

* Suara.com: “Ketua PB IDI dr Daeng Mohammad Faqih mengatakan, tulisan tersebut merupakan suatu opini dari penulis dan bukan berdasarkan data serta kajian ilmiah. …

Terkait reaksi ADE yang bisa muncul usai vaksinasi virus Corona, lagi-lagi dibantah oleh dr Daeng.

dr Daeng menjelaskan bahwa vaksin Sinovac sudah diuji klinis oleh PT Bio Farma dan peneliti dari Universitas Padjajaran. Dalam hasil penelitian yang dilaporkan ke BPOM, tidak ditemukan adanya reaksi tersebut.

“Maka sekali lagi saya tegaskan, itu hanya opini karena penulis tidak berdasarkan fakta dan uji klinis. Sehingga pendapat itu tidak boleh diikuti, tidak valid, dan tidak kredibel,” tambahnya.”

* REPUBLIKA.CO.ID: “Ketua Satgas Covid-19 IDI Zubairi Djoerban menegaskan, pendapat dari pesan berantai tersebut tidak benar. “Menyuntik itu tidak harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular,” kata Zubairi kepada Republika.co.id, Ahad (17/1).

“Secara teoritis memang logikanya dalam urutannya kulit, subkutan di bawah kulit, lalu masuk ke otot. Kata orang yang komentar, jika posisinya miring tidak masuk ke otot, tapi ternyata tidak seperti itu,” kata dia.

Menurut dia, ada penelitian yang membantah terkait injeksi intramuskular. Penelitian berjudul “Mitos Injeksi Intramuskular Sudut 90 Derajat” ditulis oleh DL Katsma dan R Katsma dan diterbitkan di National Library of Medicine pada edisi Januari-Februari 2000.”

* detikHealth: “”Fenomena ADE ini sudah diselidiki pada percobaan preklinis kandidat vaksin SARS-CoV-2 dan dinyatakan aman,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (12/10/2020).

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 Unpad ini menyatakan fenomena ADE sejauh ini baru terlihat pada dengue. Fenomena ADE pada kasus MERS, SARS, Ebola, dan HIV pun juga hanya ditemukan in silico (simulasi komputer) dan in vitro (percobaan di cawan petri laboratorium).

“Tidak menggambarkan fenomena di manusia,” katanya”.


(3) Referensi yang berkaitan,

* PubMed: “Artikel ini menunjukkan bahwa buku teks persyaratan sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular tidak realistis. Trigonometri menunjukkan bahwa suntikan yang diberikan pada 72 derajat mencapai 95% dari kedalaman suntikan yang diberikan pada derajat 90. Hubungan antara sudut jarum dan kedalaman jarum, penelitian sebelumnya tentang kinematika gerakan tangan selama injeksi intramuskular, dan pertimbangan praktis lainnya mendukung proposal untuk standar baru yang lebih santai: Injeksi intramuskular yang diberikan pada sudut nyaman antara 72 derajat dan 90 derajat.”

* PubMed: “Mungkinkah vaksin COVID-19 membuat manusia peka terhadap infeksi terobosan yang bergantung pada antibodi (ADE)? Ini tidak mungkin karena penyakit virus corona pada manusia tidak memiliki atribut klinis, epidemiologis, biologis, atau patologis dari penyakit ADE yang dicontohkan oleh virus dengue (DENV). Berbeda dengan DENV, SARS dan MERS CoVs terutama menginfeksi epitel pernapasan, bukan makrofag. Penyakit parah berpusat pada orang tua dengan kondisi yang sudah ada sebelumnya dan bukan pada bayi atau individu dengan infeksi virus corona sebelumnya. Tantangan virus hidup pada hewan yang diberi vaksin SARS atau MERS menghasilkan reaksi hipersensitivitas vaksin (VAH), serupa dengan yang terjadi pada manusia yang diberi vaksin campak atau virus pernapasan yang tidak aktif. Vaksin COVID-19 yang aman dan efektif harus menghindari VAH.”


(4) Sumber lain yang berkaitan,

* Zubairi Djoerban @ Twitter:

“Penelitian itu ditulis oleh DL Katsma dan R Katsma, yang diterbitkan di National Library of Medicine pada edisi Januari-Februari 2000. Intinya, persyaratan sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular itu tidak realistis.”

“Jawabannya: kan tidak terbukti di uji klinis satu, dua dan tiga bahwa ADE itu terjadi pada vaksin Sinovac. Dulu pernah diduga terjadi pada vaksin demam berdarah. Saya enggak tahu bagaimana perkembangannya lagi. Silakan dicek.”

* Jurnal Penyakit Dalam Indonesia, Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia:

“Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban
https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=23472548200
Divisi Hematologi-Onkologi Medik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI-RSCM, Jakarta, Indonesia”.

* Scopus:

“Djoerban, Zubairi
University of Indonesia, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumodisabled, Jakarta, Indonesia”.

======

REFERENSI

(1) firstdraftnews.org: “Berita palsu. Ini rumit.” http://bit.ly/2MxVN7S (Google Translate), http://bit.ly/2rhTadC.

(2) suara.com: “Dokter dari Cirebon Sebut Vaksinasi Presiden Gagal, PB IDI Angkat Bicara” http://bit.ly/39SAs1D / https://archive.md/aF9PP (arsip cadangan).

(3) republika.co.id: “Benarkah Suntik Vaksin Presiden Jokowi Harus Diulang?” http://bit.ly/3iw9b9c / https://archive.md/l9qXs (arsip cadangan).

(4) detik.com: “Pakar Sebut Fenomena ADE pada Kandidat Vaksin COVID-19 Aman” https://bit.ly/3p65BVZ / https://archive.md/tr32j (arsip cadangan).

(5) nih.gov: “Mitos injeksi intramuskular sudut 90 derajat” http://bit.ly/3qCpC6M (Google Translate) / https://archive.md/x3UW4 (arsip cadangan).

(6) nih.gov: “Vaksin COVID-19: Haruskah Kita Takut pada ADE?” http://bit.ly/3sKn8oQ (Google Translate) / https://archive.md/jTRFl (arsip cadangan).

(7) twitter.com/ProfesorZubairi, https://bit.ly/3o4YwmY / https://archive.md/sG2EK (arsip cadangan).

(8) jurnalpenyakitdalam.ui.ac.id: “Prof. Dr. dr. Zubairi Djoerban” http://bit.ly/2MbkasM / https://archive.md/5q5jg (arsip cadangan).

(9) scopus.com: “Djoerban, Zubairi” https://bit.ly/2M5eKPT / https://archive.md/PbHZ9 (arsip cadangan).

======

CATATAN

* Salinan narasi lengkap oleh SUMBER,

“VAKSINASI PRESIDEN HARUS DIULANG DAN HATI-HATI DENGAN VAKSINASI

Bismillaahirrohmaanirrohiim,

Cirebon Indonesia, 14 Januari 2021

Kepada

Yth : Presiden Republik Indonesia 

Ir. H. Joko Widodo 

Di tempat 

Salam Vaksinasi, 

Hari ini, saya melihat anda divaksinasi. Setelah melihat berkali-kali video itu dan berdiskusi dengan para dokter serta para perawat senior, maka saya menyimpulkan bahwa vaksinasi yang anda lakukan adalah gagal. Atau anda belum divaksinasi. Alasannya adalah 

Injeksi vaksin Sinovac, harusnya intramuskular ( menembus otot). Untuk itu, penyuntikkan harus lah dilakukan dengan tegak lurus (90 derajat). Dan memakai jarum suntik untuk ukuran volume minimal 3 cc ( spuit 3cc ). Tetapi yang menyuntik anda tadi siang memakai spuit 1cc dan tidak tegak lurus 90 derajat. Hal tersebut menyebabkan vaksin tidak menembus otot sehingga tidak masuk kedalam darah. Suntikan vaksin yang dilakukan pada anda tadi siang hanyalah sampai di kulit ( intrakutan ) atau dibawah kulit ( sub kutan ). Dan itu berarti vaksin tidak masuk ke darah. 

 Pabrik vaksin Sinovac telah membuat zat vaksin tersebut, hanya bisa masuk ke darah bila disuntikkan dengan cara intramuskular. Penyuntikkan dikulit i(ntrakutan) atau dibawah kulit ( subkutan) tidak akan menyebabkan vaksin tersebut masuk ke dalam darah. Kalaupun dapat masuk, hanyalah sedikit sekali. Lain halnya bila vaksin atau obat itu di desain untuk tidak disuntikkan secara intramuskular. Misalnya menyuntikkan insulin. Injeksi insulin harus dilakukan secara subkutan. 

Selain itu, setelah menonton berkali-kali, saya melihat bahwa masih ada vsksin yang tertinggal  pada spuit tersebut. Atau tidak seluruh vaksin disuntikkan. 

Satu orang lagi, yang saya lihat menjalani vaksinasi adalah Raffi Ahmad. Penyuntikkan dengan sudut 90 derajat sudah benar. Dan vaksin dalam spuit telah habis dikeluarkan semuanya. Tetapi karena yang digunakan spuit 1cc, maka sudah pasti spuit tersebut tidak dapat menembus otot Raffi Ahmad. Atau Raffi Ahmad pun harus mengulang vaksinasi COVID-19 seperti juga anda. 

Bapak Presiden RI yang terhormat, 

Dengan dasar apa yang dituliskan diatas, wajib bagi anda untuk secepatnya divaksin lagi. Sebab vaksin Sinovac mewajibkan diulanginya suntikan vaksin setelah 1 Bulan suntikan pertama. Atau harus dua kali suntikan vaksin, supaya timbul respon imunitas dari tubuh. Dengan diulanginya vaksinasi yang gagal hari ini, maka jelas bagi anda, kapan lagi jadwal vaksinasi yang ke dua. Hal itu sangat penting bagi anda, bila memang anda meyakini bahwa vaksinasi COVID-19 dengan vaksin Sinovac, memang bermanfaat untuk terhindar dari serangan COVID-19. 

Bapak Presiden RI yang terhormat,

Contoh teladan seperti yang saya tuliskan diatas, diharapkan akan menambah semangat dan kepercayaan bawahan anda serta seluruh rakyat Indonesia akan manfaat vaksinasi COVID-19. 

Pada akhirnya demi rasa kasih sesama manusia dan untuk tidak dimurkai Tuhan sebagai orang-orang yang menyembunyikan ilmunya, maka saya menasihatkan anda untuk mengecek rapid antibody sebelum mengulang vaksin yang gagal itu. Hal itu untuk mencegah terjadinya reaksi Antibody Dependent Enhacement( ADE ). Dimana bila hal itu terjadi, maka virus-virus mati yang berada dalam vaksin Sinovac itu, akan dengan mudah masuk kedalam sel-sel organ penting anda ( jantung,otak,ginjal ). Dan bila itu terjadi maka bisa saja menyebabkan kerusakan organ-organ vital tersebut bahkan kematian. Betapapun para ahli mengatakan kemungkinan untuk terjadinya reaksi ADE akibat vaksinasi Sinovac adalah kecil. Pada pandangan saya,tidak ada salahnya bila seseorang yang mampu, untuk melakukan cek rapid antibody sebelum dilakukan vaksinasi Sinovac. Bila rapid Antibody negatif, maka aman untuk divaksinasi. Tetapi bila positif sebaiknya batalkan vaksinasi Sinovac itu. Karena seperti surat yang pernah saya kirimkan dulu kepada anda, bahwa vaksin Sinovac adalah vaksin terlemah dalam menimbulkan respon imunitas dari 10 vaksin unggulan WHO. Maka tanpa disuntikkan vaksin Sinovac pun tidaklah masalah. Karena kita telah mempunyai antibody terhadap virus COVID-19 itu ( rapid test antibody positif ).

Saran saya yang lain lagi adalah cukuplah anda 3x saja menjadi contoh sebagai orang pertama yang disuntik vaksin ( 1x gagal, 1x mengulang kegagalan dan 1x lagi booster,  1 bulan setelah suntikan mengulang kegagalan itu ).

Kenapa hal tersebut saya katakan ?. 

Karena, vaksinasi COVID-19 harus dilakukan booster berulang kali. Disebabkan, berdasarkan penelitian, respon imunitas yang dihasilkan akibat vaksinasi COVID-19, paling lama adalah 3-4 Bulan. Dan maksimal adalah 6 Bulan. Karena itulah vaksinasi COVID-19 harus diulang-ulang terus. Minimal 2x dalam 1 Tahun. 

Mengulang-ulang vaksinasi ( entah sampai kapan) selain menyebabkan kemungkinan ADE seperti yang saya tuliskan diatas, juga dapat menyebabkan kemungkinan masuknya virus mati ( Sinovac dan Sinopharm ) atau bagian protein dari virus tersebut ( seperti vaksin-vaksin lainnya ) untuk masuk kedalam sel-sel organ dalam kita ( jantung, usus, ginjal, mata,  pembuluh darah, dsb ) Hal itu dapat terjadi karena sebagian besar sel-sel organ dalam kita mempunyai enzim ACE2 pada permukaan membran nya. Dan enzim tersebut memudahkan virus hidup COVID-19, virus mati atau bagian protein COVID-19 itu, untuk masuk ke sel organ-organ penting kita. Dan bila itu terjadi, reaksi yang berbahaya yang menyebabkan cacatnya organ-organ tersebut dapat terjadi. Sebagai seorang Presiden, anda harus diselamatkan terlebih dahulu ketimbang bawahan atau rakyat anda. Itulah alasan kenapa saya menyarankan cukuplah 3x saja anda menjadi orang yang pertama kali disuntik vaksin Sinovac. 

Demikian surat saya. Bila surat ini penting menurut anda, maka silakan menyebarluaskannya pada bawahan anda dan seluruh rakyat Indonesia. Termasuk juga MUI. Fatwa haram, wajib, atau makruh, tentang vaksinasi COVID-19 beserta booster-boosternya harus dikatakan juga. Bukan hanya halal dan suci saja. 

Salam Vaksinasi 

dr. Taufiq Muhibbuddin Waly Sp.PD.”