[SALAH] Presentase Bunuh Diri Naik 200% Selama Lockdown

Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga)

Klaim tersebut tidak benar. Tidak ada bukti dan statistik valid yang menunjukkan adanya kenaikan 200% baik dari pernyataan para ahli maupun lembaga kesehatan mental.

Selengkapnya baca di PENJELASAN dan REFERENSI.

====

KATEGORI: KONTEN PALSU

====

SUMBER: Instagram

https://www.instagram.com/p/CHnyAlNBuTd/

http://archive.today/uuSlk

====

NARASI:

“Let’s love one another and be there for each other. Above all else love people. Make sure they know it. Send someone you haven’t spoken to in a while a text, tell someone you assume knows you love them, that you love them! I love you all!! Yes it’s possible to love so many. I promise.”

(Tulisan dalam gambar)

Suicide figures are up 200% since lockdown. Could 2 friends please screen shot and respost? We’re trying to demonstrate that someone is always listening.

Call 1-800-273-8255

(USA hotline)

Just two. Any two.

Terjemahan:

“Marilah saling mencintai dan ada untuk satu sama lain. Mencintai sesama adalah yang terpenting. Pastikan mereka mengetahuinya. Kirimkan pesan kepada seseorang yang sudah lama tidak anda ajak bicara, beri tahu seseorang yang anda anggap dia tahu anda mencintainya, bahwa Anda mencintai mereka! Aku cinta kalian semua!! Ya, mungkin mencintai begitu banyak orang. saya berjanji.”

(Tulisan dalam gambar)

Angka bunuh diri naik 200% sejak lockdown. Bisakah 2 teman men-screenshot dan membagikannya? Kami mencoba menunjukkan bahwa seseorang akan selalu mendengarkan.

Hubungi 1-800-273-8255

(Hotline AS)

Hanya dua. Dua saja.

====

PENJELASAN:

Akun bernama @mkurian mengunggah sebuah postingan pada tanggal 15 November 2020 dan mendapat likes sebanyak 1,564. Dalam postingan tersebut dinyatakan bahwa adanya kenaikan angka bunuh diri sebanyak 200% selama lockdown, namun tidak disertai penjelasan lebih lanjut wilayah/region mana yang mengalami kenaikan sebanyak 200%. Postingan dengan gambar serupa juga diunggah oleh oleh akun Instagram selebritas Amerika Kris Jenner dan mendapat likes sebanyak 137,817.

Klaim tersebut tidak benar. Sampai saat ini tidak ada bukti dan data statistik valid yang menunjukkan adanya kenaikan angka bunuh diri hingga 200%.

Rajeev Ramchand sebagai penasihat senior untuk Epidemiologi psikiatri dan pencegahan bunuh diri The National Institute of Mental Health, Amerika menyatakan langsung kepada agensi berita AFP bahwa belum ada data nasional di Amerika yang meringkas terkait jumlah kematian akibat bunuh diri, keinginan bunuh diri, atau jumlah orang yang berkeinginan bunuh diri selama pandemi. Ia menambahkan, bahwa menghitung angka kematian bunuh diri membutuhkan waktu lama untuk diidentifikasi.

“….typically we do not have national data on suicide deaths for 13 months until after the end of the calendar year” (biasanya kami tidak memiliki data nasional tentang kematian akibat bunuh diri selama 13 bulan, hingga setelah kalender akhir tahun). Hal ini berarti data mengenai angka kematian akibat bunuh diri selama pandemi di wilayah Amerika Serikat tidak tersedia hingga Januari 2022.

Studi mengenai tingkat bunuh diri yang dilakukan secara global oleh para ahli juga tidak membuktikan adanya kenaikan hingga 200%.

Dalam jurnal kedokteran Inggris The BMJ berjudul “Trends in suicide during the covid-19 pandemic” oleh Ann John dkk, diterbitkan pada 12 November 2020, mengungkapkan bahwa laporan hasil studi secara global memprediksi adanya kenaikan angka bunuh diri dalam rentang 1% hingga 145%. Selain itu, data literatur mengenai efek pandemi terhadap bunuh diri yang telah dikumpulkan dan direview dalam beberapa bulan belum dapat disimpulkan, karena sebagian besar publikasi belum melalui peer-review, pracetak, dan datanya berasal dari warta berita.

Lebih lanjut, hasil laporan mengenai angka bunuh diri di negara berpenghasilan tinggi yakni Amerika, Inggris, Australia, Norwegia dan Jepang cenderung stabil. Di awal bulan terjadinya pandemi tidak ada peningkatan bunuh diri di Amerika, Inggris, Australia serta penurunan angka bunuh diri di Norwegia dan Jepang. Pun di negara berpenghasilan rendah yang rentan gejolak emosi karena kesulitan ekonomi seperti Peru malah mengalami penurunan angka bunuh diri.

Pandemi COVID-19 memang memberikan dampak masalah pada psikis dan emosional. Namun, tidak satupun data yang bersumber dari para ahli di bidang kesehatan dan pencegahan bunuh diri mengungkapkan adanya kenaikan angka bunuh diri sebanyak 200% baik wilayah Amerika Serikat maupun secara global. Sehingga, klaim dalam postingan tersebut adalah HOAX dan termasuk kategori KONTEN PALSU.

====

REFERENSI:

https://factcheck.afp.com/claims-pandemic-spike-suicides-are-not-backed-data

https://leadstories.com/hoax-alert/2020/11/fact-check-suicide-rate-has-not-increased-200-percent-since-lockdown.html

https://www.bmj.com/content/371/bmj.m4352?int_source=trendmd&int_medium=cpc&int_campaign=usage-042019