[SALAH] Virus ini punya obat Hydroxychloroquine, Zinc dan Zithromax

Hasil Periksa Fakta Riza Dwi M (Anggota Tim Kalimasada Solo)

Informasi tersebut menyesatkan. WHO dan beberapa lembaga lain menangguhkan penggunaan hydroxychloroquine untuk mengobati COVID-19 karena belum teruji klinis.

======
[KATEGORI]: KONTEN YANG MENYESATKAN
======

NARASI:
Akun @teluuur mengunggah video konferensi pers dokter amerika mengenai COVID-19, dengan narasi “Dokter² Amerika Ini Buka Suara Melawan Wehao. Download sekarang sebelum di-takedown, nontonnya nanti aja!”

Di video itu, salah satunya ada klaim dari dokter Stela Immanuel sebagai berikut;

“This virus has a cure. It is called hydroxychloroquine, zinc and Zithromax. I know you people want to talk about a mask. Hello? You don’t need [a] mask. There is a cure. I know they don’t want to open schools. No, you don’t need people to be locked down. There is prevention and there is a cure.”
Jika diterjemahkan: Virus ini punya obat, yaitu hydroxychloroquine, zinc dan zithromax. Saya tahu orang orang akan membicarakan tentang masker. Halo? Kalian tidak memerlukan masker. Sudah ada obatnya. Saya tahu mereka tidak ingin membuka sekolah. Tidak, kalian tidak perlu membatasi orang. Ada pencegahan dan ada obatnya.

======
[SUMBER]: Instagram ( https://archive.md/sHeNA)
======

PENJELASAN

Setelah ditelusuri https://leadstories.com/ ternyata telah membuat debunk atas video yang berdurasi 45 menit ini. Video yang sudah di takedown di beberapa platform, antara lain youtube, facebook dan twitter ini banyak mengandung klaim palsu dan menyesatkan. Salah satunya klaim dari dokter Stela Immanuel, tentang hydroxychloroquine, zinc dan zithromax obat COVID-19.

Hal itu bertentangan dengan penjelasan ahli Global yang mengatakan bahwa tidak ada obat untuk Coronavirus. Mereka juga menekankan pentingnya memakai masker untuk mengurangi penyebaran virus ini.

WHO mengatakan “tidak ada obat-obatan yang telah ditemukan untuk mencegah atau menyembuhkan penyakit ini. ” WHO juga tidak merekomendasikan pengobatan sendiri dalam upaya untuk mencegah atau menyembuhkan Coronavirus.

Dalam konferensi Stela Immanuel mengutip penelitian pada tahun 2005, yang berjudul Chloroquine is a potent inhibitor of SARS coronavirus infection and spread. Chloroquine memang dapat mencegah penyebaran SARS Cov di kultur sel. namun COVID-19 ini berbeda dengan SARS Cov, Chloroquine juga berbeda dengan hydroxychloroquine serta kultur sel berbeda dengan manusia.

National Institute of Health (NIH) pada 20 Juni lalu juga menghentikan uji klinis dari chloroquine, untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas hydroxychloroquine. Begitu pula FDA bulan Juli lalu juga memperingatkan terhadap penggunaan hydroxychloroquine untuk COVID-19 diluar uji klinis atau rumah sakit pengaturan , mengutip risiko masalah irama jantung. FDA juga mencabut otorisasi penggunaan darurat untuk hydroxychloroquine.

Dengan begitu, berdasarkan kategori Misinformasi dan Disinformasi dari First Draft, unggahan akun @teluuur mengenai konferensi pers dokter amerika ini termasuk dalam kategori konten yang menyesatkan atau misleading content.

======
REFERENSI:
https://leadstories.com/hoax-alert/2020/07/fact-check-hydroxychloroquine-zinc-and-Zithromax-are-not-a-cure-for-COVID-19.html
https://virologyj.biomedcentral.com/articles/10.1186/1743-422X-2-69
https://www.nih.gov/news-events/news-releases/nih-halts-clinical-trial-hydroxychloroquine

About Adi Syafitrah 869 Articles
Pemeriksa Fakta Mafindo