[BENAR] Dianggap Lecehkan Guru, Iklan Hago Diprotes

Klarifikasi dari Hago: “Tidak ada niat dari kami beserta tim untuk menggambarkan suatu profesi dengan tidak sepantasnya. Konten terkait sudah kami hapus dari seluruh kanal resmi kami dan kami akan melakukan evaluasi proses internal sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang”, selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Klarifikasi.

======

SUMBER

http://bit.ly/2Yv48dU, post ke grup “Komunitas Bisa Menulis” (facebook.com/groups/KomunitasBisaMenulis) oleh akun “Rina Maruti” (facebook.com/rina.mw), sudah dibagikan 7,215 kali per tangkapan layar dibuat.

======

NARASI

“…

Jadi, itukah yang diinginkan oleh pemerintah kita dalam pembentukan karakter anak-anak kita di sekolah? Sudah di rumahnya sulit dikontrol oleh orangtuanya, ehh … di sekolah sekarang malah didukung bermain games online dan akan masuk kurikulum.

Trus nanti guru-gurunya bakal ada diklat games online dong? Apa guru-guru import itu yang akan ngajarin cara bermain games online yang baik dan benar supaya anak-anak kita sukses jadi pecandu gadget?

…”

(Salinan narasi selengkapnya di (3) bagian REFERENSI).

======

PENJELASAN

(1) Klarifikasi dari Hago: “PERNYATAAN RESMI BERKAITAN DENGAN KONTEN IKLAN HAGO

Pelajaran Berharga Untuk Melangkah ke Depan

13 Mei 2019, Kami mendengar Anda, terima kasih untuk masukannya, dan kami meminta maaf. Tidak ada niat dari kami beserta tim untuk menggambarkan suatu profesi dengan tidak sepantasnya. Konten terkait sudah kami hapus dari seluruh kanal resmi kami dan kami akan melakukan evaluasi proses internal sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Ide dari iklan ini adalah menggambarkan bahwa bermain game dapat membantu semua orang, dari berbagai latar belakang untuk membangun hubungan dan interaksi sosial yang menyenangkan. Kami sadar, pesan ini tidak tersampaikan secara baik.

Seiring dengan berkembangnya perusahaan, ada kalanya kami melakukan kesalahan dan kami akan belajar dari pengalaman tersebut. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait, terutama masukan dari publik, yang membantu kami untuk terus belajar menjadi lebih baik guna mampu memberikan pengalaman terbaik kepada pengguna

Cyra Capanzana, Hago Business Development Director for SEA”.

——

(2) Mengenai “guru-guru import” yang disebutkan di narasi: “Jika berhenti hanya di judul yang belakangan direvisi, memang akan menimbulkan salah pengertian. Selain itu sudah diklarifikasi oleh Mendikbud bahwa mendatangkan guru dari luar adalah untuk melatih guru lokal”.

Selengkapnya di bagian REFERENSI di post sebelumnya di http://bit.ly/2WIS88b.

======

REFERENSI

(1) http://bit.ly/2JGOZCj detikNews: “Selasa 14 Mei 2019, 13:10 WIB

Viral, Iklan Hago Diprotes Gara-gara Dianggap Lecehkan Guru

Tim detikcom – detikNews

(foto)
Ilustrasi (Rachman Haryanto/detikcom)

Jakarta – Protes berdatangan atas munculnya iklan dari perusahaan game Hago. Salah satunya dari Ikatan Alumni UNJ (IKA Alumni UNJ), yang menganggap iklan tersebut melecehkan profesi guru.

Iklan tersebut awalnya memperlihatkan sosok seorang guru yang menghukum salah satu siswa dan ditakuti siswa lain. Kemudian datang seorang siswa yang terlambat. Bukannya marah, guru ini justru mempersilakan siswa yang telat untuk duduk, bahkan membawakan tasnya. Belakangan, ada adegan guru itu bermain game bersama siswa yang telat.

Dalam pernyataannya, IKA UNJ menegaskan guru adalah sosok yang menjadi teladan bagi peserta didik sehingga kerap disebut sebagai sosok yang patut untuk ‘digugu dan ditiru’. Guru dianggap memiliki kewajiban dapat berperilaku baik yang dapat menjadi teladan dan diikuti para peserta didiknya.

“Melihat iklan Hago yang viral di media sosial, Ikatan Alumni UNJ (IKA UNJ) menganggap dan patut menduga iklan tersebut sudah melecehkan profesi guru. Karena sosok guru di video tersebut menunjukkan bukan sosok guru yang dapat digugu dan ditiru,” kata Ketua Umum IKA UNJ, Juri Ardiantoro, seperti dikutip dari situsnya, Selasa (14/5/2019).

Menurut IKA UNJ, ada dua indikasi iklan tersebut melecehkan profesi guru. Pertama, guru di iklan menunjukkan sikap diskriminatif yang sangat bertentangan dengan prinsip dasar pendidikan. Kedua, guru di iklan tidak menunjukkan sikap yang membangun sikap rajin belajar para siswa, bahkan sebaliknya, mengajarkan untuk asyik bermain game.

“Berdasarkan dua hal pokok di atas, kami pengurus IKA UNJ menyatakan keberatan adanya iklan Hago di media sosial karena dapat merusak citra guru dan membuat peserta didik malas belajar. Kami meminta manajemen Hago atau siapa pun pembuat iklan Hago untuk segera menarik dan menghapus iklan Hago tersebut serta manajemen Hago meminta maaf kepada publik melalui media cetak dan daring,” paparnya.

Ada pula beberapa petisi online yang memprotes iklan Hago ini. Salah satu petisi yang dibuat Muhammad Habibie telah diteken lebih dari 8.000 kali.

Di Facebook, salah satu netizen yang memprotes iklan Hago ini mengaku telah dikontak oleh manajemen. Manajemen Hago memberi pernyataan berisi permintaan maaf dan penarikan iklan tersebut.

Berikut ini pernyataan dari Hago:

PERNYATAAN RESMI BERKAITAN DENGAN KONTEN IKLAN HAGO

Pelajaran Berharga Untuk Melangkah ke Depan

13 Mei 2019, Kami mendengar Anda, terima kasih untuk masukannya, dan kami meminta maaf. Tidak ada niat dari kami beserta tim untuk menggambarkan suatu profesi dengan tidak sepantasnya. Konten terkait sudah kami hapus dari seluruh kanal resmi kami dan kami akan melakukan evaluasi proses internal sehingga hal tersebut tidak terjadi lagi di masa mendatang.

Ide dari iklan ini adalah menggambarkan bahwa bermain game dapat membantu semua orang, dari berbagai latar belakang untuk membangun hubungan dan interaksi sosial yang menyenangkan. Kami sadar, pesan ini tidak tersampaikan secara baik.

Seiring dengan berkembangnya perusahaan, ada kalanya kami melakukan kesalahan dan kami akan belajar dari pengalaman tersebut. Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terkait, terutama masukan dari publik, yang membantu kami untuk terus belajar menjadi lebih baik guna mampu memberikan pengalaman terbaik kepada pengguna

Cyra Capanzana, Hago Business Development Director for SEA
(imk/tor)”.

——

(2) [SALAH] “GURU Mau DIIMPOR Juga”, post sebelumnya di http://bit.ly/2WIS88b.

——

(3) Salinan narasi selengkapnya: “Negeri Edan

Baru tadi subuh pas sahur iseng nyetel tipi. Lalu, ada sebuah iklan yang bikin kening saya berkerut dan pengen marah rasanya. Sebuah iklan yang gak pantes banget, pengen tau iklan apa? Iklan game online.

Baru aja kemarin saya ngeshare postingan tentang wacana menpora yang akan memasukan e-sport ke kurikulum, ehhh sahur tadi langsung ada iklannya yang berkaitan dengan dunia pendidikan. Begini iklannya:

Di sebuah kelas, terdapatlah seorang bapak guru yang digambarkan sebagai guru killer sedang menulis materi pelajaran di papan tulis. Semua siswa dengan terkantuk-kantuk terpaksa mengikutinya, sambil takut jika si guru marah kalau tidak diikuti mencatat materi tersebut. Tiba-tiba datanglah seorang siswa yang terlambat. Si guru killer tersebut langsung berubah ekspresinya, yang tadinya pasang tampang sok galak, tiba-tiba melunak. Lalu, segera menghampiri anak yang terlambat tersebut dengan sikap seperti seorang pembantu. Badannya dibungkukkan, tanda sangat menghormati murid tersebut, lalu tasnya ia bawakan. Dan si anak dipersilakan duduk di kursinya sambil dengan posisi membungkuk-bungkukkan badan seperti seorang jongos pada tuan mudanya.

Si anak dengan santainya duduk dengan “songong”nya, karena dagunya ia angkat, tanpa berkata apa-apa. Semua teman-temannya langsung melihat ke arahnya dengan mulut ternganga-nganga karena takjub, kok si guru killer bisa tunduk padanya. Pengen tau kenapa? Karena si anak itu jago maen games online dan si bapak guru itu lawan mainnya.

Ending iklannya: si anak songong itu main games online dengan guru sangar tersebut di taman sekolah.

Buat saya ini pelecehan banget untuk kami yang berprofesi sebagai pendidik.

Jadi, itukah yang diinginkan oleh pemerintah kita dalam pembentukan karakter anak-anak kita di sekolah? Sudah di rumahnya sulit dikontrol oleh orangtuanya, ehh … di sekolah sekarang malah didukung bermain games online dan akan masuk kurikulum.

Trus nanti guru-gurunya bakal ada diklat games online dong? Apa guru-guru import itu yang akan ngajarin cara bermain games online yang baik dan benar supaya anak-anak kita sukses jadi pecandu gadget?

Beginilah caranya menghancurkan bangsa ini dengan mudahnya. Hancurkan melalui anak-anak mudanya…

~ Rina Maruti ~”.

——

(4) http://bit.ly/2EaeurQ, arsip untuk cadangan.