[BENAR] “BMKG: Alat Pendeteksi Tsunami di Selat Sunda Hilang Sejak 2007”

Memang benar Buoy DART (Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis) Selat Sunda hilang sejak 2007, selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Klarifikasi.

======

SUMBER

(1) Pertanyaan dari salah satu anggota FAFHH.

——

(2) http://bit.ly/2EXfTDk 1cak(dot)com, sumber Meme yang ditanyakan.

======

NARASI

“Barbar People”

“TELAH HILANG ALAT PENGUKUR GELOMBANG DAN ARUS

HILANG DI PERAIRAN ANYER
(± 2KM LEPAS PANTAI HOTEL MARBELLA)
JUMAT, 24 AGUSTUS 2018

APABILA ADA YANG MENEMUKAN

HARAP MENGHUBUNGI:

HP : 081586570679 (Zairo) / 085216026017 (Gatot)”.

======

PENJELASAN

(1) Liputan6(dot)com: “Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Tiar Prasetya, mengatakan, alat pendeteksi tsunami (Buoy) untuk Perairan Selat Sunda, sudah lama hilang. Adapun alat tersebut merupakan milik Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT).”, selengkapnya di (1) bagian REFERENSI.

——

(2) http://bit.ly/2CDsomj, Wikipedia: “Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis

From Wikipedia, the free encyclopedia

The Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis (officially abbreviated and trademarked as DART[1]) system is a component of an enhanced tsunami warning system.”

“Penilaian dan Pelaporan Lautan Dalam

dari Wikipedia, ensiklopedia gratis

Sistem Penilaian dan Pelaporan Tsunami dalam-laut (secara resmi disingkat dan diberi merek dagang sebagai DART [1] ) adalah komponen dari sistem peringatan tsunami yang ditingkatkan.”

Selengkapnya di (2) bagian REFERENSI.

——

(3) detikNews: “Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut ada 22 buoy tsunami yang rusak. Alat pendeteksi tsunami itu rusak sudah sejak 2012 silam. Apa penyebabnya?”, selengkapnya di (3) bagian REFERENSI.

======

REFERENSI

(1) http://bit.ly/2ETvK5W Liputan6(dot)com: “BMKG: Alat Pendeteksi Tsunami di Selat Sunda Hilang Sejak 2007

Putu Merta Surya Putra
24 Des 2018, 04:16 WIB

(foto)
Warga mencari barang yang tersisa pasca gelombang Tsunami Anyer di Tanjung Lesung Resort, Pandeglang, Banten (23/12). BNPB mencatat hingga Minggu, pukul 16.00 WIB 222 orang meninggal dunia, 843 luka-luka dan 28 orang hilang. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Tiar Prasetya, mengatakan, alat pendeteksi tsunami (Buoy) untuk Perairan Selat Sunda, sudah lama hilang. Adapun alat tersebut merupakan milik Badan Pengembangan dan Penerapan Teknologi (BPPT).

“11 tahun yang lalu sejak 2007, enggak tahu kemana. Buoy itu dari BPPT,” kata Tiar di kantornya, Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Dia menuturkan, sampai sekarang Buoy tersebut belum terpasang di Selat Sunda. Dirinya mengatakan, memang pihaknya tak memiliki alat tersebut.

“Kita enggak punya mantau tsunami. Kalau mantau vulkanik itu ada di anak Krakatau dan itu PVMBG,” jelas Tiar.

Namun, dia menegaskan, meski Buoy banyak yang rusak dan tak dipasang di perairan Indonesia, pihaknya selalu berusaha menyampaikan peringatan dini tsunami dilakukan secepat mungkin.

“Ada atau tidak ada Buoy, kalau ada gempa dan kita yakin potensi tsunami kurang dari 5 menit kita berikan warning ke masyarakat,” tukas Tiar.

Perintah Perbaikin Alat

(foto)
Sebuah mobil terseret pasca gelombang Tsunami Anyer di Tanjung Lesung Beach Resort, Pandeglang, Banten (23/12). BNPB mencatat hingga Minggu, pukul 16.00 WIB 222 orang meninggal dunia, 843 luka-luka dan 28 orang hilang. (merdeka.com/Arie Basuki)

Sebelumnya, pasca tsunami di Palu, Presiden Jokowi memerintahkan kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) agar memperbaiki alat pendeteksi gelombang pasang dan tsunami (Buoy).

“Saya perintahkan agar alat ini diperbaiki kemudian diawasi dan dijaga karena itu alat yang sangat penting dalam mendeteksi kejadian yang akan sangat terjadi,” kata Jokowi.

Dia juga meminta kepada semua pihak agar menjaga alat tersebut. Sebab pengamanan alat-alat tersebut berguna untuk mendeteksi gelombang tsunami.

“Kita juga memerlukan kesadaran bersama masyarakat, kita semua agar alat-alat seperti itu tidak dirusak atau tidak diambil karena alat ini sangat berguna sekali,” ungkap Jokowi.”

——

(2) “Penilaian dan Pelaporan Lautan Dalam

dari Wikipedia, ensiklopedia gratis

Sistem Penilaian dan Pelaporan Tsunami dalam-laut (secara resmi disingkat dan diberi merek dagang sebagai DART [1] ) adalah komponen dari sistem peringatan tsunami yang ditingkatkan.

Stasiun

Setiap stasiun DART terdiri dari pelampung permukaan dan paket perekaman tekanan dasar laut ( BPR ) yang mendeteksi perubahan tekanan yang disebabkan oleh tsunami . Pelampung permukaan menerima informasi yang ditransmisikan dari BPR melalui tautan akustik dan kemudian mentransmisikan data ke satelit, yang mentransmisikan kembali data tersebut ke stasiun darat untuk disebarluaskan segera ke Pusat Peringatan Tsunami NOAA, Pusat Pelampung Data Nasional NOAA, dan Laboratorium Lingkungan Laut NOAA ( Pacific Marine Environment Laboratory). PMEL). Jaringan telepon satelit komersial Iridium digunakan untuk komunikasi antara 31 pelampung. [2]

Ketika perangkat lunak di dalam kapal mengidentifikasi kemungkinan tsunami, stasiun meninggalkan mode standar dan mulai mentransmisikan dalam mode peristiwa. Dalam mode standar, stasiun melaporkan suhu dan tekanan air (yang dikonversi ke ketinggian permukaan laut) setiap 15 menit. Pada awal mode acara, pelampung melaporkan pengukuran setiap 15 detik selama beberapa menit, diikuti oleh rata-rata 1 menit selama 4 jam. [3]

Stasiun DART I generasi pertama memiliki kemampuan komunikasi satu arah, dan hanya mengandalkan kemampuan perangkat lunak untuk mendeteksi tsunami untuk memicu mode peristiwa dan transmisi data yang cepat. Untuk menghindari kesalahan positif, ambang pendeteksian ditetapkan relatif tinggi, menghadirkan kemungkinan bahwa tsunami dengan amplitudo rendah dapat gagal memicu stasiun.

DART II generasi kedua dilengkapi untuk komunikasi dua arah, memungkinkan peramal tsunami untuk menempatkan stasiun dalam mode kejadian untuk mengantisipasi kedatangan tsunami.”

(Google Translate, selengkapnya di http://bit.ly/2GTZJO2).

——

(3) http://bit.ly/2EXYPyf detikNews: “Sabtu 16 Desember 2017, 20:50 WIB

Alat Deteksi Tsunami RI Tak Berfungsi, Ini Penyebabnya

Indra Komara – detikNews

(foto)
BNPB Jelaskan Kondisi Gempa Tasikmalaya Foto: Rengga Sancaya/detikFoto

Jakarta – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, menyebut ada 22 buoy tsunami yang rusak. Alat pendeteksi tsunami itu rusak sudah sejak 2012 silam. Apa penyebabnya?

Sutopo mengatakan selain kerusakan secara teknis, buoy tsunami yang dipasang di laut tidak bisa digunakan karena adanya aksi pengrusakan.

“Karena vandalism. Lampu diambil, sensor rusak, dan kerusakan teknis lain. Kadang di tengah samudera dipakai untuk tambatan kapal,” katanya usai jumpa pers di Graha BNPB, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (16/12/2017).

Meski demikian, dia menyebut deteksi dini tsunami masih bisa dilakukan. Salah satu caranya yakni melakukan pengamatan secara manual oleh petugas di pantai.

“Petugas mengamati tanda tsunami dengan cara melihat muka air. Kalau tidak ada air surut kecil kemungkinan terjadi tsunami,” ujarnya.

Sebagai upaya perbaikan, Sutopo menjelaskan, pihaknya akan melakukan pengembangan buoy tsunami. Buoy tsunami yang awalnya berada di permukaan laut akan ditempatkan di dasar laut.

“Upayanya nanti ada. Oleh karena itu buoy nantinya dikembangkan bukan dipermukaan tapi menggunakan jaringan sensor di dasar laut,” jelasnya.

Dia juga meminta kepada masyarakat untuk peduli tentang penanggulangan bencana. Terlebih meningkatkan pengetahuan alat kebencanaan hang seharusnya bisa dirawat bersama-sama.

“Pengetahuan itu belum menjadi sikap apalagi menjadi perilaku kehidupan sehari-hari. Itu yang menyebabkan peralatan kebencanaan banyak yang rusak. Bukan hanya di tsunami tapi di gunung api,seismograf gunung api hilang,” katanya lagi.
(hri/hri)”.

======

CATATAN

Fungsi bagian NARASI hanya untuk menyalin narasi oleh post SUMBER, bukan untuk diperdebatkan detilnya (misalnya: valid atau tidak valid nomer kontak yang ditulis).

======

Sumber: https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/807697249562812/