[SALAH] Meme Jokowi toast menggunakan Wine

Daur ulang disinformasi yang pernah diedarkan di 2015, yang diminum Jokowi adalah Jus Apel. Penggantian minuman beralkohol ke Jus Apel sudah dilakukan sejak era SBY, pengajuan lokasi penyelenggaraan acara di Indonesia juga dilakukan di era SBY. Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Disinformasi.

======

SUMBER

(1) Pertanyaan dari salah satu anggota FAFHH.

——

(2) Post ke grup “UNITED MUSLIM CYBER ARMY®” (facebook.com/groups/375664966265869) oleh akun “Aulya Zahra” (facebook.com/zahra.aulya.1420), sudah tidak bisa diakses per post ini disusun.

——

(3) http://bit.ly/2E6AFSf, post oleh akun “Arman Budiyono” (facebook.com/otong.belajarboedi), sudah dibagikan 9.191 kali per tangkapan layar dibuat.

——

(4) http://bit.ly/2RtSVro, post oleh akun-akun lainnya di Facebook (public posts).

——

(5) SuaraNasional: “Astaghfirullah, Para Pejabat di Era Jokowi Sosialisasi Manfaat Miras”, tautan ke artikel tidak disertakan agar tidak menambah traffic ke situs.

======

NARASI

“Bayangkan, Ratusan mobil mewah disiapkan,
Biaya Triliunan habis untuk menyambut para Delegasi IMF.
Disisi lain, rakyat korban bencana Palu disuruh menjarah!
Hebat Bapakmu, Bapak Mulyono!
#TegaNianPakMulyono”.

======

PENJELASAN

(1) http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S, First Draft News: “Konten yang Salah

Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”.

Selain mendaur ulang disinformasi yang sudah pernah diklarifikasi sebelumnya di 2015, post-post SUMBER juga menyebut penggunaan minuman keras padahal sebetulnya minuman sudah diganti dengan Jus Apel, sesuatu yang sudah dimulai sejak masa pemerintahan SBY.

——

(2) Beberapa artikel yang berhubungan:

* Teraslampung @ 21 Sep 2015: “Saking Bencinya Sama Jokowi, Jus Apel pun Dikabarkan Miras”, selengkapnya di (1) bagian REFERENSI.
* Detik @ 1 Nov 2012: “Wine Toast dengan Ratu Elizabeth, SBY Minum Jus Apel”, selengkapnya di (2) bagian REFERENSI.
* IDN TIMES: “Kubu Prabowo Kritik Pertemuan IMF di Bali, Menkeu Era SBY Angkat Suara”, selengkapnya di (3) bagian REFERENSI.
* Liputan6: “[Cek Fakta] Pejabat Sosialisasi Miras di Era Jokowi?”, selengkapnya di (4) bagian REFERENSI.

======

REFERENSI

(1) http://bit.ly/2zYkDWD, Teraslampung: “Saking Bencinya Sama Jokowi, Jus Apel pun Dikabarkan Miras

Oleh Teras Lampung – 21 September 2015 1351

(foto)
Air jus apel pun disebutnya miras oleh para pembenci Jokowi (net.ist).

BANDARLAMPUNG, Teraslampung,com –– Kebencian terhadap Presiden Joko Widodo, bagi sebagian warga negara Indonesia, tidak pernah berpindah dari hati dan “ubun-ubun”. Apa pun yang dilakukan Jokowi selalu saja dianggap salah. Jokowi pun jadi objek ledekan. Bila perlu, dibikinlah berita bohong untuk mengabarkan bahwa Jokowi memang tidak layak sebagai presiden.

Terakhir adalah kabar Presiden Jokowi mempromosikan miras dalan sebuah acara jamuan makan. Sampai hari ini (21 September 2015), kampanye busuk dengan judul “Astaghfirullah, Para Pejabat Era Jokowi Kampanyekan Manfat Miras” terus bergulir di dunia maya. Tulisan itu dimuat di media online suaranasional.com dan dishare secara masif oleh banyak orang di jejaring media sosial Facebook.

Benarkah berita itu? Mantan Kepala Bappenas dan dosen UI Andrinov Chaniago punya jawabannya. Andrinov mengaku persis detail suasana dalam foto yang menjadi ilustrasi kabar bohong itu.

Di akun Facebook-nya, pada Minggu (20/9) Andrinov menulis:

Masih saja terus disebarluaskan disertai dg kata2 hujatan foto Presiden Jokowi dan beberapa menteri serta tamu negara yg mengangkat gelas berisi minuman berwarna spt bir dg judul yg menyebut Presiden mempromosikan minum miniman beralkohol. Ini adalah kerja orang yg memfitnah dan mudah menyebarkan fitnah. Isi gelas itu adalah jus apple. Juru foto objek tsb pasti tahu itu. Wallahi, saya saksi. Dalam jamuan tamu asing Eropa atau Amerika memang diambil toas diplomatiknya (mengangkat gelas sbg tanda persahabatan). Tetapi, kalau di negara lain isinya bir atau minuman beralkohol, di Istana Negara isi gelas tsb adalah jus apple. Semoga tukang fitnah dan yg menyebarkan fitnah tobat. Semoga yg berniat berdakwah melakukannya seperti yg dilakukan Nabi.

Dewira/Oyos Saroso HN”.

——

(2) http://bit.ly/2PfcPVA, Detik: “Kamis 01 November 2012, 13:45 WIB

Laporan Dari London

Wine Toast dengan Ratu Elizabeth, SBY Minum Jus Apel

– detikNews

(foto)

London – Sebagaimana sudah menjadi tradisi dalam acara-acara kenegaraan internasional, saat welcome dinner penyambutan tamu negara, biasanya ada sesi toast antara tuan rumah dan tamu. Itu pula yang dilakukan Ratu Elizabeth II saat menyambut tamu kehormatan kerajaan Inggris, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Rabu (31\/10\/2012) malam lalu. Bertempat di ballroom Buckingham Palace, Queen Elizabeth dan Presiden SBY melakukan toast dengan mengangkat gelas tinggi sebelum meminumnya. Dalam kebiasaan di negara-negara Barat, isi gelas toast biasanya berupa wine.

Lalu benturan gelas antar kedua pemimpin terjadi, \\\’ting..\\\’. Setelah itu keduanya minum gelas masing-masing sebagai tanda persahabatan.

Namun ada yang berbeda dari isi gelas Presiden SBY dan delegasi Indonesia dengan gelas lainnya. Warna air di dalam gelas tidak serupa dengan wine, melainkan lebih terang. \\\”Rasanya enak, seperti jus apel,\\\” ujar Sespri Presiden, Kustanto Widiatmoko.

Salah seorang Paspampres yang bertanggung jawab terkait makanan Presiden juga menambahkan, sudah sejak lama tiap sesi dinner, Presiden SBY meminta wine yang dihidangkan kepada dirinya diganti jus apel.

Presiden SBY dan delegasi Indonesia selama 3 hari melakukan kunjungan kenegaraan di London, Inggris. Presiden mendapat gelar kehormatan Knight Grand Cross in The Order of Bath. Gelar ini diberikan kepada sedikit pemimpin dunia yang berhasil mengubah dunia atau membuat karya besar. Sebelumnya, mantan Presiden Prancis, Jasques Chirrac dan mantan Presiden Turki, Abdullah Gul juga menerima penghargaan tersebut.

Selain menerima penghargaan, Presiden memiliki jadwal padat selama di London. Tak kurang dari 7 sesi pertemuan, rapat dan seminar harus diikuti untuk \\\’menjawab\\\’ keingintahuan publik Inggris terhadap Indonesia. Di antaranya menghadiri High Level Panel (HLP) dengan PM David Cameron dan Presiden Liberia. HLP adalah lembaga khususnya yang diberi wewenang oleh PBB untuk merumuskan skema baru pembangunan dunia pasca kurang efektifnya Millenium Developments Goals (MDGs) yang akan berakhir 2015 mendatang.

Selain itu Presiden juga dijadwalkan bertemu dengan parlemen Inggris, kalangan bisnis dan lembaga think tank yang ada di London.

*) Zaenal A Budiyono<\/strong>, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Publikasi, ikut dalam rombongan kenegaraan ke London. <\/em>

(asy/asy)”.

——

(3) http://bit.ly/2RyVHfa, IDN TIMES: “Published On 07 October 2018

Kubu Prabowo Kritik Pertemuan IMF di Bali, Menkeu Era SBY Angkat Suara

Pertemuan IMF di Bali dianggap mewah

(foto)
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf

Verified
Rochmanudin

Jakarta, IDN Times – Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sekaligus Pakar Ekonomi Nasional M Chatib Basri menanggapi tentang acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, pada 5-8 Oktober 2018. Dia mengomentarai masalah ini di akun media sosial Twitter, @ChatibBasri.

Tanggapan ini menyusul adanya anggapan dari kubu pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, yang menilai cara yang dihadiri 20.000 peserta dari 189 negara ini terlalu mewah. Pemerintah telah menganggarkan dana sekitar Rp 855 miliar yang sudah disepakati bersama DPR RI sejak awal 2017.

Anggaran sebesar itu tidak hanya untuk acara tersebut, tetapi juga untuk membangun fasilitas lain seperti perbaikan bandara di Bali dan sebagainya. Bahkan, pemerintah telah memangkas penghematan untuk anggaran acara ini hingga 40 persen.

1. Pengajuan acara Annual Meeting IMF-World Bank 2018 pada era SBY

(foto tangkapan layar)
Twitter/@ChatibBasri

Chatib mengatakan acara ini diajukan pemerintah Indonesia pada September 2014, melalui proses yang tidak mudah. Indonesia harus bersaing dengan negara-negara lain serta melalui seleksi dan dilihat kemampuannya. Di Asia saja baru Filipina, Singapura, dan Thailand.

“Ya benar, bersama Bank Indonesia, pemerintah mengajukan diri menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Sept 2014. Prosesnya tdk mudah, bersaing dg negar2 lain. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah Okt 2015, kalau sy tdk salah,” ujar dia, menanggapi pernyataan dari Ketua DPP Partai Demokrat Muhamat Husni Thamrin, Minggu (7/10).

Terkait anggaran, Chatib menyebutkan, baru diputuskan setelah Indonesia diputuskan menjadi tuan rumah penyelenggaraan ini pada Oktober 2015. Besar kecilnya acara ini tentu relatif.

“Ada satu lg pertanyaan ke saya, apakah biayanya diajukan th 2014? Tentu tidak. Indonesia diputuskan menjadi tuan rumah Okt 2015. Setelah itulah baru anggaran disusun. Dan itu terserah Indonesia mau membuatnya besar atau kecil. Sama spt Asian Games juga,” ujar dia.

2. Pertemuan Annual Meeting IMF 2018 bukan untuk mendapatkan utang

(foto tangkapan layar)
Twitter/@ChatibBasri

Dalam cuitan yang lain, Chotib menjelaskan pertemuan tingkat dunia ini bukan bermaksud pemerintah Indonesia mendapatkan utang dari IMF.

“Sama sekali tidak. Ini adalah pertemuan tahunan World Bank and IMF. RI jadi tuan rumah. Di Asia sejauh ini baru 4 negara. Di sana dibahas perkembangan situasi ekonomi dunia. Tidak ada kaitan dg menambah utang IMF. Indonesia tdk dalam program IMF,” tegas dia.

“Utk meminta tambahan utang, tdk perlu jadi tuan ruman. Argentina meminta utang IMF tahun ini krn krisis. Mereka bukan tuan rumah,” sambung dia.

3. Manfaat pertemuan IMF untuk Indonesia

(foto tangkapan layar)
Twitter/@ChatibBasri

Chotib menjelaskan keuntungan bagi pemerintah Indonesia dengan menjadi tuan rumah adalah, Indonesia dapat memanfaatkan untuk menyampaikan idenya kepada negara lain.

“Di dalam pertemuan ini dibahas situasi ekonomi dunia, diskusi mengenai kebijakan negara2. Perkembangan teknologi dsb. Indonesia bisa memanfaatkan itu utk komunikasi dan memasukkan ide nya,” kata dia.

“Indonesia justru harus memanfaatkan pertemuan tahunan ini untuk memasukkan agendanya. Dengan begitu Indonesia akan berperan di level global,” Chotib menandaskan.

Semoga pertemuan IMF ini dapat memberikan keuntungan bagi pemerintah Indonesia ya guys.

Rochmanudin
Editorial Team”.

——

(4) http://bit.ly/2OEE3YP, Liputan6: “[Cek Fakta] Pejabat Sosialisasi Miras di Era Jokowi?

Stella Maria YN
21 Agu 2018, 12:08 WIB

Liputan6.com menjadi media online yang terverifikasi
International Fact Checking Network (IFCN) @Poynter

(foto tangkapan layar)
Cek Fakta – Sosialisasi Miras

Liputan6.com, Jakarta – Jelang Pemilihan Presiden 2019, atmosfer persaingan di antara kedua capres semakin kental. Kedua kubu pendukung semakin gencar menyerang dengan mencari-cari kesalahan capres lawan. Hal-hal yang terjadi pada masa lalu lawan pun akan diributkan kembali demi mempengaruhi opini masyarakat.

Sebagai petahana, Presiden RI Joko Widodo memiliki segudang aspek untuk dinilai. Berbagai kebijakan yang telah dikeluarkan Joko Widodo memberi ruang bagi para calon pemilih untuk membentuk opini.

Klaim

Sebuah tautan berita dengan judul “Astaghfirullah, Para Pejabat di Era Jokowi Sosialisasi Manfaat Miras” yang dimuat di situs suaranasional.com pada 19 September 2015 kembali ramai beredar di media sosial.

Dalam berita tersebut, terpampang gambar Joko Widodo bersama beberapa menteri dan tamu lainnya bersulang mengangkat gelas masing-masing.

Berita tersebut mengabarkan istana negara dan kantor-kantor menteri sudah bebas menyajikan minuman beralkohol yang disuplai dari minimarket terdekat. Dicantumkan juga kutipan yang berasal dari Ketua Progres 98 Faizal Assegaf. Faizal disebut mengakui bahwa ada tradisi baru di lingkungan pemerintahan yaitu tradisi minum miras.

“Tradisi mabuk alias teler berat akan menjadi budaya baru bagi pejabat negara dan hal itu mau ditularkan kepada rakyat,” ungkap Faizal dalam berita itu.

Dalam berita tersebut, Faizal disebut menyatakan PDIP merupakan penyokong utama yang gencar mengkampanyekan perdagangan miras secara legal di negeri ini.

Penelusuran Gambar

(foto tangkapan layar)
Cek Fakta – Foto Reuters

Dari hasil penelusuran, gambar Joko Widodo bersama para menteri yang sedang bersulang tersebut merupakan hasil foto Yuya Shino dari Reuters yang diunggah pada 24 Maret 2015.

Momen tersebut diambil saat Joko Widodo sedang menemui para pebisnis Jepang yang tergabung dalam Japan External Trade Organization (JETRO) di Tokyo, Selasa 24 Maret 2015. Kunjungan Jokowi selama 4 hari disertai misi mengajak para pebisnis Jepang giat berinvestasi di Indonesia.

Bantahan Faizal Assegaf

(foto)
Ketua Progres 98 Faizal Assegaf melaporkan petinggi PKS ke Polda Metro (Nur Habibie/Merdeka.com)

Ketua Progres 98, Faizal Assegaf yang namanya dicatut membantah dirinya pernah memberikan pernyataan seperti tertulis dalam artikel tersebut.

“Hoax,” tulisnya saat dikonfirmasi Liputan6.com melalui pesan singkat, Senin (20/8/2018).

Faizal menyatakan pihak lawan menjadikan berita hoaks untuk membungkan lawan politik mereka dengan aneka fitnah keji.

“Tapi saya yakin rakyat semakin cerdas untuk menilai dinamika kekinian,” tuturnya.

Penjelasan Andrinof Chaniago

Mantan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Andrinof Chaniago menilai, kemunculan foto Presiden Jokowi yang mengkaitkan dengan sosialisasi minuman keras merupakan bentuk kampanye hitam yang kerap terjadi di tiap momen.

“Ini merupakan judul yang dilakukan orang jahat. Saya bertahun-tahun dekat dengan Pak Jokowi, tidak pernah beliau minum-minuman beralkohol, termasuk dalam momen-momen acara kenegaraan,” ucap Andrinov saat dihubingi Liputan6.com.

Berdasarkan pengalamannya sebagai menteri, memang ada sejumlah tradisi bersulang dalam sebuah acara kenegaraan atau agenda internasional. Tradisi itu merupakan bentuk penghargaan tuan rumah terhadap tamu yang datang.

Menurut Andrinof, bila momen bersulang menggunakan minuman beralkohol, panitia atau penyelenggara acara akan lebih dulu bertanya apakah pihak yang akan bersulang menkonsumsi minuman beralkohol atau tidak. Bila tidak, maka minuman biasanya akan diganti dengan yang nonalkohol.

“Dan di acara Presiden Jokowi itu, dari informasi yang saya dapat, memang sudah ditanya dulu, itu etika nya seperti itu. Karena tidak meminum alkohol, minuman yang disajikan untuk Pak Jokowi diganti dengan jus apel,” ucap pria yang saat ini menjabat sebagai Komisaris Bank Rakyat Indonesia (BRI) itu.

Sedangkan untuk tradisi yang berlaku di Indonesia, Andrinof memastikan tidak ada satupun momen penyambutan tamu negara yang menggunakan minuman beralkohol.

“Kalau di istana tidak ada. Bukan tradisi kita lah seperti itu. Dan tentu tamu asing yang kita undang juga menghargai tradisi dan budaya kita,” ucap Andrinof.

Kasus Serupa

Kabar serupa juga pernah menyebar pada 2016 lalu. Sebuah foto beredar di media sosial, yang menunjukkan foto mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok makan bersama bersama Kapolri Tito Karnavian dan politikus Maruarar Sirait.

Warganet fokus pada botol minuman berwarna hijau yang dikira sebagai minuman keras (miras).

“Biar foto yang berbicara. Atas ketidak adilan yang terjadi di Indonesia. Acara minum-minum MIRAS bersama. Akibat sering gaul sama Ahok. Hukum hanya tajam ke bawah. Tumpul ke atas,” demikian keterangan foto yang ditulis Jack.

(foto)
Ahok saat jamuan makannya bersama Kapolri Tito Karnavian dan politisi Maruarar Sirait.

Foto tersebut kontan menjadi perdebatan sengit para netizen. Banyak dari netizen yang kemudian menjelaskan jika minuman tersebut adalah air mineral produk asli Indonesia dengan merek Equil.

Saya prihatin jika masih ada yang belum bisa membedakannya. pic.twitter.com/oiCykrcTxj

— Habib Think (@habibthink) 28 November 2016

Kesimpulan
Berita dari suaranasional.com memelintir konteks dari penggunaan gambar Joko Widodo seolah-olah mendukung isi beritanya yang tidak valid. Tidak ditemukan artikel dengan kabar serupa di media lainnya ditambah bantahan dari Faizal Assegaf yang namanya dicatut. Dengan demikian, dapat disimpulkan berita tersebut adalah hoaks.

(Penelusuran dalam cek fakta ini dibantu jurnalis Kanal News Liputan6.com, Luqman Rimadi)

(foto)
banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 53 media massa lainnya di seluruh dunia.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta@liputan6.com.”

======

Sumber: https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/759018251097379/