[SALAH] “Mereka Tak Pernah Bosan-bosan Untuk Terus Membuat Berita Dusta Seperti Ini”

Tangkapan layar adalah hasil dari scroll kebawah sehingga tidak tampil utuh, dan laman yang disertakan tautannya di post tersebut adalah laman opini. Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Disinformasi.

======

SUMBER

(1) Permintaan post dari salah satu anggota FAFHH.

——

(2) http://bit.ly/2xK7LEx, post oleh akun Facebook “Ashad Kusuma Djaya”.

======

NARASI

“#AksiBelaBangsa
#2019GantiPresiden
#JagaPancasila

Kami sebagai salah satu penggagas dan penyelenggara Aksi Bela Bangsa, jika membaca berita seperti ini maka dengan mudah akan bisa tahu bagaimana pendukung rezim ini selalu berusaha memanfaatkan celah untuk membuat dusta-dusta demi menjaga pencitraan junjungannya. Mereka tak pernah bosan-bosan untuk terus membuat berita dusta seperti ini.

https://kumparan.com/mata-peristiwa/dianggap-bukan-tokoh-reformasi-amien-rais-ditolak-pada-acara-bela-bangsa-di-yogyakarta

======

PENJELASAN

(1) Tangkapan layar di post tersebut adalah hasil dari laman yang di-scroll kebawah sehingga bagian “Konten ini dibuat oleh pengguna kumparan. Materi dan isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/pengguna.” tidak terlihat.

——

(2) http://bit.ly/2rhTadC, firsdraftnews.org: “Konten yang dimanipulasi

Ketika informasi atau gambar yang asli dimanipulasi untuk menipu”.

======

REFERENSI

(1) Wikipedia: “Opini (Inggris: Opinion) adalah pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan kecenderungan atau preferensi tertentu terhadap perspektif dan ideologi akan tetapi bersifat tidak objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian, dapat pula merupakan sebuah pernyataan tentang sesuatu yang berlaku pada masa depan dan kebenaran atau kesalahannya serta tidak dapat langsung ditentukan misalnya menurut pembuktian melalui induksi. (Lihat: simbol logis pada Induksi matematika)

Opini bukanlah merupakan sebuah fakta, akan tetapi jika di kemudian hari dapat dibuktikan atau diverifikasi, maka opini akan berubah menjadi sebuah kenyataan atau fakta.”, selengkapnya di http://bit.ly/2sxGKz9.

——

(2) http://bit.ly/2LYAMPX, kumparan.com (User Story): “Dianggap Bukan Tokoh Reformasi, Amien Rais Ditolak pada Acara Bela Bangsa di Yogyakarta

Mata Peristiwa
Rabu 30 Mei 2018 – 14:37

(meme)

Sungguh mengenaskan nasib Amien Rais kini. Dua puluh tahun pasca reformasi, dirinya tak dianggap sebagai tokoh yang turut mendorong aksi besar-besaran mahasiswa yang menggulingkan Soeharto itu.

Bahkan, Ketua Dewan Kehormatan PAN itu kini tiba-tiba dicopot alias batal menjadi pengisi acara dalam acara Aksi Bela Bangsa yang rencananya digelar pada 1 Juni 2018 di area Titik Nol Kilometer, Yogyakarta.

Pencopotan itu tak lain merupakan penolakan masyarakat kepada Amien Rais di kandangnya sendiri. Pasalnya, Yogyakarta adalah tempat tinggal dan kota yang menjadi titik pijak Amien.

Tentu saja, penolakan itu ada alasannya. Aktivis 98 tergabung dalam Jaringan Aktivis Reformasi Indonesia (Jari 98) menyebut pencoretan terhadap sosok yang dianggap provokatif tersebut berdasarkan berbagai masukan dari para sesepuh dan ulama.

Amien Rais selama ini memang dikenal sebagai pengkritik pemerintahan Presiden Jokowi. Namun sayangnya, kebanyakan kritik darinya tidak substansial dan relevan, lebih banyak yang berisi ujaran kebencian.

Oleh karena itu, warga DIY menolak kehadiran Amien Rais dalam acara Bela Bangsa itu. Warga sendiri sudah tidak mempercayai perkataan Amien Rais yang provokatif dan bertendensi memecah belah masyarakat.

Tampaknya, warga kini lebih mempercayai pernyataan aktivis Sri Bintang Pamungkas yang menyebut bahwa Amien Rais adalah tokoh gadungan reformasi. Sri Bintang sendiri tidak mengakui Amien sebagai tokoh tersebut.

Pencoretan dan batalnya Amien Rais di kota Gudeg harusnya bisa menjadi bahan renungan, evaluasi buat diri sendiri dengan perbanyak istighfar dan mengingat dosa-dosa masa lalunya.

Publik Indonesia justru lebih menerima ceramah yang disampaikan Buya Syafii karena lebih adem bukan mereka yang menjadi tukang ribut. Indonesia kini membutuhkan tokoh pemersatu, bukan yang memecah belah dan menebarkan kebencian.

Story ini adalah kiriman dari user kumparan, isi story ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat story kamu sendiri? Klik di sini sekarang!”.

======

Sumber: https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/652849698380902/