(HOAX+HASUT) Tuduhan Azam Kepada Guntur

Sumber: Media Sosial Facebook

Narasi:

Narasi berasal dari akun Azzam Mujahid Izzulhaq pada Sabtu, 5 November 2016. Berikut narasinya:

[…]PROVOKATOR kericuhan ini, sebelumnya ditangkap aparat kepolisian setelah melakukan provokasi dengan melempari botol minuman dari arah demonstran ke arah petugas keamanan. Ia pun mengaku wartawan salah satu media (Kompas).

Tetiba, sosok wajah dan tubuhnya hadir di Kompas TV dan telah berubah status menjadi KORBAN kericuhan.

Hebat, ‘kan?

Mari sebarkan. Kita buat provokator ini menjadi korban yg sebenarnya. Korban atas perilakunya yg memalukan diri dan keluarganya

***

Courtesy of Pictures:

Mochamad Faizin Habsy

Afwan Riyadi Widiyanto

#AMI

#CukupSatuKali

#SelamatkanIndonesia

#LintasanPikiran[…]

Penjelasan:

Status dari Azzam Mujahid Izzulhaq tersebut merupakan komentarnya atas terjadinya kericuhan di akhir aksi 411 pada tanggal 4 November 2016. Tuduhannya itu ditujukan kepada salah satu kamerawan Kompas TV, Muhammad Guntur. Tuduhannya itu sudah dibagikan oleh para warganet sebanyak 7000 kali.

Akan tetapi, tuduhan Azzam tersebut tidak memiliki bukti kuat. Selain itu, postingan Azzam tersebut mendapat perhatian dari Ketua Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammad Sirajuddin Syamsuddin atau karib dikenal dengan nama Din Syamsuddin.

Pria asal Sumbawa Besar, NTB itu menuliskan klarifikasi atas tuduhan Azzam. Berikut kutipan klarifikasi Din Syamsuddin:

[…]Ikhwany al-A’izza’,

Wartawan dlm gambar di atas adalah Mas Muhammad Guntur, kamerawan Kompas TV, yg saya kenal. Dia meliput di lapangan Aksi Damai 4 November 2016 dan bukan provokator.

Utk diketahui, Kompas TV adalah satu dari dua TV Berita Nasional yg menyiarkan secara langsung Aksi Damai secara objektif dan proporsional.

Kebetulan pada sesi pra shalat Jum’at saya bersama Prof. Azra (Azyumardi Azra-red) menjadi narasumber di studio, dan pada sesi pasca shalat Jum’at Dr. Abdul Mukti, Sekum PP Muhammadiyah, dan Dr. Gun Gun Heryanto, dosen fakultas dakwah UIN Jakarta, yg jadi narasumber.

Mohon maklum dan tdk disebarluaskan Kompas TV sbg anti Aksi Damai. Silakan lihat rekaman siarannya sepanjang hari Jum’at.

Saya bahkan menyampaikan terima kasih atas peliputan Kompas TV yg simpatik.

Syukran.

Salam, Din Syamsuddin.[…]

Selain klarifikasi dari Din Syamsuddin, ada pula klarifikasi langsung dari Muhammad Guntur. Berikut kutipan klarifikasinya:

[…]Guntur menjelaskan, saat kejadian, dirinya tengah membawa kamera beserta peralatan untuk siaran langsung yang bobotnya mencapai 10 kilogram lebih. Dengan bobot seberat itu, ia menyatakan tidak mungkin dirinya bisa sempat melempar botol air mineral.

“Kalau saya gerak aja gambarnya sudah goyang. Apalagi saya mesti ngelempar sambil saya ngerekam sendiri. Saya juga enggak kebayang gimana caranya saya lempar botol air mineral sambil ngerekam sendiri,” kata Guntur saat ditemui di Mapolres Metro Jakarta Pusat, Minggu (6/11/2016).

Guntur menceritakan, awal mula kejadian yang menimpa dirinya itu. Kejadian berawal pada sekitar pukul 18.45 WIB, ia dan rekan reporternya mendapat tugas untuk laporan siaran langsung.

Menurut Guntur, tugas itu mengharuskannya untuk maju ke depan, di tengah-tengah antara barikade polisi dan demonstran. Lokasi ia berdiri tak jauh dari Gedung Mahkamah Agung, tepatnya di Jalan Veteran.

Saat telah mulai merekam video, Guntur menyebut tiba-tiba ada lemparan air mineral ke arah polisi yang disertai aksi dorong-dorong sebagian massa.

“Massa yang ada di sebelah kiri Jalan Veteran dorong-dorongan dengan polisi. Sementara sebagian minta jangan dorong-dorong,” tutur Guntur.

Saat ada aksi dorong-dorong itu, Guntur menyebut ada salah seorang pengunjuk rasa yang berteriak meminta agar ia tak merekam video. Menurut Guntur, teriakan tersebut memancing pengunjuk rasa yang lain mendatanginya.

Dalam beberapa detik, Guntur sudah dikerumuni para pengunjuk rasa. Saat itulah, ia diinterogasi dan ditanya asal media tempatnya bekerja.

Menurut Guntur, massa langsung menunjukan respons tak bersahabat saat dirinya menyebutkan berasal dari Kompas TV. Teriakan-teriakan tuduhan sebagai provokator dan penyusup langsung diarahkan kepadanya.

“Ada dua orang yang berusaha ngamanin saya, bawa saya ke arah kepolisian yang ada di tengah. Tapi sambil jalan ada yang mukul saya. Kepala saya bagian belakang dipukul,” ucap Guntur.

Saat sudah sampai ke pinggir jalan, Guntur menyebut salah seorang demonstran langsung meminta agar ia mencabut memori kameranya.

“Ketika saya hidupin mau hapus gambarnya, dia bilang enggak, memorinya dikeluarin. Saya keluarin memori, dia bilang enggak, saya tahu memorinya ada dua. Saya tahu kamera. Terus saya kasih yang satu lagi,” kata Guntur.

Menurut Guntur, kedua memori pada kameranya yang sudah dicabut kemudian diberikan ke salah seorang pimpinan aksi. Guntur mengatakam rekan reporternya sempat meminta agar memori tersebut tidak diambil. Namun permintaan itu tak diindahkan.

“Terus orang yang ngambil memori saya itu nanya ke yang lain: “Ini memori mau diapain? Dibakar atau dipatahin’. Sama dia langsung dibawa, saya diserahin ke polisi,” kata Guntur.

Guntur melaporkan kejadian yang dialaminya itu ke Mapolres Metro Jakarta Pusat pada Sabtu (5/11/2016) dinihari. Ia tak mengetahui dari kelompok mana orang-orang yang mengintimidasinya itu.[…]

Berdasarkan kedua klarifikasi tersebut, klaim Azzam kiranya tidak terbukti. Dengan demikian, postingannya dapat dikategorikan sebagai berita hoax.

Catatan: Perihal statusnya hoax dan hasutan tersebut, Azzam telah melakukan permohonan maaf secara publik melalui akun Facebooknya. Berikut cuplikan postingan permintaan maafnya:

[…]Bismillahirrahmanirrahim

Dengan ini saya, Azzam Mujahid Izzulhaq, bertempat tinggal di Distrik An Nuzhah Street 60 No. 11 Makkah Al Mukarramah dan Distrik Mimika Baru Kab. Mimika Provinsi Papua, mengucapkan terima kasih kepada Prof. DR. Din Syamsuddin yg telah menyampaikan klarifikasinya terhadap postingan saya pada tanggal 5 November 2016 pukul 17.35 LT

Bahwa sesuai atas klarifikasi dari Prof. Din Syamsuddin tersebut, menyatakan bahwa saudara Muhammad Guntur, yg fotonya pertama diposting oleh Ustadz Muhammad Faizin Hasby pada tanggal 5 November 2016 pukul 03.55 LT, adalah benar-benar wartawan Kompas dan BUKAN provokator.

Atas ketergesaan dan kekeliruan yg saya lakukan, saya memohon maaf yg sebesar-besarnya kepada saudara Muhammad Guntur secara pribadi dan kepada Kompas secara company.

Selanjutnya, postingan saya yg terkait hal ini akan saya rubah menjadi ‘only me’ untuk mencegah kembali ‘dibagikan’ oleh pengguna yg lainnya.

Kepada Allah saya mohon ampun.

#AMI

#SelamatkanIndonesia

#LintasanPikiran[…]

Referensi:

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/11/07/06030031/azzam.minta.maaf.karena.tuding.kamerawan.kompas.tv.provokator

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10207410213798476&id=1381090778&hc_location=ufi

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/11/06/16194571/din.syamsuddin.kamerawan.kompas.tv.bukan.provokator

http://megapolitan.kompas.com/read/2016/11/06/18561701/tuduhan.provokator.dinilai.kameramen.kompas.tv.sangat.tidak.logis

https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/370097759989432/