[SALAH] Hewan Mati Bergelimpangan karena Efek Radiasi 5G

Hasil Periksa Fakta Ani Nur MR (Universitas Airlangga).

Informasi Palsu. Tidak ada bukti yang kuat bahwa efek jaringan 5G menyebabkan gangguan kesehatan ataupun kematian pada manusia dan hewan. Penelitian lebih lanjut masih perlu dilakukan.

Selengkapnya baca di PENJELASAN dan REFERENSI.

=====

KATEGORI: Konten yang Menyesatkan

=====

SUMBER: channel Telegram
https://archive.vn/p1gDE

=====

NARASI:

ini masih efek radiasi 5G pada hewan,, bagaimana efek radiasi 5G terhadap manusia apalagi terhadap yang sdh difucksin bila 5G sdh aktif di Dunia/Indonesia ??

(narasi video berdurasi 33 detik)
“bukan hanya burung saja melainkan beberapa hewan lainnya juga terkena imbas dari uji coba jaringan 5G seperti bebek-bebek yang berenang di dekat tiang pemancar 5G bebek itu bereaksi sangat aneh secara bersamaan meletakkan kepala mereka di bawah air untuk menghindari radiasi sementara yang lain terbang mendarat di jalam atau di kanal. Semua informasi tersebut berasal dari halaman Facebook John Kuhles”.

=====
PENJELASAN:

Beredar postingan di sebuah channel Telegram bernama “congor_istana”. Dalam postingannya disertai video berdurasi 33 detik memperlihatkan burung mati dan juga bebek yang menenggelamkan kepalanya di air. Dalam video tersebut, narator menjelaskan bahwa burung yang mati di jalanan disebabkan oleh radiasi jaringan 5G dan karena itu pula bebek menenggelamkan kepalanya untuk menghindari radiasi.

Lebih lanjut, narasi yang ditampilkan dalam postingan menambahkan klaim bahwa radiasi 5G juga berbahaya bagi manusia serta orang-orang yang sudah divaksin.

Setelah dilakukan penelusuran lebih lanjut semua klaim tersebut tidaklah benar.

Jaringan 5G merupakan teknologi nirkabel terbaru yang membawa frekuensi elektromagnetik yang cepat daripada versi sebelumnya sehingga membuatnya lebih cepat dan efisien dalam pengiriman data. Frekuensi elektromagnetik yang terdapat pada 5G menciptakan area yakni medan elektromagnetik atau Electromagnetic Field (EMF). Sebagian orang percaya bahwa EMF inilah yang mengakibatkan permasalahan kesehatan pada manusia dan hewan, sehingga mereka menganggap jaringan 5G berbahaya. Meski begitu, anggapan ini tidak didukung bukti ilmiah yang kuat.

Bersumber dari artikel kesehatan healthline.com, penelitian mengenai efek jaringan 5G pada manusia telah dilakukan sekitar tahun 2017 hingga yang terbaru tahun 2021. Efek 5G yang ditemukan di antaranya adalah pemanasan jaringan sel pada manusia, gangguan kognitif, dan kanker. Meski demikian, para peneliti belum mendapatkan konklusi yang konsisten, penelitian lebih lanjut masih perlu dilalukan. Hasil ini juga berlaku pada hewan, bahwa para peneliti masih perlu melalukan kajian lebih lanjut mengenai efek jaringan 5G pada hewan.

Klaim orang yang sudah divaksin akan mendapat efek negatif dari jaringan 5G juga tidak benar. Vaksin yang disuntikkan ke dalam tubuh manusia tidak akan menghasilkan gelombang elektromagnetik yang akan terhubung dengan jaringan 5G. Hoax ini telah dibantah berkali-kali utamanya berkaitan dengan kesalah pahaman bahwa vaksin Covid-19 mengandung microchip magnetik. Fakta sebenarnya adalah vaksin Covid-19 tidak mengandung bahan logam jenis apapun.

Pada video berdurasi 33 detik memperlihatkan beberapa cuplikan gambar, yang mana cuplikan pertama memperlihatkan orang memakai hazmat dan sedang memungut burung mati. Setelah dilakukan penelusuran menggunakan reverse image, gambar yang sama ditemukan di artikel bbc.com, yang membahas misteri kematian 3000 burung di Arkansas, Amerika Serikat, tahun 2011. Dilansir dari cnn.com, komisi perikanan Arkansas menyebut kematian massal disebabkan “blunt force trauma” yakni benturan burung-burung tersebut pada obyek keras seperti rumah, pohon, tiang listrik, saat mereka beterbangan.

Cuplikan gambar berikutnya pada video adalah fenomena kematian massal burung jalak di Huijgenspark, Den Haag, Belanda pada Oktober 2018. Fenomena ini beberapa tahun lalu juga menjadi konspirasi yang dikaitkan dengan efek jaringan 5G. Namun, klaim ini telah dibantah oleh otoritas setempat.

Menurut lembaga penelitian Wageningen Bioveterinary Research (WUF), menyebut kemungkinan besar penyebab utama kematian adalah keracunan buah yew. Lebih lanjut, biro antena pemerintah Belanda menyebut tidak ada pemasangan antena 5G di dekat taman Huijgenspark. Selain itu semua tiang transmisi di Belanda terikat oleh standar keselamatan serta pengukuran radiasi telah di bawah standar keselamatan.

Adapun cuplikan gambar yang memperlihatkan bebek mencelupkan kepalanya di air untuk menghindari radiasi, juga tidak benar. Perilaku bebek-bebek tersebut adalah hal yang alamiah. Bebek tersebut berjenis “Dabbling Duck” atau disebut bebek perenang. Mereka hidup di daerah air dangkal dan sesekali mencelupkan kepalanya di air untuk mengambil makanan seperti ikan atau serangga.
Mallards, northern shovelers, American wigeons, gadwalls, and cinnamon teals, semuanya termasuk spesies bebek perenang.

Berdasarkan data yang terkumpul dapat disimpulkan, klaim hewan Mati bergelimpangan karena efek radiasi 5G adalah HOAX dan termasuk kategori Konten yang Menyesatkan.

=====

REFERENSI:
https://www.healthline.com/health/is-5g-harmful#does-it-affect-health


https://www.omroepwest.nl/nieuws/3716837/Weer-grote-groep-dode-spreeuwen-gevonden-in-Haags-Huijgenspark


https://www.google.com/amp/s/mobile.reuters.com/article/amp/idUSKCN22A3D9


https://www.bbc.com/news/world-us-canada-12135380


http://edition.cnn.com/2011/US/01/27/arkansas.bird.mystery/index.html


https://www.treehugger.com/fun-facts-about-ducks-4043231


https://www.kompas.com/tren/read/2021/07/26/173000665/-hoaks-bekas-suntikan-vaksin-menimbulkan-radiasi-elektromagnet

=====

Penulis: Ani Nur MR
Editor: Bentang Febrylian