[BERITA] #INAelectionObserverSOS , #CYBERMUSLIMRUSSIANFORPRABOWOSOS , dan Isu Server KPU Diserang Hacker Bayaran

Komisioner KPU, Viryan Azis, membenarkan, memang ada upaya suatu pihak melakukan peretasan situs milik KPU yang memang terjadi hampir setiap waktu bahkan sebelum pilpres 2019 berlangsung. Meski demikian, Viryan menegaskan, hasil akhir pemilu tidak didasarkan pada penghitungan oleh server milik KPU ini. Selain itu, Komisioner KPU RI, Pramono Ubaid, mengatakan tumbangnya server KPU terjadi kemungkinan karena traffic yang melonjak tajam. 
Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI .

BACA sampai SELESAI dan sikapi dengan bijaksana.

============================
Kategori : BERITA / KLARIFIKASI
============================

Di media sosial, terutama Facebook, banyak unggahan yang menyebutkan bahwa server Komisi Pemilihan Umum ( KPU) diretas, Kamis (18/4/2019). Sebuah akun mengunggah tangkapan layar yang menyebutkan bahwa server KPU diretas untuk melakukan kecurangan tertentu dalam hasil penghitungan suara Pemilu 2019.

Beberapa diantaranya menyertakan video yang diklaim sebagai tampilan dari peta serangan siber hacker dari luar negeri. Postingan semacam ini sebagian besar disertai dengan tagar seperti : #INAelectionObserverSOS dan #CYBERMUSLIMRUSSIANFORPRABOWOSOS

Salah satu sumber : http://archive.fo/lXgek – Akun Fariz Alfarizy (facebook.com/fariz.alfarizy.71) – Sudah dibagikan 60000 kali saat tangkapan layar diambil.

Salah satu sumber : http://archive.fo/lXgek – Akun Fariz Alfarizy (facebook.com/fariz.alfarizy.71) – Sudah dibagikan 60000 kali saat tangkapan layar diambil.

Sumber lain : https://www.facebook.com/search/?q=#INAelectionObserverSOS&searchtype=posts&epa=SERP_TAB

=================================

PENJELASAN

1. Terkait foto dan video yang diklaim sebagai tampilan “cyber attack maps” hacker ke server KPU

Para “penggelut IT dadakan” melampirkan foto dan video traffic data yang berasal dari cybermap milik karsperksy, checkpoint, threatcloud, dll.

Menanggapi hal tersebut, pengamat keamanan siber dan peneliti Drone Emprit Ismail Fahmi mengatakan video peta realtime serangan siber bukan mengindikasikan server milik Komisi Pemilihan Umum (KPU) diretas. Menurutnya tagar tersebut muncul bukan karena serangan siber, tetapi karena dugaan kecurangan yang dimonitor oleh pendukung 02.

“Jadi sekarang kalau dilihat trennya soal server KPU, itu lagi naik. Ada tanda kekalahan menurut Quick Count, maka nya isu-isu yang lain dimunculkan terkhusus serangan KPU dihack dan seterusnya cuma tidak seramai sebelumnya,” kata Ismail saat dihubungi CNNIndonesia.com, Kamis (17/4).

“Jadi, itu serangan di dunia itu terus menerus terjadi setiap detik dan ada perusahaan-perusahaan anti virus yang mereka bisa menangkap itu secara hampir realtime. Serangan virus itu kan isinya cyber attack atau serangan siber.”

Menurut Ismail, jurus yang digaungkan oleh sejumlah pendukung paslon nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Twitter bertujuan untuk membuat kekhawatiran terhadap kinerja KPU yang saat ini tengah melakukan perhitungan suara.

“Caranya gimana? Cara yang paling gampang mereka tunjukkan adalah pakai tampilan-tampilan teknis yang seolah hacker dan yang paling menarik buat awam itu sebetulnya bentuk animasi,” jelasnya.

Cybermap tidak bisa menjadi acuan yang penting bagi para IT security. Bahkan, sebagian besar profesional mengatakan mereka telah menggunakannya, karena selain “seni pertunjukan,” tidak ada nilai nyata di dalamnya.

Mengapa cyber attack marak di Tanah Air? Pihak Microsoft menjelaskan salah satu kemungkinan penyebabnya adalah penggunaan software bajakan yang masih marak, berikut ketidaktahuan konsumen mengenai bahaya cyber. 
Sudimin Mina, Software Asset Management Microsoft, mencontohkan pengunduhan aplikasi mobile dari sumber meragukan di internet, yang sering disusupi malware.

Senada dengan Sudimin, Sekretaris Jenderal Masyarakat Indonesia Anti-Pemalsuan, Justisiari P. Kusumah mengatakan bahwa maraknya penggunaan software bajakan merupakan salah satu faktor yang menyumbang tingginya trafik serangan cyber yang tercatat berasal dari Indonesia.

=================================

2. Komisioner KPU RI, Pramono Ubaid, mengatakan tumbangnya server KPU terjadi kemungkinan karena traffic yang melonjak tajam. Sistem yang dipakai ini dinamakan Situng (Sistem Penghitungan).

“Jadi perlu kami pastikan sistem IT KPU sebenarnya aman-aman saja. Kalau pun hari ini atau beberapa saat lalu down, karena memang traffic-nya sangat tinggi,” ujar Pramono seperti dikutip dari Kumparan.com, Kamis (18/4/2019).

Traffic tinggi ini, kata Pramono, karena masyarakat ingin memastikan antara hasil quick count dari berbagai lembaga survey dengan hasil real count KPU.

Pramono kemudian kembali menegaskan, Situng tidak mempengaruhi penghitungan suara. Hal ini karena penghitungan suara dilakukan secara manual dan berjenjang.

“Perlu kami pastikan bahwa sistem perhitungan suara di KPU berbasis manual. Masih berbasis rekapitulasi atas dokumen formulir yang dilakukan secara berjenjang. Sementara sistem IT, untuk perhitungan IT itu hanya alat bantu untuk mempublikasikannya aja. Tidak ada kaitannya dengan proses perhitungan dengan sistem IT. Hanya untuk publikasi aja,” tukasnya.

Selain itu, pengamat keamanan siber dari Vaksin.com Alfons Tanujaya mengungkapkan, jika sampai ada kejadian peretasan pun pasti sudah diantipasi. Pasalnya, secara strategis KPU sudah memisahkan server data hasil perhitungan perhitungan pemilu dengan data webiste.

“Data hasil pemilu itu sifatnya offline, jadi aman dari peretas online,” tambah Alfons.

Menurut Alfons, server Komisi Pemilihan Umum (KPU) tidak mungkin diatur oleh peretas untuk memenangkan salah satu pasangan capres dan cawapres di Pilpres 2019.

Alfons mengatakan, hasil final perhitungan suara formulir C1 yang diunggah ke server atau situs KPU dalam format foto, sehingga tidak mungkin bisa diubah.

Sebelum formulir C1 diunggah, ada beberapa proses offline yang dilakukan KPU. Saat melakukan perhitungan suara, komputer yang digunakan KPU juga dalam keadaan offline sehingga tidak mungkin menjadi sasaran peretasan.

“Data perhitungan suara KPU itu offline. Itu data yang secara hukum sah. Komputer yang memasukkan data dan server hasil pemilu tidak terkoneksi ke internet sehingga akan sangat sulit untuk di retas karena tidak terkoneksi ke internet,” kata Alfons seperti dikutip dari CNNIndonesia.com, Selasa (9/4/2019).

Hasil akumulasi suara dari Tempat Pemilihan Suara (TPS) akan ditampilkan di situs KPU dalam bentuk formulir C1. Sementara data perhitungan suara yang berada di TPS memiliki server terpisah yang tidak tersambung dengan internet.

Data TPS setiap wilayah ini akan dimasukkan oleh KPU secara offline atau tidak terhubung internet. Bahkan proses rekapitulasi suara sebelum C1 juga dilakukan secara manual.

“Data TPS di input di KPU wilayah dan komputer-komputernya tidak terhubung ke internet. Rekapnya juga manual,” ujar Alfons.

Oleh karena itu, ia mengatakan kendati situs KPU diretas tapi manipulasi suara tidak mungkin dilakukan. Mengingat formulir C1 yang berada di situs KPU berupa foto, sementara data-data perhitungan suara tidak tersambung ke server atau situs KPU.

=================================

3. Sementara itu, Komisioner KPU, Viryan Azis, membenarkan, memang ada upaya suatu pihak melakukan peretasan situs milik KPU. Namun, Viryan tidak menyebutkan secara spesifik soal pelaku yang mencoba masuk ke sistem KPU ini. Menurut dia, upaya peretasan tak hanya datang dari luar negeri, tapi juga dalam negeri. 
“Serangan ada dari dalam negeri, ada yang coba meng-hack. Sejauh ini masih bisa ditangani oleh teman-teman yang mengurus IT kita (KPU),” kata Viryan saat dihubungi Kompas.com, Kamis (18/4/2019) sore. Viryan menjelaskan, upaya peretasan ini datang setiap waktu. 
“Hari ini ada (upaya peretasan). Ya kan (upaya peretasan) datang kapan saja ya,” ujar dia.

Meski demikian, Viryan menegaskan, hasil akhir pemilu tidak didasarkan pada penghitungan oleh server milik KPU ini.

“Apa pun hasil dari Situng (Sistem Informasi Penghitungan Suara) KPU hanya alat bantu. Jadi tidak ada kaitannya dengan hasil pemilu akhir,” kata Viryan.

Menurut dia, hasil pemilu akhir akan dilakukan berdasarkan rapat pleno berjenjang yang sedang berjalan hari ini mulai di kantor kecamatan. Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, tidak ada satu pun pasal yang menyebutkan hasil pemilu ditentukan berdasarkan penghitungan elektronik.

“IT pemilu KPU bukan hasil yang menjadi dasar penetapan,” kata dia. Viryan menambahkan, informasi seperti ini beredar beberapa kali di masyarakat sehingga masyarakat dapat lebih berhati-hati terhadap setiap informasi yang diterimanya.

“Jadi hoaks yang mengatakan, itu hoaks yang sudah beberapa waktu ini terus di kembangkan sejumlah pihak dan itu tidak benar,” tutur Viryan.

=================================

4. Salah satu relawan tim IT KPU, M. Salahuddien, mengkonfirmasi ada usaha peretasan yang mengarah ke situs KPU. Namun, hal itu disebutnya masih dalam skala kecil dan dapat diatasi dengan baik.

“Serangan berniat menjatuhkan memang juga terjadi tapi ukuran kecil atau besar itu relatif, tidak ada benchmark-nya untuk kasus KPU. Sejauh ini masih bisa di-manage dengan baik,” ungkapnya ketika dihubungi kumparan, Kamis (18/4).

Menurut pria yang sudah terlibat dalam proses Pemilu 2014 ini, jika dalam keadaan apapun yang membuat situs atau server KPU berhasil diretas, tidak akan mengganggu jalannya Pemilu. Situs KPU hanya menampilkan hasil perhitungan suara.

“Kalaupun IT KPU sampai tidak bisa diakses atau bagaimana, tidak akan mengganggu atau mengubah hasil pemilu karena dia sifatnya hanya menampilkan hasil. Prosesnya sendiri tetap manual dan yang manual itu yang diakui UU,” tambahnya

Rasa penasaran masyarakat akan hasil rekapitulasi Pemilu 2019 membuat lonjakan trafik ke situs KPU meningkat sehingga sulit diakses. Masyarakat ingin memastikan atau membandingkan antara hasil quick count dari berbagai lembaga survei dengan hasil real count KPU.

Untuk mengurangi beban server KPU, pria yang akrab disapa Didin Pataka itu menjelaskan saat ini KPU mengurangi layanan pada situs. “Langkah antisipasinya: kurangi beban, sejumlah server/layanan yang tidak terkait pemilu di-off sementara,” terangnya.

Kesulitan akses situs KPU bukan dikarenakan beban server yang berlebihan sehingga tidak cukup untuk menampung, tetapi bisa juga diakibatkan oleh koneksi internet yang pengguna pakai.

“Keluhan kelambatan bisa terjadi di dua sisi baik server maupun pengakses. Selain itu ada banyak faktor lain yang di luar kendali KPU. Kalau jalur Internet user penuh, ISP-nya memang terbatas kapasitas pipanya, misalnya, di Indonesia Timur akses ke situs KPU akan terasa lambat atau gagal,” pungkasnya.

=========

REFERENSI
https://tirto.id/bukan-diretas-website-kpu-down-karena-jumlah-pengakses-tinggi-dmFK
https://kabarmedan.com/cek-fakta-server-kpu-diserbu-bertubi-tubi-hacker-dari-amerika/
https://nasional.kompas.com/read/2019/04/18/18055721/viral-soal-kabar-server-diretas-komunis-china-ini-kata-kpu
https://kumparan.com/@kumparantech/jika-situs-kpu-diretas-apakah-bisa-pengaruhi-hasil-pemilu-2019-1quayQTg4Vz
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20190418153850-185-387664/pakar-jelaskan-kemunculan-tagar-inaelectionobserversos
https://www.cnnindonesia.com/pilkadaserentak/nasional/20180703145756-32-311128/situs-kpu-diretas-serangan-hampir-tiap-menit?
https://tekno.kompas.com/read/2016/09/30/17120067/kenapa.banyak.serangan.cyber.dari.indonesia.
https://www.csoonline.com/article/3217944/8-top-cyber-attack-maps-and-how-to-use-them.html
https://pemilu2019.kpu.go.id/