[SALAH] “Diduga Dibangun Pakai Material Kw 3 dari China”

Selain menggunakan foto yang tidak terkait dengan isi artikel, Nahimunkar(dot)org menyalin artikel salinan dari situs lain dengan merubah judul. Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Koneksi yang Salah, Konten yang Salah.

======

SUMBER

http://bit.ly/2D44SxE, Nahimunkar(dot)org: “16 Proyek Jokowi Ambruk, Tewaskan 11 Orang, Diduga Dibangun Pakai Material Kw 3 dari China”.

======

NARASI

“Dampak ambruknya infrastruktur Jokowi ini merusak citra Jokowi karena dianggap terlalu ambisius. Kasus ambruknya infrastruktur Jokowi ini sudah menewaskan 11 orang dan melukai 22 orang lainnya. Hingga kini belum ada satu pun dari 16 kasus ambruknya infrastruktur Jokowi itu yang dilimpahkan ke Kejaksaan…”, salinan narasi selengkapnya di (6) bagian REFERENSI.

======

PENJELASAN

(1) http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S, First Draft News: “Koneksi yang Salah

Ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten”.

  • Artikel SUMBER menggunakan foto yang tidak terkait dengan isi.

“Konten yang Salah

Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”.

  • Foto jembatan Babat-Widang yang ambruk dipadankan dengan artikel yang tidak berkaitan, jembatan yang dibangun di tahun 1970-an dihubung-hubungkan dengan proyek infrastruktur yang pembangunannya bukan di tahun 1970-an.

——

(2) Sumber artikel pertama yang disalin oleh Nahimunkar(dot)org, RADAR PRIBUMI: “IPW : SELAMA 9 BULAN, 16 PROYEK JOKOWI AMBRUK, POLISI KEMANA?” yang menyalin dari RMOL: “Proyek Infrastruktur Jokowi Banyak Makan Korban, Polisi Kemana?”. Selengkapnya di (1) bagian REFERENSI.

——

(3) Sumber artikel kedua, VIVA: “Material KW 3 China Dinilai Penyebab Rontoknya Proyek”, selengkapnya di (2) bagian REFERENSI.

——

(4) Salah satu sumber foto pertama yang digunakan oleh Nahimunkar(dot)org, iNews(dot)id: “Jembatan Babat-Widang Ambruk, Jalur Lamongan-Tuban Terputus”, selengkapnya di (3) bagian REFERENSI.

Salah satu sumber foto kedua, kumparanNEWS: “Petaka di Jembatan Widang Tuban”, selengkapnya di (4) bagian REFERENSI.

——

(5) Salah satu artikel yang terkait dengan Jembatan Widang Tuban, detikFinance: “Jembatan Babat-Widang yang Ambrol Dibangun Sejak 1970-an”, selengkapnya di (5) bagian REFERENSI.

======

REFERENSI

(1) http://bit.ly/2Gamb4a, RMOL: “Proyek Infrastruktur Jokowi Banyak Makan Korban, Polisi Kemana?

RABU, 18 APRIL 2018 , 21:07:00 WIB | LAPORAN:

(foto)
Ilustrasi/Net

RMOL. Proyek infrastruktur buatan Presiden Jokowi yang masih saja ambruk meski sudah dievaluasi dipertanyakan Indonesia Police Watch (IPW).

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane menjelaskan, dari data yang dimiliki, ada sekitar 16 proyek Jokowi yang ambruk selama sembilan bulan terakhir, mulai dari Agustus 2017 hingga 17 April 2018.

“Mulai dari beton cor yang ambruk, tiang penyanggah yang rubuh hingga girder yang jatuh. Kasus ambruknya infrastruktur Jokowi ini sudah menewaskan 11 orang dan melukai 22 orang lainnya,” jelas Neta dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (18/4).

Ironisnya, lanjut dia, polisi terkesan kurang serius menangani kasus-kasus tersebut. Terbukti hingga kini belum ada satu pun dari 16 kasus ambruknya infrastruktur Jokowi itu yang dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Polisi hanya selalu mengatakan, sedang melakukan pendalaman, meski sudah menetapkan sejumlah tersangka,” tekan Neta.

“Bisa jadi, sikap polisi yang kurang serius ini tidak menimbulkan efek jera dan kasus infrastruktur Jokowi yang ambrol terus berulang. Dimulai dari ambrolnya Proyek LRT di Palembang pada Agustus 2017 hingga ambruknya Proyek Tol Bitung pada 17 April 2018 yang menewaskan 2 orang,” sambungnya.

IPW berharap polisi bekerja cepat dan serius menuntaskan kasus ambruknya 16 proyek infrastruktur Jokowi ini. Sehingga kasusnya bisa terungkap di pengadilan, apakah ada sabotase atau hanya faktor kelalaian.

“Dengan dituntaskannya kasus ini ada efek jera dan muncul kehati hatian dalam menyelesaikan proyek proyek itu secara profesional,” tegasnya.

Neta melanjutkan, ambrolnya 16 proyek infrastruktur Jokowi itu memunculkan 5 dampak negatif. Pertama, akan merusak citra Jokowi karena dianggap terlalu ambisius. Kedua, merugikan keuangan negara. Ketiga, kekhawatiran sabotase. Keempat, standar keamanan proyek itu seperti diabaikan. Kelima, memunculkan kekhawatiran masyarakat jika melintas di sekitar proyek tersebut.

“Dalam menangani kasus ambrolnya 16 proyek infrastruktur Jokowi ini, polisi sebenarnya bisa mengenakan pasal berlapis. Bahkan bisa mengenakan UU 22/2009 tentang lalulintas angkutan jalan yang menjerat tersangkanya dengan hukuman lima tahun penjara. Tapi sayangnya polisi masih masih bekerja lamban,” tandasnya. [sam]”

——

(2) http://bit.ly/2GmSWKG VIVA: “Material KW 3 China Dinilai Penyebab Rontoknya Proyek

Tim VIVA »
BERITANASIONAL
Rabu, 18 April 2018 | 17:18 WIB

(foto)
Photo :
Kantor SAR Manado
Material proyek tol di Desa Tumaluntung, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, dilaporkan ambruk pada Selasa, 17 April 2018.

VIVA – Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, menduga banyaknya proyek infrastruktur yang hancur sebelum waktunya akibat kongkalikong material dan tenaga kerja asing (TKA) yang tidak tersertifikasi.

“Satu lagi proyek infrastruktur yang sarat dengan dugaan penyelewengan bahan bakunya menelan korban jiwa beberapa hari yang lalu. Material proyek pembangunan jalan tol di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, runtuh. Tiga pekerja proyek tertimbun reruntuhan material jalan tol,” kata Arief melalui pesan tertulis kepada VIVA, Rabu, 18 April 2018.

Arief mempertanyakan, ada apa sebenarnya dengan proyek-proyek infrastruktur yang diprogramkan Presiden Joko Widodo, sehingga banyak mengalami kecelakaan sebelum difungsikan?

Arief menyebutkan, selain di Minahasa, beberapa konstruksi infrastruktur yang mengalami kecelakaan di antaranya, tiang pancang jalan tol Becakayu, jembatan di Bandara Cengkareng, konstruksi beton pada proyek LRT di Pulomas.

(foto)

Tiang pancang proyek Tol Becakayu roboh.

“Sepertinya semua pekerjaan konstruksi infrastruktur yang dibangun Joko Widodo sudah tidak lagi memperhatikan K3 alias Keselamatan dan Kesehatan Kerja, sehingga banyak kecelakaan kerja yang menyebabkan kerugian jiwa pada buruh-buruh Indonesia,” ujar Arief.

Arief menduga, sejumlah proyek infrastruktur yang didanai China, banyak menggunakan bahan material yang diimpor dari China. “Di mana kualitasnya KW 3, dan sangat rawan dengan kerusakan saat pembangunannya dan di masa depan,” katanya.

Arief mencontohkan barang yang diimpor untuk pembangunan infrastruktur seperti besi impor yang murah dari China. Menurut Arief, kualitasnya belum tentu baik. Hal tersebut menjadi lumrah karena banyaknya permainan dalam pembangunan proyek infrastruktur.

“Jadi lumrah saja. Akhirnya banyak infrastruktur yang dibangun dengan mengunakan material KW 3 alias kualitas grade 3,” jelasnya.

Belum lagi dengan tenaga kerja asing yang sangat bebas masuk ke Tanah Air. Arief mempertanyakan, dalam pengerjaan proyek-proyek infrastruktur, apakah mereka benar-benar memiliki sertifikasi yang bermutu.

“Karena itu Depnaker juga harus lebih aktif untuk mengawasi pembangunan proyek-proyek infrastruktur terkait penerapan K3 dan penggunaan TKA yang bersertifikat,” tegasnya.

Ia juga mendesak DPR untuk segera memanggil semua kontraktor, agar bicara jujur terkait biaya proyek yang sebenarnya untuk membangun infrastruktur.

“Dan Presiden jangan pura-pura enggak dengar. Jangan sampai infrastruktur yang dibangun di era Joko Widodo justru ketika digunakan banyak menyebabkan kecelakaan,” ujar Arief.

——

(3) http://bit.ly/2BjoRbD iNews(dot)id: “Jembatan Babat-Widang Ambruk, Jalur Lamongan-Tuban Terputus

Ihya’ Ulumuddin · Selasa, 17 April 2018 – 12:31 WIB

(foto)

Truk tercebur ke sungai di Jembatan Babat-Widang yang ambruk di Lamongan. (Foto: Istimewa)

SURABAYA, iNews.id – Jembatan Babat-Widang penghubung Kabuten Lamongan-Tuban yang melintas di atas Sungai Bengawan Solo ambruk, Selasa (17/4/2018). Jembatan di sisi barat arah Babat ini patah di bagian ujung selatan dan ambruk hingga ke dasar sungai.

Belum ada konfirmasi jatuhnya korban dalam musibah ini. Namun, berdasarkan foto dan video yang viral di aplikasi percakapan WhatsApp, terdapat dua truk besar yang jatuh. Satu truk dalam posisi terbalik. Sementara satu truk lagi menindih di atasnya. Besar kemungkinan, truk ini meluncur deras, ketika tepat berada di atas jembatan.

Hingga berita ini ditulis belum ada konfirmasi apapun dari pihak berwenang. Di lokasi kejadian, juga baru ada sejumlah petugas. Mereka membuat pengaman, menghalau warga yang berduyun-duyun melihat lokasi kejadian.

“Kejadiannya siang tadi sekitar pukul 11. 00 WIB. Saya sendiri dikabari teman dan menuju ke sini,” kata salah seorang warga Babat, Ainin Fatihatul Fahmi, Selasa (17/4/2018).

Ainin tidak mengetahui pasti penyebab patahnya jembatan nasional tersebut. Namun, berdasarkan pantauan lapangan, tiang penyangga jembatan di bagian ujung (dekat tanggul sungai) ambruk. “Kemungkinan karena tergerus air. Sehingga ambrol,” katanya.

Sementara itu pantauan di lapangan, ambruknya jembatan ini membuat akses Lamongan-Tuban putus sebagian. Kendaraan dari Lamongan menuju Tuban dialihkan ke jembatan di sisi barat menjadi dua jalur.

Imbasnya, laju kendaraan dari dan menuju Tuban tersendat. Untuk diketahui, jembatan penghubung antarkabupaten ini merupakan jalur utama Jawa Timur-Jawa Tengah di wilayah Pantura. Lokasinya tepat di Kecamatan Widang dan Babat. Atau di ujung kompleks Pondok Pesantren Langitan.

Editor : Himas Puspito Putra”.

——

(4) http://bit.ly/2SkNAWM kumparanNEWS: “8 April 2018 7:50 WIB

Petaka di Jembatan Widang Tuban

(foto)
Jembatan penghubung Lamongan-Tuban ambruk. (Foto: Dok. Istimewa)

Jembatan Babat-Widang, Tuban, Jawa Timur tiba-tiba ambruk pada Selasa (17/4). Tiga truk yang berada di atas jembatan ikut jatuh dan tercebut ke Sungai Bengawan Solo yang berada tepat di bawah jembatan. Dua sopir juga meninggal dunia.

Tak lama setelah kejadian, warga sekitar langsung memenuhi lokasi. Jembatan sisi Timur yang tidak ambruk langung dipadati oleh warga yang ingin melihat kejadian itu.

Jembatan yang menghubungkan Widang, Tuban dengan Babat, Lamongan, Jawa Timur itu memagn sudah terbilang cukup tua. Sebelum kejadian ini, jembatan pernah dua kali amblas 10 cm pada 2015 dan 20 cm pada 2017.

Kerusakan ini diduga karena banyak baut pada pelat pengait yang kendur. Tapi, tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu.

(foto)
Jembatan ambruk di Tuban (Foto: ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)

Direktur Pembangunan Jalan Bina Marga PUPR Gani Ghazaly Akman mengatakan, sejak beroperasi selama 30 tahun, jembatan ini memang belum diberi penguat. Saat ini, pihaknya akan fokus pada perbaikan jembatan.

“Dari jembatan yang di Pantura di Jabar sampai Jatim ini memang seluruhnya belum diganti dan belum diberi perkuatan dengan menggunakan kabel. Nanti akan segera diperbaiki,” tegas Gani.

Kondisi ini diperparah dengan banyaknya kendaraan berat yang melintas di jembatan itu. Akumulasi usia uzur jembatan dengan beban berat itulah yang membuat jembatan akhirnya ambruk.

“Jembatan ambrol karena ketidakmampuan jembatan itu yang sudah tua, apalagi kendaraan-kendaraanya bawa muatan yang berat,” kata Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Machfud Arifin seperti dikutip dari antara, Selasa (17/4).

(foto)
Jembatan ambruk di Tuban (Foto: ANTARA FOTO/Aguk Sudarmojo)

Dugaan itu diperkuat dengan adanya tiga truk yang melintas tepat di atas jembatan yang ambruk. Truk-truk ini juga membawa muatan yang cukup berat.

“Data yang ada sekarang ini kan ada tiga truk, dua berisi pasir dan satu berisi limbah smelter. Truk pasir ini selalu kelebihan beban mengakut lebih rata-rata, satu truk beratnya 40 ton. Ditambah limbah smelter ini sama juga. Jadi, tiga ini kami perkirakan beratnya 120 ton,” kata Dirjen Bina Marga Arie Setiadi.

(foto)
Jembatan penghubung Lamongan-Tuban ambruk. (Foto: Dok. Istimewa)

Jembatan yang menghubungkan Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan dengan Kecamatan Widang, Kabupaten Tuban, ambruk, Selasa (17/4). Jembatan yang membentang melintasi aliran sungai Bengawan Solo ini merupakan salah satu jalur perlintasan kendaraan yang mengubungkan wilayah Pantura Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Jembatan ini memiliki dua ruas jalan: kiri dan kanan. Jembatan yang ambruk adalah ruas jembatan kiri (dari arah Lamongan menuju Tuban). Saat ini ruas jembatan kanan difungsikan dua arah guna mengurai kepadatan kendaraan yang akan melintas.

Dikutip dari Blok Tuban –publisher yang bekerja sama dengan kumparan– arus lalu lintas dari arah Surabaya macet hingga Pasar Agro, bergantian satu jalur mengarah ke Tuban melewati jembatan sisi timur, atau yang mengarah ke Surabaya. Sementara itu dari arah Bojonegoro, macet mulai dari Pasar Babat.

(video di https://youtu.be/x8AUok1dl1E).

——

(5) http://bit.ly/2UCzsFG detikfinance: “Selasa, 17 Apr 2018 14:35 WIB

Jembatan Babat-Widang yang Ambrol Dibangun Sejak 1970-an

Eduardo Simorangkir – detikFinance

(foto)
Foto: Eko Sudjarwo

Jakarta – Jembatan nasional penghubung jalur Babat-Widang, Lamongan yang ambrol pada pagi tadi ternyata dibangun sudah lama, yakni sejak tahun 1970-an. Direktur Jembatan Ditjen Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Iwan Zarkasi mengatakan jembatan tersebut terakhir kali dilakukan pemeliharaan pada tahun lalu.

“Itu proyek nasional. Dibangun tahun 70-an, atau di tahun 1975-an. Terakhir perawatan tahun lalu sekalian ada dicat dan sebagainya,” katanya kepada detikFinance saat dihubungi, Selasa (17/4/2018).

Berdasarkan penelusuran detikFinance dari berbagai sumber, jembatan lama yang menghubungkan wilayah Kabupaten Lamongan dan Tuban, Jawa Timur ini memang kondisinya sudah lama cukup memprihatinkan.

Di tahun 2013, jembatan ini masih beralaskan papan-papan kayu yang cukup jelek kondisinya tapi menjadi lintasan banyak kendaraan sehingga membahayakan pengendara yang lewat.

Jika tak waspada, para pengendara yang ada di atas jembatan memang rentan jatuh, dan risikonya sangat fatal karena bisa tercebur di dasar sungai yang arusnya sangat deras.

Jembatan Babat-Widang ini juga diketahui telah ada sejak zaman penjajahan Belanda wujudnya belum seperti sekarang. Baru pemerintah membangun jembatan yang baru pada 1970-an. Saat itu, jalan ini menjadi sarana transportasi yang menghubungkan tiga kabupaten, yakni Lamongan-Tuban-Bojonegoro, serta lintasan kereta api jurusan Babat-Tuban.

Iwan mengatakan, pihaknya akan segera melakukan penanganan dengan mengirim jembatan baru ke lokasi. Namun belum dipastikan kapan tepatnya jembatan baru itu akan dikirim dan seperti apa penggunaannya.

“Kita akan kirimkan jembatan baru kemudian dipasang di sana. Tapi ini perlu waktu,” pungkasnya.

(eds/zlf)”.

——

(6) http://bit.ly/2D44SxE Nahimunkar(dot)org: “16 Proyek Jokowi Ambruk, Tewaskan 11 Orang, Diduga Dibangun Pakai Material Kw 3 dari China

Posted on 26 April 2018by Nahimunkar.com

(foto)

Dampak ambruknya infrastruktur Jokowi ini merusak citra Jokowi karena dianggap terlalu ambisius.

Kasus ambruknya infrastruktur Jokowi ini sudah menewaskan 11 orang dan melukai 22 orang lainnya.

Hingga kini belum ada satu pun dari 16 kasus ambruknya infrastruktur Jokowi itu yang dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Polisi hanya selalu mengatakan, sedang melakukan pendalaman, meski sudah menetapkan sejumlah tersangka,” kata Neta dari IPW.

Dalam 9 bulan, kasus itu dimulai dari ambrolnya Proyek LRT di Palembang pada Agustus 2017 hingga ambruknya Proyek Tol Bitung pada 17 April 2018 yang menewaskan 2 orang.

Neta melanjutkan, ambrolnya 16 proyek infrastruktur Jokowi itu memunculkan 5 dampak negatif. Pertama, akan merusak citra Jokowi karena dianggap terlalu ambisius. Kedua, merugikan keuangan negara. Ketiga, kekhawatiran sabotase. Keempat, standar keamanan proyek itu seperti diabaikan. Kelima, memunculkan kekhawatiran masyarakat jika melintas di sekitar proyek tersebut.

Sementara itu Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono menduga, sejumlah proyek infrastruktur yang didanai China, banyak menggunakan bahan material yang diimpor dari China. “Di mana kualitasnya KW 3, dan sangat rawan dengan kerusakan saat pembangunannya dan di masa depan,” katanya

Inilah beritanya.


IPW : SELAMA 9 BULAN, 16 PROYEK JOKOWI AMBRUK, POLISI KEMANA?

(foto)

Proyek infrastruktur buatan Presiden Jokowi yang masih saja ambruk meski sudah dievaluasi dipertanyakan Indonesia Police Watch (IPW).

Ketua Presidium IPW, Neta S Pane menjelaskan, dari data yang dimiliki, ada sekitar 16 proyek Jokowi yang ambruk selama sembilan bulan terakhir, mulai dari Agustus 2017 hingga 17 April 2018.

“Mulai dari beton cor yang ambruk, tiang penyanggah yang rubuh hingga girder yang jatuh. Kasus ambruknya infrastruktur Jokowi ini sudah menewaskan 11 orang dan melukai 22 orang lainnya,” jelas Neta dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi, Rabu (18/4).

Ironisnya, lanjut dia, polisi terkesan kurang serius menangani kasus-kasus tersebut. Terbukti hingga kini belum ada satu pun dari 16 kasus ambruknya infrastruktur Jokowi itu yang dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Polisi hanya selalu mengatakan, sedang melakukan pendalaman, meski sudah menetapkan sejumlah tersangka,” tekan Neta.

“Bisa jadi, sikap polisi yang kurang serius ini tidak menimbulkan efek jera dan kasus infrastruktur Jokowi yang ambrol terus berulang. Dimulai dari ambrolnya Proyek LRT di Palembang pada Agustus 2017 hingga ambruknya Proyek Tol Bitung pada 17 April 2018 yang menewaskan 2 orang,” sambungnya.

IPW berharap polisi bekerja cepat dan serius menuntaskan kasus ambruknya 16 proyek infrastruktur Jokowi ini. Sehingga kasusnya bisa terungkap di pengadilan, apakah ada sabotase atau hanya faktor kelalaian.

“Dengan dituntaskannya kasus ini ada efek jera dan muncul kehati hatian dalam menyelesaikan proyek proyek itu secara profesional,” tegasnya.

Neta melanjutkan, ambrolnya 16 proyek infrastruktur Jokowi itu memunculkan 5 dampak negatif. Pertama, akan merusak citra Jokowi karena dianggap terlalu ambisius. Kedua, merugikan keuangan negara. Ketiga, kekhawatiran sabotase. Keempat, standar keamanan proyek itu seperti diabaikan. Kelima, memunculkan kekhawatiran masyarakat jika melintas di sekitar proyek tersebut.

“Dalam menangani kasus ambrolnya 16 proyek infrastruktur Jokowi ini, polisi sebenarnya bisa mengenakan pasal berlapis. Bahkan bisa mengenakan UU 22/2009 tentang lalulintas angkutan jalan yang menjerat tersangkanya dengan hukuman lima tahun penjara. Tapi sayangnya polisi masih masih bekerja lamban,” tandasnya. [sam]

Sumber: radarpribumi.com


ARIEF PUYONO : PROYEK YANG AMBRUK DIBANGUN PAKAI MATERIAL KW 3 DARI CHINA

(foto)

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono, menduga banyaknya proyek infrastruktur yang hancur sebelum waktunya akibat kongkalikong material dan tenaga kerja asing (TKA) yang tidak tersertifikasi.

“Satu lagi proyek infrastruktur yang sarat dengan dugaan penyelewengan bahan bakunya menelan korban jiwa beberapa hari yang lalu. Material proyek pembangunan jalan tol di Minahasa Utara, Sulawesi Utara, runtuh. Tiga pekerja proyek tertimbun reruntuhan material jalan tol,” kata Arief melalui pesan tertulis kepada VIVA, Rabu, 18 April 2018.

Arief mempertanyakan, ada apa sebenarnya dengan proyek-proyek infrastruktur yang diprogramkan Presiden Joko Widodo, sehingga banyak mengalami kecelakaan sebelum difungsikan?

Arief menyebutkan, selain di Minahasa, beberapa konstruksi infrastruktur yang mengalami kecelakaan di antaranya, tiang pancang jalan tol Becakayu, jembatan di Bandara Cengkareng, konstruksi beton pada proyek LRT di Pulomas.

“Sepertinya semua pekerjaan konstruksi infrastruktur yang dibangun Joko Widodo sudah tidak lagi memperhatikan K3 alias Keselamatan dan Kesehatan Kerja, sehingga banyak kecelakaan kerja yang menyebabkan kerugian jiwa pada buruh-buruh Indonesia,” ujar Arief.

Arief menduga, sejumlah proyek infrastruktur yang didanai China, banyak menggunakan bahan material yang diimpor dari China. “Di mana kualitasnya KW 3, dan sangat rawan dengan kerusakan saat pembangunannya dan di masa depan,” katanya.

Arief mencontohkan barang yang diimpor untuk pembangunan infrastruktur seperti besi impor yang murah dari China. Menurut Arief, kualitasnya belum tentu baik. Hal tersebut menjadi lumrah karena banyaknya permainan dalam pembangunan proyek infrastruktur.

“Jadi lumrah saja. Akhirnya banyak infrastruktur yang dibangun dengan mengunakan material KW 3 alias kualitas grade 3,” jelasnya.

Belum lagi dengan tenaga kerja asing yang sangat bebas masuk ke Tanah Air. Arief mempertanyakan, dalam pengerjaan proyek-proyek infrastruktur, apakah mereka benar-benar memiliki sertifikasi yang bermutu.

“Karena itu Depnaker juga harus lebih aktif untuk mengawasi pembangunan proyek-proyek infrastruktur terkait penerapan K3 dan penggunaan TKA yang bersertifikat,” tegasnya.

Ia juga mendesak DPR untuk segera memanggil semua kontraktor, agar bicara jujur terkait biaya proyek yang sebenarnya untuk membangun infrastruktur.

“Dan Presiden jangan pura-pura enggak dengar. Jangan sampai infrastruktur yang dibangun di era Joko Widodo justru ketika digunakan banyak menyebabkan kecelakaan,” ujar Arief. (viva)

Sumber: radarpribumi.com

(nahimunkar.org)

(Dibaca 49.347 kali, 10 untuk hari ini)”.

======

Sumber: https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/830806550585215/