[SALAH] “JAGAN KETAWA. KETAWANYA DALAM HATI AJA”

Video yang digunakan oleh post SUMBER adalah hasil suntingan pidato Jokowi di Hari Pers Nasional tahun 2015, selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Konten yang dimanipulasi.

======

SUMBER

http://bit.ly/2Fzskpw, post oleh akun “Abdul Khalik” (facebook.com/saya.aliek), sudah dibagikan 42.438 kali per tangkapan layar dibuat.

======

NARASI

“Tonton Dululah Tapi Dengan Syarat ” JAGAN KETAWA. KETAWANYA DALAM HATI AJA ” Biyar Bisa Ambil Kesimpulan .๐Ÿ˜Š๐Ÿค“๐Ÿ˜’”

======

PENJELASAN

(1) http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S, First Draft News: โ€œKonten yang dimanipulasi

Ketika informasi atau gambar yang asli dimanipulasi untuk menipu”.

  • Post SUMBER menggunakan video hasil suntingan, video yang asli pidato Jokowi di acara Silaturahmi Hari Pers Nasional di 27 April 2015 .
  • Untuk memelintir dan membangun premis, post SUMBER menambahkan narasi yang tidak berhubungan dengan konteks video yang sebenarnya.

——

(2) Video disunting menggunakan aplikasi “VideoShow”.

——

(3) Salah satu sumber video, http://bit.ly/2RTie9m YouTube: “Kocak!!! Pidato Sambutan Jokowi – Silaturahmi Hari Pers Nasional 27 April 2015

Cody Perry
Published on May 4, 2015

Pidato Sambutan Kocak Dari Presiden Jokowi Di Acara Silaturahmi Pers Nasional Membahas tentang kartu sehat,psks sampai kritik pedas kenaikan BBM.”

——

(4) KOMPAS(dot)com: “Senin, 27 April 2015, di Auditorium TVRI, Jalan Gerbang Pemuda Nomor 8, Senayan, Jakarta, Rosiana Magdalena Silalahi mengatakan, dirinya adalah “petugas acara”. Sementara Suryopratomo mengatakan, acara petang itu istimewa karena baru tahun ini Hari Pers Nasional diadakan dua kali”, selengkapnya di bagian REFERENSI.

======

REFERENSI

http://bit.ly/2CnRpjV, KOMPAS(dot)com: “Kritik Pedas dan “Seger”

Kompas.com – 05/05/2015, 15:00 WIB

(foto)
Presiden Joko Widodo didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi (kiri) memberikan keterangan pada wartawan terkait pertemuan dengan Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah usai membuka Asian African Business Summit yang merupakan rangkaian Peringatan 60 Tahun Konferensi Asia Afrika di Jakarta Convention Centre, Jakarta, Selasa (21/4/2015). Indonesia kembali menyatakan ketegasannya untuk mendukung kemerdekaan Negara Palestina.(TRIBUNNEWS / DANY PERMANA)

JAKARTA, KOMPAS – Senin, 27 April 2015, di Auditorium TVRI, Jalan Gerbang Pemuda Nomor 8, Senayan, Jakarta, Rosiana Magdalena Silalahi mengatakan, dirinya adalah “petugas acara”. Sementara Suryopratomo mengatakan, acara petang itu istimewa karena baru tahun ini Hari Pers Nasional diadakan dua kali.

Kata-kata dua pemandu acara Silaturahmi Pers Nasional yang dihadiri Presiden Joko Widodo di gedung TVRI disambut hadirin dengan tepuk tangan dan tawa jenaka. Suasana jenaka juga disemarakkan oleh beberapa kalimat dalam pidato Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia yang juga Penanggung Jawab Hari Pers Nasional (HPN) 2015 Margiono.

Margiono, antara lain, mengatakan, ketidakhadiran Jokowi pada HPN di Batam, Senin, 9 Februari 2015, memunculkan beberapa seloroh seperti ini, “Katanya, Jokowi adalah media darling, sekarang medianya ada, lalu di mana darling-nya, di mana, di mana?”

Dalam acara di gedung TVRI itu, Jokowi diminta naik ke panggung dan dipersilakan mengenakan jaket merah putih bertuliskan “Media Darling”. Tapi, huruf “A” dalam kata “darling” tampak seperti huruf “O” sehingga kata “darling” seolah-olah seperti kata “dorling”. “Kancingnya banyak,” ujar Jokowi di awal pidatonya.

Senin (27/4) itu, Jokowi terbang meninggalkan acara Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Malaysia, kembali ke Jakarta untuk bersilaturahim dengan insan pers Indonesia. “Saya mendarat di Halim Perdanakusuma dan Pak JK (Wakil Presiden Jusuf Kalla) terbang ke Malaysia untuk menggantikan saya. Sampai begitu. Saya takut,” ujar Jokowi.

Jokowi mengatakan, tengah malam, pagi, siang, dan sore, dirinya membaca tulisan di segala macam media massa. “Sampai yang kecil-kecil, termasuk tulisan yang nyeleneh, melintir-melintir, saya baca semua,” ujar Jokowi yang menekankan kontrol pers itu penting.

Terkait dengan kenaikan harga minyak, Jokowi mengatakan hal itu menyakitkan, tapi di kemudian hari akan menurunkan harga-harga karena tarif transportasi turun separuhnya akibat tersedianya infrastruktur.

“Sekarang banyak kritik, tulisan pedas-pedas, tidak mengapa. Bagi saya itu seger-seger saja. Tulis terus, tidak apa-apa, pedas itu seger,” ujar Jokowi berkaitan dengan kebijakan harga minyak tersebut.

Namun, ia menghendaki kritik perlu memberi solusi, menumbuhkan optimisme, dan membuat orang berpikir positif.

Soal acara ini, Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Ramadhan Pohan berkomentar, Presiden Jokowi kesannya menjalankan kekuasaan dan pemerintahan dengan gaya selebritas, ingin terus disambut layaknya rock star, harus dielu-elukan. Makanya, dia suka panggung.

“Apa masih confidence dia menerima plakat dan jubah presiden media darling? ” tanya Ramadhan yang pernah aktif jadi wartawan lapangan.

Ditanya apa kritiknya terhadap pemerintahan Jokowi, Ketua MPR Zulkifli Hasan yang hadir dalam acara silaturahim dengan insan pers itu, antara lain, mengatakan, kabinet kurang fokus pada prioritas. “Terlalu mementingkan pencitraan dan retorika. Mungkin karena baru,” ujar Ketua Umum PAN itu.

Yuk, kita kritik terus yang pedas sekali supaya pemerintah lebih seger. (J Osdar)

  • Artikel ini terbit di harian Kompas edisi Selasa (5/5/2015) dengan judul “Kritik Pedas dan ‘Seger'”

Editor: Laksono Hari Wiwoho
Sumber: Harian Kompas”.

======

Sumber: https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/818749405124263/