[SALAH] “BIARKAN YOGYAKARTA TANPA JALAN TOL”

Post sumber menggunakan tangkapan layar dan menyalin artikel dari sumber yang berbeda, untuk membangun premis Sri Sultan menolak pembangunan jalan tol. Selain itu, artikel yang disalin sudah diklarifikasi bahwa Sri Sultan tidak keberatan jika dibangun di atas jalan yang saat ini sudah ada (tol layang), dan per post ini disusun mengenai tol layang sudah disepakati antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Disinformasi.

======

SUMBER

(1) Pertanyaan melalui Facebook Messenger.

——

(2) http://bit.ly/2RQIxKm, post oleh akun “Riyanto Agung Subekti” (facebook.com/riyanto.agungsubekti), sudah dibagikan 47 kali per tangkapan layar dibuat.

——

(3) http://bit.ly/2Ol7kbs, post oleh Page “GridOto” (facebook.com/GridOto), sumber dari post oleh akun di atas.

======

NARASI

“#Wejangan

SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X

Ternyata pembangunan infrastruktur dalam bentuk jalan “tol” yg sedang digagas Jokowi tidak berarti apa-apa di mata sultan Jogja.

BIARKAN YOGYAKARTA TANPA JALAN TOL KARENA HANYA MENGUNTUNGKAN SI PEMBUAT TOL

Keren… Sultan Jogja Tolak Tol. Kenapa?…”, selengkapnya di (5) bagian REFERENSI.

======

PENJELASAN

(1) http://bit.ly/2rhTadC / http://bit.ly/2MxVN7S, First Draft News: “Konten yang Salah

Ketika konten yang asli dipadankan dengan konteks informasi yang salah”.

Untuk membangun premis Sri Sultan menolak pembangunan tol, post sumber mengambil tangkapan layar artikel yang berbeda dengan artikel yang disalin isinya,

* Artikel yang diambil tangkapan layar: GridOto(dot)com: “Tegas, Sri Sultan Hamengkubuwono X Tolak Jalan Tol di Yogyakarta, Pilih Outer Ring Road”, selengkapnya di (4) bagian REFERENSI
* Artikel yang disalin isinya: Kompas(dot)com: “Sultan HB X Tolak Pembangunan Jalan Tol di Yogyakarta”, selengkapnya di (3) bagian REFERENSI.

Selain itu, artikel tersebut juga sudah diklarifikasi

* BeritaSatu: “Ini Klarifikasi Sultan HB X soal Jalan Tol”, selengkapnya di (2) bagian REFERENSI.

——

(2) Per post ini disusun, antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat sudah setuju untuk dibangun tol layang,

* Detik: “Sultan Setuju Dua Ruas Tol di Yogya Dibangun Melayang”, selengkapnya di (1) bagian REFERENSI.

======

REFERENSI

(1) http://bit.ly/2ITiEFP, Detik: “Senin, 25 Jun 2018 16:25 WIB

Sultan Setuju Dua Ruas Tol di Yogya Dibangun Melayang

Usman Hadi – detikFinance

(foto)
Ilustrasi/Foto: Dok. Jasa Marga.

Yogyakarta – Gubernur DIY, Sri Sultan HB X memastikan Yogyakarta juga akan dilewati tol. Menurutnya, telah ada kesepakatan antara pemerintah daerah dengan pusat terkait pembangunan tol yang menghubungkan Yogyakarta-Solo-Semarang atau Joglosemar.

“Kami sudah ada kesepakatan dalam pengembangan Yogya dan kawasan Joglosemar,” kata Sultan dalam acara syawalan di Parasamya Pemkab Bantul, Senin (25/6/2018).

Raja Keraton Ngayogyakarta ini menjelaskan, nantinya antara Yogya-Solo akan dibangun jalan tol melewati Prambanan. Namun pihaknya keberatan bila dilakukan pembebasan lahan dalam pembangunan tol tersebut.

“Karena terlalu banyak situs-situs yang ada di Prambanan yang belum diverifikasi, diidentifikasi. Jadi risikonya sangat berat untuk mengizinkan pembebasan tanah untuk melewati Prambanan,” tuturnya.

“Sehingga pilihan yang diambil, yang sudah kita sepakati dengan pemerintah pusat di atas Ring Road ada (tol layang). Dari Ring Road Utara akan lewat ke Jalan Yogya-Solo yang di atasnya akan ada jembatan untuk tol,” jelasnya.

Sultan mengatakan, dengan konsep tersebut pembangunan jalan tol Yogya-Solo melewati Prambanan biayanya lebih murah. Sebab, tol layang akan melewati jalur yang sudah ada sehingga tidak diperlukan pembebasan lahan.

Selain Tol Yogya-Solo, kata Sultan, pihaknya juga menuai kata sepakat dengan pemerintah pusat perihal pembangunan Tol Yogya-Semarang. Rutenya dari Semarang dibangun tol ke Bawen, kemudian ke Secang sampai Borobudur.

“Selanjutnya Borobudur ke Yogya. Borobudur ke Yogya itu kira-kira lewatnya di sebelah utara markas TNI (Kompi Kavaleri Panser 2/BS) yang ada di Demak Ijo (Gamping, Sleman),” ungkapnya.

“Tapi itu elevated (tol layang), di atas untuk nyambung di Ring Road Utara sebelah barat, lewat di atas sungai Selokan Mataram. Itu sudah disepakati untuk tol,” kata Sultan.

Selanjutnya, untuk mengurangi kemacetan di wilayah Yogyakarta juga telah ada kesepakatan terkait pembangunan Outer Ring Road. Kini progres pembangunan Outer Ring Road sudah sampai pada tahap pembebasan tanah.

“Arah jalannya tidak perlu saya jelaskan, hanya garis besarnya. Tapi yang jelas itu dari Tempel ke Prambanan ke selatan terus ke barat, di mana nanti Sentolo ke utara itu jadi empat jalur Outer Ring Road untuk bisa tembus ke Muntilan,” ungkapnya.

“Sehingga dengan adanya Outer Ring Road kami tidak memerlukan jalan tol lagi. Karena jarak ini sudah terlalu dekat dengan International Air Port. Kami berkeberatan kalau ada tol itu yang menyamping dari Kulon Progo sampai kota,” pungkas Sultan.

(eds/eds)”.

——

(2) http://bit.ly/2CJOS6c, BeritaSatu: “Ini Klarifikasi Sultan HB X soal Jalan Tol

(foto)
Sri Sultan Hamengku Buwono X. ( Foto: Antara )

Fuska Sani Evani / AB Sabtu, 12 Agustus 2017 | 09:08 WIB

Yogyakarta – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa dirinya tidak menolak pembangunan jalan bebas hambatan atau jalan tol. Namun, khusus wilayah DIY yang berpenduduk padat dan mayoritas mengandalkan perdagangan sebagai mata pencarian, kehadiran jalan tol yang melintas kota akan mematikan usaha rakyat kecil.

“Saya tidak anti, tetapi bagaimanapun juga, wilayah DIY ini sudah terlalu padat, sehingga jalan untuk pembangunan jalan tol yang melintas kota akan sulit dicapai. Tetapi kalau jalan tol itu berada di atas jalan yang sudah ada, maka itu tidak masalah,” kata Sultan di Yogyakarta, Jumat (11/8) petang.

Menurut Sultan, pernyataan yang muncul di media massa seakan-akan dirinya menolak kehadiran jalan tol bermula dari tanggapannya kepada PT Waskita Karya Tbk saat mempresentasikan rencana pembangunan jalan tol. Diketahui, PT Waskita Karya Tbk menginginkan perluasan jalan dari Cilacap, Jawa Tengah ke Kulonprogo, DIY yang berujung di Godean Sleman dengan model jalan tol. Selanjutnya, dari Godean Sleman akan dibangun jembatan serupa Jembatan Semanggi menuju ke timur yang akan bertemu dengan Jalan Ring Road.

“Jika konsepnya jalan tol berada di atas ring road atau di atas jalan yang sudah ada, ora popo (tidak apa-apa). Wong ora ono sing dodolan (tidak ada yang jualan),” tegas Sultan.

Diungkapkan Sultan, rencana dari PT Waskita Karya Tbk awalnya adalah membangun jalan tol dari Kulonprogo menuju ring road barat yang melalui permukiman padat penduduk, sementara geliat ekonomi masyarakat setempat tengah berkembang.

“Itulah yang saya maksud, bukan tidak setuju dengan pembangunan jalan tol, tetapi karena perekonomian masyarakat sedang bertumbuh dari sektor perdagangan dan pertanian lokal, maka jika ada jalan tol berbayar, akses masyarakat pun akan tertutup,” ujarnya.

Dengan demikian, lanjut Sultan, pernyataannya yang dikutip sejumlah media hanya dipahami setengah, sedangkan alasan utama penolakan jalan tol di tengah pemukiman, tidak terungkap.

Sultan berharap pernyataannya itu dipahami sebagai salah satu keberpihakannya kepada ekonomi masyarakat kecil. “Nek (kalau) membangunnya di atas, sedang jalur di bawah tetap, silakan saja,” papar Sultan.

Pada kesempatan itu Sultan juga mengemukakan pemerintah pusat sudah sepakat bahwa untuk mendukung akses ke bandara baru Kulonprogo akan dibangun jalan lebar empat jalur, namun bukan jalan tol.

Sumber: Suara Pembaruan”.

——

(3) http://bit.ly/2pTICQO, Kompas: “Sultan HB X Tolak Pembangunan Jalan Tol di Yogyakarta

KONTRIBUTOR YOGYAKARTA, MARKUS YUWONO
Kompas.com – 13/07/2017, 13:49 WIB

(foto)
Warga bersalaman dengan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X, di bangsal kantor Kepatihan, Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta, Senin (3/7/2017)(KOMPAS.com/Teuku Muh Guci S)

YOGYAKARTA,KOMPAS.com – Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menyatakan, pihaknya menolak pembangunan jalan tol di wilayahnya. Ia mengkhawatirkan adanya jalan tol bisa mengganggu perekonomian masyarakat.

“Di Yogya tak ada jalan tol. Pemerintah pusat juga sepakat,” kata Sultan saat acara Syawalan bersama Pemkab dan masyarakat di Bangsal Sewoko Projo, Wonosari, Gunungkidul, Kamis (13/7/2017).

Menurut dia, terbatasnya ruang terbuka di Yogyakarta tidak memungkinkan dibangun jalan bebas hambatan yang tertutup dan tak semua orang bisa masuk.

“Saya tidak setuju adanya jalan tol karena rakyat tidak akan mendapatkan apa-apa, diperlebar silakan tetapi jangan ditol. Tol sing untung ming (menguntungkan) yang membuat tol, tetapi rakyat di sekelilingnya (tak dapat apa-apa) karena jalan ditutup,” ucapnya.

“Kalau di luar Yogya silakan, seperti di Bawen sampai Salatiga karena geografisnya jurang,” tambah dia.

Sementara itu untuk perlebaran jalan di wilayah DIY seperti di Jalan Prambanan-Solo, Sultan berharap perlebaran dilakukan dengan membuat jalan baru di atas jalan lama. Hal ini karena masih banyak batuan candi yang terpendam di wilayah tersebut.

“Lebih baik pemerintah membangun jalan di jalan yang sudah ada,” ujarnya.

Adapun terkait pembangunan bandara di Kulonprogo tahun 2019 mendatang, Sultan meminta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk menyerahkan program infrastruktur pembangunan untuk pengembangan pasca dibangunnya bandara tersebut.

Sultan mengambil contoh karena jaraknya cukup jauh maka diperlukan kajian jalan alternatif selain JJLS yang diwacanakan selesai pembebasan lahan 2018. Pemkab bisa mengusulkan jalan Piyungan – Wonosari bisa diperlebar menjadi empat jalur.

“Perlu kita pikirkan bersama, nanti urusan saya untuk bernegosiasi dengan pemerintah pusat,” katanya.

(video)
Hari Terakhir Libur Lebaran, Tol Brebes Timur Lengang(Kompas TV)

Penulis: Kontributor Yogyakarta, Markus Yuwono
Editor: Erlangga Djumena”.

——

(4) http://bit.ly/2Emo11Q, GridOto(dot)com: “Tegas, Sri Sultan Hamengkubuwono X Tolak Jalan Tol di Yogyakarta, Pilih Outer Ring Road

Irsyaad Wijaya – Selasa, 26 Juni 2018 | 11:20 WIB

(foto)
Tribunnews.com
Sri Sultan Hamengkubuwono X

Otomania.com – Pengiriman barang dan jasa dengan transportasi darat akan lebih cepat jika ditunjang infrastruktur yang bagus seperti jalan tol.

Tapi, di balik itu ada sisi negatif yang didapat di daerah tersebut seperti yang diutarakan Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat acara syawalan di Pendapa Parasmaya, Bantul Senin (25/6/18).

Dalam intinya, Gubernur DIY menolak adanya pembangunan proyek jalan tol Solo-Yogyakarta dengan alasan menjaga situs cagar budaya.

“Jadi Solo – Jogja akan ada jalan tol, kami keberatan ketika rencana pembangunan jalan tol itu akan melewati daerah Prambanan. Banyak situs di sana yang belum terverifikasi, teridentifikasi dan diteliti,” tambah Sultan.

Sultan khawatir jika jalur tol melewati kawasan Prambanan, maka situs yang ada di sana rawan terganggu bahkan menjadi rusak.

Prosesnya pun juga tidak akan mudah mengingat perlu dilakukan pembebasan lahan yang bisa saja, lahan tersebut merupakan bagian dari lokasi keberadaan situs cagar budaya.

Sultan menjelaskan, pilihan yang sudah disepakati dengan Pemerintah Pusat atas permasalahan ini adalah mengalihkan jalan tol agar tidak melewati Prambanan.

Salah satu opsi jalur adalah jalan tol dibangun di atas Jl Yogya-Solo dengan sistem jalan bertingkat sampai tembus Ringroad Utara.

“Itu (Jalan Tol di atas Jl Jogja – Solo) mungkin akan lebih murah daripada lewat Prambanan yang harus dilakukan pembebasan lahan dan juga melewati situs,” kata Sultan.

Bukan hanya tol Solo-Yogya, rencana Pemerintah pusat membangun tol Semarang-Yogya juga disinggung oleh Ngarso Dalem.

Tol Semarang – Yogya ini menurut Sultan rencananya akan dibangun mulai dari daerah Bawen lalu tembus ke Secang di daerah Magelang sampai Jogja melewati sisi utara daerah sekitar Demak Ijo melewati ringroad utara sisi barat dan melewati Selokan Mataram daerah Sleman.

Sultan khawatir jika jalur tol melewati kawasan Prambanan, maka situs yang ada di sana rawan terganggu bahkan menjadi rusak.

Menurutnya ketimbang bikin jalan tol lebih baik membuat outer ring road yang melintasi beberapa wilayah terluar DIY.

Sultan nampak punya harapan besar, outer ring road ini akan menjadi solusi jitu untuk mengurai kepadatan kendaraan yang kini mulai dirasakan di wilayah DIY khususnya Kota Yogyakarta dan di jam-jam ramai seperti saat liburan.

“Dengan outer ringroad ini kami tidak perlu jalan tol lagi. Kami sebenarnya keberatan dengan proyek Jalan Tol (di DIY) karena perekonomian rakyat seperti pasar akan mati oleh jalan tol,” tutup Sultan.

Editor: Iday
Sumber: TribunJogja.com”.

——

(5) Narasi selengkapnya oleh post sumber: “#Wejangan

SRI SULTAN HAMENGKUBUWONO X

Ternyata pembangunan infrastruktur dalam bentuk jalan “tol” yg sedang digagas Jokowi tidak berarti apa-apa di mata sultan Jogja.

BIARKAN YOGYAKARTA TANPA JALAN TOL KARENA HANYA MENGUNTUNGKAN SI PEMBUAT TOL

Keren… Sultan Jogja Tolak Tol. Kenapa?

Jalan itu tanggung jawab pemerintah, yang musti bisa dinikmati oleh rakyat secara gratis (bukannya dibangun oleh swasta, lalu rakyat yg lewat jalan itu kemudia harus bayar mahal….

Lalu, apa gunanya ada pemerintah?

Di Yogya: tak ada jalan tol. Pemerintah Pusat juga sepakat, Saya (Sultan Jogja) tidak setuju adanya jalan tol, karena rakyat tidak akan mendapatkan apa-apa.

Kalau Jalan mau diperlebar itu Silakan saja, tetapi jangan dibikin tol.

Keberadaan Tol iku, sing diuntungke mung pihak yang membuat tol saja, tetapi rakyat di skelilingnya ga dapat apa2, karena jalan tol itu ditutup, orang di kiri kanan tol tak memiliki akses ke jalan itu kecuali harus BAYAR dan seringkali harus mutar2 dulu dan jauh pula.

Kalau wilayah di luar Yogya, mau bikin tol, ya silakan saja, seperti di Bawen sampai Salatiga karena geografisnya jurang, kata Sultan.

Mantap pak sultan Yogyakarta, jalan TOL itu dipandangnya sebagai salah satu bentuk Penjajahan Ekonomi Rakyat.

Bagaimana tidak? Masa sih, melewati jalan di tanah airnya sendiri kok harus bayar.

TOL itu selama ini diselenggarakan oleh pihak swasta dan nantinya orang yg lewat jalan TOL di kenai tarif bayar yg tidak murah…..

Lah, berarti, selama ini, pemerintah bangun apa dong? kan semua kendaraan juga sudah dikenai pajak, dan pajak kendaraan itu juga gak kecil, kan? masa lewat jalan (tol) masih juga disuruh bayar pula?
Lah uang pajak khusus kendaraan itu dikemanain?

Jogja, memang selalu Istimewa….”

======

Sumber: https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/762450057420865/