[SALAH] Sri Mulyani Tantang Pembenci Jokowi

Pesan berantai berisikan tantangan Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada para pembenci Presiden Joko Widodo yang beredar di media pesan Whatsapp merupakan hoaks. Sebab, dilansir dari kompas.com dan tribunnews.com, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Nufransa Wira Sakti, menegaskan bahwa pesan berantai tersebut adalah hoaks. “Yang pasti berita tersebut sama sekali tidak benar dan hoaks besar,” ujar Nufransa.

 

=====

 

Kategori: Hoaks

 

=====

 

Sumber: Media Pesan Whatsapp dan Media Sosial

 

https://www.facebook.com/groups/1330726233612029/permalink/1998370926847553/

https://www.facebook.com/groups/JPRjokowipresidenrakyat/permalink/1696616713981496/

http://medialiputan6.blogspot.com/2017/05/pernyataan-menggemparkan-sri-mulyani.html

 

=====

 

Narasi:

 

SRI MULYANI: Wahai Para Pembenci Pak Jokowi,. Kalian Semua Sakit Jiwa!!! Tunjukkan Kesalahan Pak Jokowi, Satu Kesalahan Saja Akan Saya Bayar 1 M. Dan Ini Bukti Kehebatan Pak Jokowi Yang Luar Biasa! Dari 3700 T Hutang Negara, Jokowi Hanya Menambah 300 T dan Mampu Membangun, Sisanya Warisan pemerintah sebelumnya….

 

=====

 

Penjelasan Lengkap:

 

Pesan berantai yang berisikan tantangan Menteri Keuangan Sri Mulyani kepada pembenci Presiden Joko Widodo (Jokowi) beredar luas melalui media pesan Whatsapp. Dalam pesan itu disebutkan bahwa Sri Mulyani akan memberikan hadiah sebesar Rp1 miliar kepada orang-orang yang membenci Jokowi bila bisa membeberkan kesalahannya selama memerintah.

 

Menanggapi beredarnya pesan berantai tersebut, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan bahwa pesan berantai itu hoaks. Dilansir dari kompas.com dan tribunnews.com, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Nufransa Wira Sakti, menegaskan bahwa pesan berantai tersebut adalah hoaks.

 

“Yang pasti berita tersebut sama sekali tidak benar dan hoaks besar,” ujar Nufransa.

 

Selain melalui Nufransa, Kemenkeu juga memberikan klarifikasi mengenai pesan berantai itu melalui media sosial Twitternya @KemenkeuRI. Akun resmi milik Kemenkeu itu mencuitkan bahwa pesan berantai tersebut merupakan informasi yang tidak benar.

 

“Kembali beredar informasi yang tidak benar. Harap #temankeu berhati-hati dan tidak menjadikan berita bohong sebagai rujukan.

 

#InfoKeu,” cuit akun resmi Kemenkeu.

 

Perihal narasi dari pesan berantai yang beredar, diketahui bahwa pesan berantai itu pernah muncul dan tersebar di media sosial pada tahun 2017. Munculnya di media sosial itu dengan narasi yang serupa, hanya ada perbedaan di beberapa bagian. Selain itu, ketika tersebar di media sosial, pesan itu disertai sebuah laman daring dengan alamat newster-berita.blogspot.com, medialiputan6.blogspot.com, dan share-publicgroup.blogspot.com.

 

Dari ketiga laman daring itu, hanya alamat blog medialiputan6.blogspot.com yang masih dibuka. Isi dari laman tersebut melansir tulisan dari laman seword.com dengan judul “Luar Biasa! Dari 3700 T Hutang Negara, Jokowi Hanya Menambah 300 T dan Mampu Membangun, Sisanya Warisan SBY” (Judulnya terpotong menjadi ‘Luar Biasa! Dari 3700 T Hutang Negara, Jokowi Hanya Menambah 300 T dan Mampu Membangun, Sisanya Wari…’ dan judul aslinya bisa dilihat pada bagian URL link-nya, yakni: https://seword.com/sosbud/luar-biasa-dari-3700-t-hutang-negara-jokowi-hanya-menambah-300-t-dan-mampu-membangun-sisanya-warisan-sby).

 

Dari narasi judul tersebut, sudah dapat diketahui bahwa sumber utama pernyataan palsu Sri Mulyani mengutip dari judul tulisan opini dari portal seword.com tanpa disertakan linknya dan diubah pada beberapa bagian. Dengan demikian, sangat jelas bahwa pesan berantai itu bukanlah pernyataan dari Menkeu Sri Mulyani.

 

=====

 

Referensi:

 

https://ekonomi.kompas.com/read/2018/08/23/101300726/hoaks-sri-mulyani-akan-beri-rp-1-miliar-bagi-yang-bisa-sebutkan-kesalahan

https://twitter.com/KemenkeuRI/status/1032416535485149184/photo/1

http://www.tribunnews.com/nasional/2018/08/23/sri-mulyani-diserang-hoaks-soal-hadiah-rp-1-miliar-bagi-yang-bisa-sebutkan-kesalahan-jokowi