[BENAR] “Bukan disebabkan vaksin, siswa MI di Palembang tewas karena radang otak”

“Tim dokter menemukan fakta bahwa korban menderita accute disseminated encephalomyelitis atau radang otak bersamaan dengan imunisasi.”, selengkapnya di bagian PENJELASAN dan REFERENSI.

======

KATEGORI

Klarifikasi.

======

SUMBER

(1) http://bit.ly/2npGoYs, post oleh akun “Fahrul Semar Mesem Fahrul” (facebook.com/fahrulsemarmesem.fahrul), sudah dibagikan 26 kali per tangkapan layar dibuat.

——

(2) http://bit.ly/2vZkIpZ, laman yang dibagikan oleh akun tersebut: “Nahas, Bocah Meninggal Usai Disuntik Vaksin Rubella di Sekolah

Liputan6.com
Diunggah 14 Nov 2017

Sebelumnya sang bocah telah mendapatkan perawatan selama dua hari di rumah sakit.”

======

NARASI

“Jika ada suntikn di skolh ank ku dak ush dsuntik wes apapun alasanx tkut sperti ini”.

======

PENJELASAN

(1) Merdeka @ 16 Jan 2018: “Bukan disebabkan vaksin, siswa MI di Palembang tewas karena radang otak”, selengkapnya di (1) bagian REFERENSI.

——

(2) Merdeka @ 15 Nov 2017: “Dinkes Palembang selidiki dugaan siswi MI tewas usai vaksin”, selengkapnya di (2) bagian REFERENSI.

——

(3) Detik @ 14 Nov 2017: “Siswi Kelas 2 SD Meninggal Pasca-imunisasi Massal di Sekolah”, selengkapnya di (3) bagian REFERENSI.

======

REFERENSI

(1) http://bit.ly/2B6BBVx, Merdeka: “Bukan disebabkan vaksin, siswa MI di Palembang tewas karena radang otak

Selasa, 16 Januari 2018 16:54
Reporter : Irwanto

(foto)
Siswi MI di Palembang tewas diduga usai vaksin. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com – Teka-teki penyebab kematian Jumiarni (8) yang meninggal dunia usai vaksinasi akhirnya terjawab. Hasil penyelidikan, siswi kelas dua Madrasah Ibtidaiyah Al Hikmah Palembang itu meninggal akibat radang otak.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang, dr Letizia, mengungkapkan diagnosis tersebut berdasarkan hasil penelitian dari Komisi Daerah Penanggulangan dan Pengkajian Kejadian Pasca Imunisasi (KIPI) bekerjasama dengan Balai POM Palembang. Tim dokter menemukan fakta bahwa korban menderita accute disseminated encephalomyelitis atau radang otak bersamaan dengan imunisasi.

“Tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan pasca imunisasi. Artinya, terjadi koinsiden atau kebetulan kejadian bersama-sama dengan pemberian imunisasi terhadap korban,” ungkap Letizia, Selasa (16/1).

Menurut dia, diagnosis tersebut sangat dapat dipercaya karena uji sampel vaksin memenuhi persyaratan. Saat divaksin, kesehatan korban juga terbilang stabil.

“Kita cocokkan dengan diagnosa saat pasien dirawat di rumah sakit, semisal sampel feses. Hasilnya karena peradangan pada otak,” ujarnya.

Atas hasil ini, kata dia, masyarakat Palembang tidak perlu khawatir lagi untuk memvaksinasi anaknya. Sebab, petugas di lapangan berpengalaman dan vaksinnya standar pemerintah.

“Ini jawaban dari keraguan masyarakat, kami minta dimaklumi dan dipahami. Setiap vaksin atau imunisasi baik bagi kekebalan tubuh,” tegasnya.

Diketahui, Jumiarni (8) mengembuskan napas terakhir pada Selasa (14/11) pagi setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Keluarga menduga penyebab kematiannya karena vaksinasi massal di sekolahnya di Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang, Jumat (10/11).

Beberapa saat usai disuntik, tubuh korban lemas namun dia tetap memaksakan diri bermain bersama teman-temannya. Pulang dari bermain, kondisinya semakin memburuk. Tubuhnya panas. Lengan kiri bekas disuntik vaksin, membengkak dan kedua kakinya lumpuh.

Orang tua korban meminta pertolongan ke pihak sekolah karena anaknya baik-baik saja sebelum divaksin. Korban dibawa ke Puskesmas terdekat dan akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang karena kondisinya semakin memburuk.

Saat menjalani perawatan di rumah sakit, kondisi korban sempat membaik. Namun, kesehatannya menurun hingga meninggal dunia di hari keempat perawatan. Jenazahnya dibawa ke rumah duka di Jalan Panca Usaha, Lorong Parlova, Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Palembang. [lia]”

——

(2) http://bit.ly/2MAjN6t, Merdeka: “Dinkes Palembang selidiki dugaan siswi MI tewas usai vaksin

Rabu, 15 November 2017 03:32
Reporter : Irwanto

(foto)
Siswi MI di Palembang tewas diduga usai vaksin. ©2017 Merdeka.com

Merdeka.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Palembang tengah menyelidiki kasus meninggalnya siswi Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Hikmah Palembang, Jumiarni (8) yang diduga usai vaksinasi massal di sekolahnya. Vaksinasi atau imunisasi itu merupakan program nasional bagi murid SD di bulan giat.

Sekretaris Dinkes Palembang, Alfarobi mengungkapkan, imunisasi itu digelar bagi siswa kelas dua dan tiga SD untuk mencegah tetanus. Kegiatan ini dilakukan serentak di Kota Palembang yang dibebankan kepada Puskesmas terdekat.

“Ini program nasional dalam bulan giat, memang seluruh siswa divaksin atau diimunisasi tetanus,” ungkap Alfarobi saat dihubungi merdeka.com, Selasa (14/11).

Terkait kasus Jumiarni, kata dia, pihaknya masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan meminta keterangan keluarga dan menunggu hasil rekam medis dari Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang, tempat korban dirawat.

“Kita belum bisa sebut anak itu meninggal dunia karena divaksin atau bukan. Tapi untuk penyebabnya belum tahu karena kami lagi mencari data, lagi diselidiki,” ujarnya.

Dia menambahkan, vaksinasi atau imunisasi memang memiliki efek yang dirasakan beberapa saat usai disuntik, seperti demam. Namun, demam itu biasanya tidak menimbulkan dampak buruk atau berkelanjutan.

“Setahu saya baru ini pertama kali terjadi di Palembang atau Sumsel, saya belasan tahun di Puskesmas dan Dinkes. Makanya saya bingung kenapa bisa terjadi kasus ini,” kata dia.

Apalagi, sambung dia, hanya Jumiarni yang mengeluhkan sakit usai disuntik. Padahal, saat suntik itu ada puluhan siswa lain yang juga disuntik dan tidak mengalami apapun.

“Ini yang harus jadi pertimbangan, korbannya cuma satu, puluhan lain tidak. Atau mungkin saja anak itu mengidap penyakit lain dan kebetulan terjadi setelah diimunisasi tetanus,” ujarnya. [rzk]”

——

(3) http://bit.ly/2KEjvJZ, Detik: “Selasa 14 November 2017, 17:39 WIB

Siswi Kelas 2 SD Meninggal Pasca-imunisasi Massal di Sekolah

Raja Adil Siregar – detikNews

(foto)
Foto: ilustrasi/thinkstock

Palembang – Bocah berusia 8 tahun warga Palembang, Jumiarni, meninggal setelah mengikuti imunisasi. Sebelum meninggal, siswa kelas 2 sekolah dasar (SD) ini sempat mengalami kelumpuhan.

“Jumat subuh keponakan saya (Jumiarni) ini bangunkan ibunya, bilang mau ikut imunisasi,” terang kakak kandung ibu korban, Fitriyanti, saat ditemui detikcom di rumah duka di Lorong Parlopa, Jalan Panca Usaha, Palembang, Selasa (14/11/2017).

Imunisasi massal digelar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Hikmah, Jumat (10/11) pekan lalu. Jumiarni berangkat sekolah dan pulang sekitar pukul 10.00 WIB. Setiba di rumah, ia mengeluh sakit perut dan mual. Tapi Jumiarni tetap bermain bersama teman-temannya pada hari itu. Menginjak malam hari, kondisi tubuh Jumiarni semakin panas dan lemas.

“Malam itu makin panas badan keponakan saya, paginya pas hari Sabtu (11/11) dibangunkan ibunya untuk mandi dan sekolah, tiba-tiba tidak bisa berdiri. Pas didudukkan juga nggak bisa dan selalu tumbang, bahkan terus muntah-muntah,” sambung Fitri.

Karena panik, orang tua korban menghubungi bidan yang menyuntik korban di Puskesmas 7 Ulu. Pihak puskesmas mendatangi korban dan mengatakan bahwa korban terkena infeksi obat serta memberikan obat.

Pada malam harinya, korban diketahui semakin lemas dan selalu buang air kecil, tetapi tidak ia sadari. Pada Minggu (12/11) pagi, korban dibawa ke RS Muhamadiyah Palembang atas rujukan Puskesmas 7 Ulu.

“Pas dirawat di Rumah Sakit Muhammadiyah itu, kondisinya malah tidak makin baik, tapi makin parah dan tidak bisa apa-apa. Mulai dari pinggang dan kaki korban tidak bisa digerakkan, kecuali tangan,” sambungnya.

Setelah dirawat selama 3 hari, korban dinyatakan meninggal dunia pada hari ini sekitar pukul 08.30 WIB. Korban sempat disemayamkan di rumah neneknya di Lorong Parlopa, Jalan Panca Usaha, Kota Palembang.

Saat ini, jenazah Jumiarni telah dibawa ke tempat pemakaman keluarga di Pamulutan, Kabupaten Ogan Ilir, sekitar pukul 14.30 WIB. Untuk mengetahui penyebab kematian korban, pihak keluarga berencana melaporkan hal ini kepada pihak berwajib.
(asp/asp)”.

======

Sumber: https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/717446481921223/