[SALAH] “9 Merek Pembalut di Indonesia Penyebab Kanker”

Kemenkes: “yang digunakan (dalam produksi pembalut) adalah klorin dioksida sebagai agen pemutih dan ini dinyatakan bebas dioksin, dan ini bukan gas klorin.”, selengkapnya di poin (1) bagian REFERENSI.

(Dioksin adalah bahan pemicu kanker, selengkapnya di poin (2) bagian REFERENSI).

======

KATEGORI
Disinformasi.

======

SUMBER

(1) Pertanyaan dari salah satu anggota FAFHH.
(2) https://goo.gl/Dbax7L, situs “Islam Indah Share”.

======

PENJELASAN

(1) “Kementerian Kesehatan menegaskan, proses produksi semua merk pembalut di Indonesia sesuai standar klasifikasi Badan Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA), termasuk penggunaan zat pemutih (klorin).

“FDA menyatakan bahwa masih diperbolehkan adanya jejak residu klorin pada hasil akhir pembalut wanita,” kataDirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Maura Linda Sitanggang, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (08/07).

Sesuai persyaratan FDA, menurutnya, “yang digunakan (dalam produksi pembalut) adalah klorin dioksida sebagai agen pemutih dan ini dinyatakan bebas dioksin, dan ini bukan gas klorin.”

Kementerian Kesehatan menegaskan pihaknya telah memastikan bahwa semua produk pembalut di Indonesia tidak menggunaakn gas klorin dalam proses produksinya.”, selengkapnya di poin (1) bagian REFERENSI.

——

(2) “Menurut penelitian, pembalut mengandung dioksin bisa memicu kanker serviks atau kanker leher rahim.

Meski belum ada data akurat mengenai itu, sebaiknya para perempuan berhati-hati.

Ada tes simpel yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah pembalut itu mengandung dioksin atau tidak.

Cara memeriksa kandungan pembalut itu adalah dengan beberapa tahap berikut:”, selengkapnya di poin (2) bagian REFERENSI.

======

REFERENSI

(1) https://goo.gl/gKaC4Q, “Kemenkes: zat pemutih pada pembalut tidak berbahaya

Heyder Affan
Wartawan BBC Indonesia

8 Juli 2015

(foto)
THINKSTOCK
Penggunaan klorin dioksida sebagai agen pemutih dalam produksi pembalut dinyatakan boleh.

Kementerian Kesehatan mengatakan sejumlah merk pembalut wanita dan pantyliner (pelapis celana dalam) yang beredar resmi di Indonesia sudah memenuhi persyaratan kesehatan.

Keterangan resmi Kemenkes ini menanggapi temuan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, YLKI, Selasa (07/07) yang menyebut adanya kandungan klorin pada sembilan merk pembalut dan tujuh merk pantyliner.

YLKI mengatakan zat klorin dapat membahayakan para perempuan yang menggunakan pembalut tersebut karena dapat menyebabkan kanker leher rahim, kemandulan, dan keputihan.

Seorang pejabat Kementerian Kesehatan mengatakan, temuan residu klorin dalam proses pemutihan (bleaching) produk pembalut wanita tidak berbahaya untuk kesehatan.

Kementerian Kesehatan menegaskan, proses produksi semua merk pembalut di Indonesia sesuai standar klasifikasi Badan Makanan dan Obat Amerika Serikat (FDA), termasuk penggunaan zat pemutih (klorin).

“FDA menyatakan bahwa masih diperbolehkan adanya jejak residu klorin pada hasil akhir pembalut wanita,” kataDirjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes, Maura Linda Sitanggang, dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (08/07).

Sesuai persyaratan FDA, menurutnya, “yang digunakan (dalam produksi pembalut) adalah klorin dioksida sebagai agen pemutih dan ini dinyatakan bebas dioksin, dan ini bukan gas klorin.”

Kementerian Kesehatan menegaskan pihaknya telah memastikan bahwa semua produk pembalut di Indonesia tidak menggunaakn gas klorin dalam proses produksinya.

“Jadi kekhawatiran terhadap klorin yang menyebabkan kanker itu tidak beralasan, karena semua pembalut wanita yang beredar di pasaran, bahkan di dunia, telah menggunakan proses produksi yang sama,” katanya.

Gas klorin yang berbahaya

(foto)
Berbagai merk pembalut dikatakan telah memenuhi syarat kesehatan.

Lebih lanjut Linda mengatakan, semua merk pembalut yang beredar resmi di pasaran sudah dievaluasi dan dikaji dari sisi keamanan, kemanfaatan serta mutunya.

Kemenkes juga membenarkan bahwa proses pemutihan selalu disertakan dalam proses produksi pembalut wanita.

Kemenkes mengklaim, pihaknya selama ini telah melakukan uji kesesuaian secara terus menerus terhadap semua produk pembalut wanita.

“Dan berdasarkan hasil sampling kita dari 2012 sampai pertengahan 2015 tidak ditemukan pembalut yang tidak memenuhi syarat,” kata Linda.

YLKI: Mulai iritasi hingga kanker

Dalam keterangan pers pada Selasa (07/07), YLKI menemukan sembilan merk pembalut dan tujuh pelapis celana dalam yang disebut mengandung zat kimia klorin yang digunakan sebagai pemutih.

Pengurus harian YLKI Ilyani S Andang mengatakan, pihaknya melakukan penelitian setelah mendapat laporan masyarakat tentang kandungan klorin (pemutih) dalam pembalut.

“Klorin ini bisa menjadi faktor terjadinya iritasi, dan jangka panjangnya dikhawatirkan bisa menimbulkan kanker,” kata Ilyani dalam konferensi pers di kantornya. Adapun penelitian berlangsung sepanjang Januari-Maret 2015.

“Dari hasil pengujian di YLKI ada sembilan merek pembalut dan tujuh pantyliner semua menggunakan klorin. Dari hasil uji pembalut tersebut mengandung klorin dari 5-55 ppm,” ungkapnya.

YLKI kemudian membuat rekomendasi kepada Kementerian Kesehatan agar segera membuat Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait kadar klorin pada pembalut.”

——

(2) https://goo.gl/31Fty9, “Hindari Bahan Dioksin Pemicu Kanker, Begini Cara Pilih Pembalut Aman

Rabu, 10 Mei 2017 06:10

(foto)
NOVA
Ilustrasi

BATAM.TRIBUNNEWS.COM – Tak mengherankan juga jika pembalut termasuk salah satu barang yang terbesar diproduksi di dunia.

Nah, dari sekian banyak pilihan produk pembalut di pasaran, tentu tidak semua berkualitas baik.

Lalu, bagaimana cara memilih pembalut yang baik?

Dr. H. Abidinsyah Siregar, DHSM, M.Kes, pengamat kesehatan perilaku dari Kementrian Kesehatan RI mengemukakan bahwa pembalut bisa menjadi dilema bagi perempuan.

“Tingkat ekonomi seseorang bisa menentukan pilihan pembalut yang digunakan. Dari kalangan yang hanya membutuhkan pembalut saja, sampai yang ingin menggunakan lebih dari sekadar pembalut, misalnya pembalut yang aman, dan sehat,” tutur Abidin saat dijumpai di kawasan Senayan, Jakarta Pusat.

Hal yang tidak bisa dipungkiri, harga pembalut menentukan kualitas produk itu sendiri.

“Semakin murah, semakin banyak bahan buatan atau sintetis dibanding aslinya. Tapi bukan berarti mahal harganya, pembalut itu jaminan berkualitas,” tegas dokter kelahiran Banda Aceh ini.

Menurut Abidin, cara memilih pembalut yang baik adalah saat membeli.

“Prinsip membeli itu kan melihat daftar bahan bakunya di kemasan produk,” kata Abidin.

Menurut penelitian, pembalut mengandung dioksin bisa memicu kanker serviks atau kanker leher rahim.

Meski belum ada data akurat mengenai itu, sebaiknya para perempuan berhati-hati.

Ada tes simpel yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah pembalut itu mengandung dioksin atau tidak.

Cara memeriksa kandungan pembalut itu adalah dengan beberapa tahap berikut:

*Lapisan dalam pembalut (seperti kapas) dibuka kemudian dimasukan dalam air.

*Kalau ternyata hancur dalam air dan airnya keruh berarti berdioksin.

*Sebaliknya, jika tidak hancur, pembalut itu aman dipakai. (*)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Nova”

——

(3) https://goo.gl/6aSnRT, “Masyarakat Jangan Menelan Mentah Informasi Pembalut Berklorin

Windratie, CNN Indonesia

Kamis, 09/07/2015 14:00

(foto)
Ilustrasi pembalut. (Getty images/ matka_Wariatka/Thinkstock)

Jakarta, CNN Indonesia — Berdasarkan hasil uji laboratorium yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), terdapat sembilan merek pembalut yang mengandung klorin dengan kadar yang sangat tinggi. Yakni, rata-rata 16 – 55 ppm (part per million).

Informasi dari laman badan organisasi dunia (WHO) menyebutkan, untuk menilai risiko jangka pendek atau jangka panjang paparan dioksin (klorin) terhadap kesehatan, total atau rata-rata asupan harus dinilai selama beberapa bulan. Menurut WHO, toleransi asupan harus dinilai selama minimal satu bulan.

“Para ahli menetapkan toleransi asupan bulanan (PTMI) pada 70 pikogram/ kilogram per bulan. Pada tingkat ini jumlah dioksin dapat dicerna sepanjang hidup tanpa efek terhadap kesehatan yang terdeteksi,” berdasarkan informasi tentang dioksin atau klorin dari laman WHO.

M. Nurhadi Rahman, Ketua Asosiasi Ginekolog, mengatakan bahwa masyarakat tidak bisa berharap benar-benar terbebas dari klorin.

“Susah untuk benar-benar terbebas dari klorin. Klorin dipakai pada pemutih, di kolam renang untuk mematikan kuman. Jadi sebenarnya harus bisa disikapi dengan bijak,” kata Nurhadi merujuk pada pengumuman hasil penelitian YLKI, saat dihubungi oleh CNN Indonesia.

“Masyarakat sebaiknya tidak menelan mentah-mentah informasi yang ada,” katanya menambahkan.

Menurut WHO, dioksin (klorin) adalah polutan lingkungan. Zat kimia ini disebut sebagai ‘dirty dozen’, sekelompok bahan kimia berbahaya yang dikenal sebagai polutan organik yang kuat (POPs). Dioksin adalah zat yang perlu diperhatikan karena memiliki potensi yang sangat beracun. Berdasarkan sejumlah percobaan, dioksin memengaruhi sejumlah organ dan sistem tubuh.

Setelah memasuki tubuh, dioksin akan bertahan lama karena kestabilan kimia dan kemampuan mereka untuk diserap oleh jaringan lemak, untuk kemudian disimpan dalam tubuh. Menurut WHO, zat ini dapat hidup di dalam tubuh selama tujuh sampai sebelas tahun.

Menurut Nurhadi, di Amerika Serikat, pemutihan pembalut bebas klorin yang dibolehkan oleh badan kesehatan Food and Drug Administration (FDA) adalah elemental chlorine.

Artinya, dia menambahkan, pembalut yang dipakai di Amerika adalah pembalut yang bebas klorin, tapi tetap memiliki kadar klorin yang sangat kecil.

“Pembalut mereka bebas klorin tapi tetap memiliki kandungan klorin yang kecil sekali, yaitu 0,1 sampai 1 dari satu triliun dioksin klorin,” ucapnya. Kandungan klorin tersebut dikatakan bebas, tapi masih ada, ujar Nurhadi.

Apakah di Indonesia memakai standar yang sama, Nurhadi mengaku tidak mengetahuinya.

(win/mer)”

——

(4) https://goo.gl/Dbax7L, “WANITA HARUS TAU INI, INILAH 9 MEREK PEMBALUT DI INDONESIA Penyebab kanker, Bantu SEBARKAN

(foto)

Demi menjaga kebersihan serta kesehatan, nyaris semua wanita di Indonesia memakai pembalut saat datang bulan.. Tetapi, riset terbaru dari Yayasan Instansi Customer Indonesia (YLKI) mengungkapkan bahwa ada sembilan merk pembalut di Indonesia yang mengandung zat beresiko, salah satunya klorin.

” Ada sembilan merk pembalut serta tujuh pantyliner yang mengandung klorin yang bersifat racun, ” tutur peneliti dari YLKI, Arum Dinta, dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (7/7).
Menurut Arum, YLKI mulai menelusuri masalah ini sejak menerima banyak laporan masalah kulit dari konsumen sesudah memakai pembalut tertentu.

” Klorin memang tak dapat dilihat secara kasat mata, jadi kami lakukan riset uji laboratorium dengan cara spektrofotometri, ” ucap Arum.
Dari hasil riset itu, ditemukan bahwa pembalut yang mengandung klorin paling banyak yaitu merk ;

1. CHARM dengan 54, 73 ppm.
2.Nina Anion kandungan klorin sejumlah 39, 2 ppm.
3. My Lady kandungan klorin 24, 4 ppm
4. VClass Ultra dengan 17, 74 ppm.
5. Kotex, kandungan klorin 6-8 ppm
6. Hers Protex, kandungan klorin 6-8 ppm
7. LAURIER, kandungan klorin 6-8 ppm
8. Softex, kandungan klorin 6-8 ppm
9. SOFTNESS dengan kandungan klorin 6-8 ppm.

Terkecuali pembalut, kandungan klorin juga diketemukan pada tujuh merk pantyliner, yakni V Class, Pure Style, My Lady, Kotex Fresh Liners, Softness Panty Shields, CareFree superdry, LAURIER Active Fit.
Arum menuturkan bahwa klorin sangat beresiko untuk kesehatan reproduksi. Terkecuali keputihan, gatal-gatal, serta iritasi, klorin juga dapat mengakibatkan kanker.

Mengamini pernyataan Arum, Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Kekal, berkata, ” Klorin itu ada dalam dioksin yang bersifat karsinogenik. Menurut WHO, ada 52 juta berisiko terserang kanker serviks, salah satunya dipicu oleh zat-zat dalam pembalut. ”
Bahayanya, seputar 52 % produsen tak mencantumkan komposisi zat pembalut serta pantyliner pada kemasannya.

” Masalah itu melanggar Pasal 4 Undang-Undang Perlindungan Customer Nomer 8 Th. 1999, yang diisi hak yang mendasar untuk konsumen yaitu hak atas keamanan product, hak atas info, hak untuk memilih, hak didengar pendapat serta keluhannya, hak atas advokasi, pembinaan pendidikan, dan hak untuk mendapatkan ubah rugi, ” tutur Arum.

Pemerintah sebenarnya sudah melansir bahwa klorin yaitu zat beresiko lewat Ketentuan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomer 472/MENKES/PER/V/1996. Meski sekian, menurut Arum, tak ada regulasi yang melarang ada kandungan klorin dalam pembalut.

Arum juga mendorong pemerintah untuk segera keluarkan regulasi pelarangan itu. ” Merujuk pada FDA (Tubuh Pengawas Obat serta Makanan Amerika Serikat), seharusnya ada ketentuan pembalut mesti bebas klorin, ” kata Arum. Sumber : viralmasakini.com”

Laman di atas menyalin dari https://goo.gl/SLUz3b (viralmasakini.com), dan laman tersebut menyalin dari https://goo.gl/R1awTz (baca-sebarkan.blogspot.co.id).

======

Sumber: https://web.facebook.com/groups/fafhh/permalink/621906894808516/