[EDUKASI] Indonesia di Tengah Pusaran Arus Informasi

“Indonesia di Tengah Pusaran Arus Informasi”

18 Agu. 2017

Magdalena Meta

Sosial media sudah menjadi kebutuhan manusia saat ini. Bagi sebagian orang, tidak lengkap rasanya bila dalam satu hari tidak mempublikasikan sesuatu ke sosial media. Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar di Asia Tenggara menjadi pasar yang menggiurkan bagi pengembang sosial media. Apalagi sebagian masyarakat Indonesia memiliki kecenderungan untuk memamerkan beberapa hal yang di sosial media demi memperoleh popularitas semu.

Lemahnya budaya membaca di kalangan warga Indonesia disinyalir menjadi penyebab mandulnya berpikir kritis. Berdasakan data Unesco yang dikutip dari situs Educenter (10/07), menyebutkan posisi Indonesia dalam hal membaca berada ada di angka 0,001% yang artinya dari 1000 orang, hanya 1 orang yang memiliki minat membaca. Hasil survey yang memprihatinkan. Orang Indonesia memang lebih terbiasa mendengar dan berbicara daripada berliterasi.

Kebebasan masyarakat untuk mengutarakan pendapat memang diatur oleh pemerintah seperti dikutip dari Undang Undang Nomor 9 Tahun 1998. Namun keleluasaan yang diberikan negara belum dapat disikapi dengan baik oleh beberapa warga negara. Ada sejumlah kategori kasus di Indonesia yang bermula dari dunia maya. Isu SARA dan politik adalah dua topik yang digemari untuk memproduksi konten bermuatan negatif.

Persekusi

Berdasarkan penjabaran Kamus Besar Bahasa Indonesia versi daring, persekusi adalah suatu tindakan pemburuan sewenang wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga dan disakiti, dipersusah atau ditumpas. Salah satu kasus persekusi yang sempat menarik disimak adalah Kasus Mario dan FPI. Seperti dilansir dari media daring Kumparan (02/06), Mario mengalami persekusi dari salah satu organisasi keagamaan. Kejadian ini bermula dari unggahan Mario di salah satu sosial media yang diduga mengolok olok salah satu organisasi keagamaan dan pimpinannya. Tidak terima dengan unggahan tersebut, salah satu kelompok ormas keagamaan tersebut menyatroni kediaman Mario di Jakarta Timur. Tidak disangka, remaja berusia 15 tahun ini mengalami kekerasan fisik dan mental. Bahkan video aksi persekusi tersebut sempat beredar luas di dunia maya dan mendapat kecaman dari warga internet. Seperti dilansir dari laman Tempo (01/06), kepolisian bergerak cepat membekuk dua pelaku persekusi tersebut. Mengutip dari laman Kompas (01/06), kepolisian menyatakan bahwa persekusi tidak boleh dilakukan oleh siapapun dan tentunya kepolisian akan menindak lanjuti laporan warga yang mengalami tindak persekusi.

Penggiringan Opini

Pekan lalu publik dikejutkan dengan pengunduran diri Najwa Shihab dari salah satu stasiun televisi berita nasional. Santer beredar kabar bahwa Nana, panggilan akrab Najwa Shihab, mundur karena seputar wawancara dirinya dengan Novel Baswedan. Najwa Sihab membantah rumor tersebut. Dikutip dari laman Kompas darin (11/08), “Kemunduran saya dari Metro Tv bukan karena kasus wawancara dengan Novel dan itu menurut saya spekulasi yang berlebihan dan saya yakin teman teman tahu bahwa di setiap news room kan pasti ada dinamika. Mana ada news room yang tidak dinamis,” ujar Najwa.

Belum berhenti sampai di situ, Najwa Shihab masih menjadi sasaran penggiringan opini. Sebuah headline koran lokal di Indonesia menuliskan bahwa dirinya menjadi Menteri Sosial. Rumor tersebut kemudian dibantah oleh putri Quraisy Shihab. Seperti dilansir dari laman Tirto (11/08), Najwa Shihab menyatakan dirinya tidak ada urusan dengan reshuffle kabinet. Dirinya belakangan memang sering hadir di istana namun kapasitasnya sebagai Duta Baca periode 2016-2020. Malah, harian yang memberitakan dirinya menjadi menteri sosial, tidak pernah melakukan wawancara dengan Najwa Shihab.

Berita Bohong

Berita bohong atau kerap disebut hoax memang kerap meresahkan masyarakat. Berita bohong sengaja diproduksi untuk menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat. Salah satu figur nasional pun pernah menjadi korban berita bohong. Sebuah wacana yang beredar begitu cepat di aplikasi pesan mencatut nama Yusril Ihza Mahendra. Seperti dikutip dari laman Republika (13/04), wacana tersebut berisikan ajakan untuk memilih orang muslim di Pemilihan Gubernur DKI. Yusril Ihza Mahendra dengan tegas menyatakan bantahannya. “Saya tegaskan sekali lagi bahwa ini hoax, bukan tulisan saya. Ada kata ‘saudaraku seiman’ yang tidak biasa digunakan oleh seorang muslim seperti saya,” ujar Ketua Umum Partai Bulan Bintang itu.

Kemudian, peredaran berita bohong kian meresahkan. Kali ini isu seputar garam digoreng sedemikian rupa sehingga meresahkan masyarakat. Di beberapa sosial media dan situs Youtube, belakangan sempat marak isu garam yang dicampur garam. Di dalam video tersebut sempat terlihat bagaimana seseorang melakukan demonstrasi bagaimana memisahkan garam dari kaca. Apalagi, dua nama perusahaan garam industri lokal menjadi sasaran. Isu garam dicampur kaca beredar di daerah Jawa Timur. Kendati begitu, seperti dikutip dari laman daring Detik (01/08), Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lamongan melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melakukan pengawasan dan uji laboratorium. Hasilnya dinyatakan bahwa tidak ada ditemukan garam yang mengandung kaca. Dalam hal ini, bisa dikatakan berita bohong disebar untuk kepentingan mematikan usaha bisnis orang lain.

Ceramah Kontroversi

Laman dari BBC Indonesia (07/08) melaporkan temuan mereka. Ada beberapa pembicara keagamaan yang melakukan ceramah memuat kontroversi. Di dalam ceramah tersebut sama sekali tidak ada penjelasan ilmiah yang menjadi dasar pemikiran. Sebagai contoh, Zulkifli Muhammad Ali mengatakan bahwa ibu-ibu yang melakukan bedah sesar memiliki gangguan jin di tubuhnya. Ceramah yang beredari di kanal Youtube itu menuai protes dari kalangan ibu-ibu karena dinilai melukai hati dan tidak berdasar fakta ilmiah.

Lain lagi ceramah, Febri Sugianto di salah satu televisi swasta nasional. Di dalam ceramahnya dirinya menyatakan bahwa perempuan sulit memiliki keturunan karena sering menggunakan pembalut dan sepatu hak tinggi. Kecaman warga netizen meluncur deras di dunia maya. Semuanya mempertanyakan fakta ilmiah ceramah tersebut.

Lanjut, ceramah yang terdengar sangat mengejutkan pun meluncur dari seorang penceramah. Di salah satu siaran televisi swasta, Syamsuddin Nur Makka menyebutkan bahwa ‘pesta seks’ sebagai salah satu nikmat yang diberikan Allah di surga. Kecaman bertubi tubi sudah pasti menjadi konsekuensi yang harus dihadapapi. Seperti dilansir dari BBC Indonesia (07/08), Syamsuddin Nur Makka melayangkan permohonan maaf di kantor Majelis Ulama Indonesia pada tanggal 17 Juli 2017.

Penceramah wanita yang cukup kondang, Dedeh Rosidah atau biasa disebut Mamah Dedeh, tidak luput dari ceramah kontroversi. Pada suatu ceramah, dirinya menjelaskan bahwa seorang muslim tidak disarankan berprofesi sebagai dokter hewan. Bahkan dirinya menyarankan agar menerima semua hewan kecuali babi dan anjing. Ceramah Dedeh Rosidah menuai kecaman dari komunitas dokter hewan. Dirinya pun sudah menyampaikan permohonan maaf.

Ujaran Kebencian dan Hasutan

Kali ini sosial media riuh rendah terhadap berdirinya patung Kongco Kwang Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing Bio, Tuban, Jawa Timur. Patung dengan tinggi 30 meter yang diresmikan 17 Juli 2017 ini menuai kecaman oleh kelompok tertentu. Malah, dikutip dari laman Kompas online (10/08), puluhan orang dari berbagai elemen menggelar aksi protes di depan kantor gedung DPRD Jatim. Mereka mendesak agar patung tersebut dirobohkan karena tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia. Di satu sisi, masih mengutip dari Kompas online (07/08), warga Tuban tidak pernah merasa keberatan dengan keberadaan patung tersebut.

Sentimen anti Cina sangat kuat terasa dalam isu patung yang berdiri di dalam Kelenteng Kwan Sing Bio. Mengutip dari laman online New York Times (10/08), Aan Anshori dari Jaringan Islam Anti Diskriminasi (JIAD) yang tidak setuju patung itu dirobohkan berujar, “Sentimen anti Cina menjadi sangat kuat.” Dia juga menegaskan bahwa sentimen ini akan sangat berbahaya bila digunakan oleh politikus di kemudian hari.

Indonesia tahun ini menginjak usia 72 tahun. Sebuah angka yang masih cukup muda bagi ukuran sebuah negara. Negara terbesar di Asia Tenggara ini sedang dan akan terus menuju proses bertumbuh serta berkembang. Memaknai sebuah kemerdekaan perlu dilihat dari sudut pandang yang lain. Konten konten negatif yang berpotensi merusak keutuhan bangsa sudah seharusnya ditiadakan. Kemauan untuk membaca dan melakukan riset mendalam sangat dibutuhkan negara ini agar dapat bersaing di kancah internasional. Bukan malahan semakin membenamkan diri dengan perilaku abai dan fanatisme sempit.

Selamat Hari Jadi Indonesia Raya ke 72

NKRI Harga Mati!!

Referensi :

http://www.educenter.id/5-penyebab-rendahnya-budaya-litera…/

Undang Undang Nomor 9 Tahun 1998 Tentang Kebebasan Menyampaikan Pendapat.

https://kumparan.com/i…/kronologi-kasus-remaja-mario-dan-fpi

https://metro.tempo.co/…/polisi-tangkap-dua-terduga-pelaku-…

http://megapolitan.kompas.com/…/gerak.cepat.polisi.tangani.…

http://regional.kompas.com/…/najwa-shihab-bantah-mundur-dar…

https://tirto.id/najwa-shihab-bantah-rumor-ia-akan-menjadi-…

http://politik.rmol.co/…/Yusril-Ihza-Mahendra-Klarifikasi-T…

http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-40847261

http://nasional.kompas.com/…/polemik-patung-raksasa-di-tuba…

http://regional.kompas.com/…/jangan-besar-besarkan-polemik-…

https://www.nytimes.com/…/indonesia-chinese-statue-islam-mu…

https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/517517018580838/