[DISINFORMASI] Yenny Wahid : PBNU Gagal Paham terhadap Kebijakan Pemerintah Lima Hari Sekolah

SUMBER: http://sabilillah.net/yenny-wahid-pbnu-gaga-paham-terhadap-kebijakan-pemerintah-lima-hari-sekolah.html

NARASI:
SABILILLH.net ~ Jakarta – Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid bersama pegiat pedidikan Najeela Shihab pada hari Selasa 15 Agustus 2017 mendatangi Kantor Kemendikbud. Kedatangan mereka hendak menemui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendy. Kepentingannya untuk tabayun terhadap kebijakan pemerintah yang sedang banyak mendapat perhatian publik, yaitu Lima Hari Sekolah (LHS).

Perhatian publik memuncak karena dipicu beredarnya video secara viral di media sosial. Isi video memperlihatkan sekelompok anak-anak masih berusia SD – SMP – dan SMA (bersarung, berbaju koko, dan berkopiah ala santri) yang berjoget-joget sambil teriak-teriak tak pantas. Mereka diatur dan dituntun sedemikian rupa oleh orang-orang yang tampak sudah dewasa. Di samping itu juga beredarnya berita yang menyatakan, bahwa PBNU siap menggelar aksi penolakan LHS dengan massa yang jauh lebih banyak ketimbang massa Aksi Bela Islam 212.

Setelah tabayun, Yenny Wahid puteri Ketua Umum PBNU Gus Dur, menyatakan kepada awak media, bahwa selama ini para penolak LHS belum dan atau tidak memahami LHS secara seksama dan secara benar. Kesalahan-kesalahan mereka antara lain : – Para penolak menolak full day school (FDS), padahal tak ada sama sekali pengertian itu. Yang ada adalah istilah Lima Hari sekolah (LHS). – Para penolak mengira, bahwa peserta didik akan bersekolah selama delapan jam. Padahal yang benar adalah hanya menambah satu jam 20 menit saja. Dengan penambahan jam itu, peserta didik masih punya banyak waktu untuk belajar di Madrasah Diniyah.– Para penolak beranggapan, bahwa keberadaan FDS akan mematikan madrasah diniyah. Padahal justeru sekolah-sekolah yang menerapkan LHS diwajibkan berkoordinasi dengan Madrasah-Madrasah Diniyah terdekat untuk menjalin sinergi dalam membangun karakter para peserta didik. Dan yang mendapat jatah kerja delapan jam adalah para gurunya. Hal itu dimaksudkan untuk agar Pemerintah bisa memberi tunjangan kepada guru-guru lain yang tak dapat tunjangan profesi dan sertifikasi.

Maka setelah mendapatkan informasi yang cukup lengkap dari Menteri Muhajir Effendy, Yenny Wahid kemudian hendak menyampaikannya kepada PBNU. Ia berharap, semoga ketegangan-ketegangan yang muncul belakangan ini bisa segera mereda. Karena menurutnya, “Konsep LHS ini sangat sesuai dengan cita-cita Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional”. Alhamdulillah, Yenny Wahid sudah menerapkan pesan suci Al-Qur’an surat Al-Hujurat 6 dan 9, yang esensinya tabayun untuk mendamaikan. (b&b)

Sumber : Republika edisi Rabu 16 Agustus 2017, halaman 9.

PENJELASAN:
Artikel yang ditayangkan oleh sabililah.net adalah pemelintiran terhadap artikel Republika edisi Rabu 16 Agustus 2017. Di Republika judul artikel adalah “Yenny Wahid: Ada Kesalahpahaman Soal FDS”. Berikut isi lengkap artikelnya;

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid dan pegiat pendidikan Najeela Shihab bertemu dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy di Gedung Kemendikbud Jakarta, Selasa (15/8). Pertemuan ini membahas isu yang tengah menjadi kontroversi, full day school (FDS).

Usai pertemuan yang berlangsung di Gedung A Kemendikbud selama hampir dua jam, Mendikbud Muhadjir Effendy enggan berkomentar dan memasuki ruangan.

Putri pertama Quraisy Shihab, Najeela Shihab, pun langsung turun menggunakan liftdan pergi dari lokasi. Melihat kedua rekannya pergi, Yenny Wahid sembari tertawa ramah langsung menanggapi pertanyaan wartawan.

“Sebenarnya mendiskusikan soal FDS. Ini kan banyak kesimpangsiuran informasi yang beredar di masyarakat tentang definisi dari FDS,” kata Yenny kepada Republika di gedung Kemendikbud, Selasa (15/8).

Yenny mengatakan, istilah full day school sebenarnya tidak pernah ada, tapi telanjur disalahpahami oleh masyarakat. Saat ini, Yenny melihat sudah mulai muncul ketegangan-ketegangan di tengah masyarakat karena miskomunikasi ini.

Poin utama yang menjadi kegelisahan masyarakat adalah dampak FDS terhadap madrasah diniyah (madin) sebagai efek diterapkannya delapan jam pelajaran untuk siswa. Menurut Yenny, Mendikbud memberikan informasi bahwa tidak ada niat untuk memberlakukan delapan jam pelajaran untuk siswa.

Bahkan, Mendikbud juga mengakui kalau anak akan kelelahan bila belajar selama delapan jam. Yenny menerangkan, jam pelajaran siswa tetap sama seperti dulu, hanya ditambah 1 jam 20 menit. Hal ini pada praktiknya dinilai tidak akan mengganggu madrasah diniyah.

“Anak yang mau sekolah madrasah diniyah masih ada cukup waktu untuk melakukan itu. Itu pertama, kesalahpahaman. Jadi, tidak ada full day school. Tidak ada,” ujar Yenny Wahid.

Yenny menerangkan, persoalan delapan jam pelajaran yang selama ini diributkan tidak akan diberlakukan untuk siswa. Tetapi, diberlakukan untuk guru. Tujuannya, Yenny mengatakan, untuk membantu agar guru bisa mendapatkan tunjangan profesi.

Dengan adanya perpres yang akan dibuat ini, guru-guru yang selama ini tidak bisa mendapatkan sertifikasi dan tunjangan profesi karena kurang memenuhi jam pembelajaran bisa mendapatkan tunjangan profesi. Kesejahteraan guru akan lebih terperhatikan.

Yenny melanjutkan, guru juga dapat memberikan waktu yang lebih banyak lagi untuk memperhatikan murid-muridnya. Dengan tuntutan delapan jam di sekolah, porsi perhatian guru untuk murid diharapkan akan lebih baik. Guru bisa lebih memahami kondisi murid, termasuk mendeteksi bila ada murid yang terkena paham radikalisme, narkoba, atau masalah lain.

Yenny menambahkan, Kemendikbud mempunyai komitmen agar sekolah-sekolah bersinergi dengan madrasah diniyah dalam hal penguatan karakter. Menurut Yenny, selama ini madin mempunyai kontribusi besar terhadap pendidikan karakter siswa, yang dilakukan secara informal.

“Sekarang sudah ada komitmen dari Kemendikbud untuk berkoordinasi, bersinergi dengan madin-madin yang ada. Dan ini saya rasa sesuai sekali dengan cita-cita UU Sisdiknas yang memberikan penekanan pada pendidikan karakter siswa,” ujarnya.

Usai pertemuan ini, Yenny mengungkapkan ada banyak sekali kesalahpahaman yang selama ini beredar di masyarakat. Ia menyatakan akan menyampaikan hasil pertemuan ini kepada warga PBNU yang selama ini keras menolak FDS.

“Saya senang karena mendapatkan komitmen dari Kemendikbud bahwa justru beliau akan memastikan bahwa madin justru akan disinergikan dengan sekolah-sekolah yang ada,” kata Yenny Wahid.

KESIMPULAN: Artikel di sabililah.net termasuk ke dalam disinformasi yang terkesan mengadu Yenny Wahid dengan PBNU dan Kemendikbud. Sedangkan pada artikel asli di Republika, isi artikel terkait sinergi antara Madrasah yang mayoritas dibangun oleh Nahdlatul Ulama (NU) dengan kebijakan Mendikbud yang berlatar belakang dari Muhammadiyah.

REFERENSI:
http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/17/08/15/ouq8bu-yenny-wahid-ada-kesalahpahaman-soal-fds

https://www.facebook.com/groups/fafhh/permalink/516279855371221/