[SALAH] Detektor Radiasi Elektromagnetik dapat Mendeteksi Radiasi dari Vaksin Covid-19

Hasil Periksa Fakta Fathia Islamiyatul (Universitas Pendidikan Indonesia)

Vaksin Covid-19 tidak mengandung logam yang menyebabkan radiasi elektromagnetik meningkat. Faktanya, para ahli mengatakan tidak mungkin vaksin COVID-19 dapat berkontribusi pada penciptaan medan elektromagnetik yang akan memicu detektor EMF.

Selengkapnya di bagian penjelasan dan referensi.

= = =
Kategori: Konten yang Menyesatkan

= = =
Sumber: Facebook (https://bit.ly/2Uvy117)

https://turnbackhoax.id/wp-content/uploads/2021/07/SALAH-Detektor-Radiasi-Elektromagnetik-dapat-Mendeteksi-Radiasi-dari-Vaksin-Covid-19.pdf

(Arsip Sumber)

= = =
Narasi:
“ADA LOGAM / NANO CHIP / NANO BOT DI DALAM FAKFAK
Kalo udah kita kasih hasil mikroskop yg ada logam masih di bilang hoax.. kita masih sabar
Di kasih video orang di kasih magnet tapi masih di bilang hoax.. kita juga masih bisa sabar
Tapi kalo udah ada video test pake alat metal detector masih di bilang hoax.. berarti mereka emang bodoh dan layak di musnahkan seperti rencana Bill Gates 😂😂😂
(Melihat banyak orang yg bebal…lama lama aku jadi mulai setuju sama Bill Gates.. bumi sudah semakin padat dan orang bodoh dan ga berguna harus di musnahkan dari muka bumi.. agar dunia bisa jadi lebih baik 🤣🤣)”

= = =
Penjelasan:
Beredar sebuah informasi di media sosial Facebook yang mengklaim bahwa vaksin Covid-19 mengandung logam/nano chip/ nano bot di dalamnya. Klaim tersebut diperkuat dengan video yang menunjukkan alat detektor elektromagnetik yang dapat mendeteksi radiasi akibat logam yang terkandung di dalam vaksin.

Video yang disematkan di unggahan tersebut merupakan rekaman layar dari unggahan Kay Jay (https://archive.vn/NAuIh) yang bernarasi “EMF READER ON A V SITE”.

Video dimulai dengan seorang wanita mengarahkan alat pendeteksi berlabel “penguji radiasi elektromagnetik” ke lengganya sendiri “ini lengan saya,” katanya, memfokuskan kamera pada alat pendeteksi yang menunjukkan “E-Field: 0 V/M”, yang berarti volt per meter. Layar tersebut menunjukkan label “aman” dan wanita tersebut mengklaim bahwa dirinya tidak melakukan vaksinasi Covid-19.

Kemudian, di bagian akhir wanita tersebut mencoba mengalihkan perangkat terhadap seseorang yang diklaim sudah menerima vaksin Covid-19. Ketika alat pendeteksi diarahkan ke lengannya, perangkat mulai berbunyi bip, dan lampu merah berkedip. Layar menunjukkan “E-Field antara 116 dan 134” yang diklasifikasikan oleh perangkat tersebut “berbahaya”.

Berdasarkan hasil penelusuran, informasi tersebut salah. Dilansir dari PolitiFact, para ahli mengatakan tidak mungkin vaksin COVID-19 dapat berkontribusi pada penciptaan medan elektromagnetik yang akan memicu detektor EMF. Dr. Gregory Poland, kepala Kelompok Penelitian Vaksin Mayo Clinic, mengatakan “sama sekali tidak ada vaksin yang bisa melakukan ini.”

Dr. Stuart Ray, seorang profesor di Divisi Penyakit Menular di Departemen Kedokteran Universitas Johns Hopkins, menjelaskan bahwa “semua benda memancarkan EMF – karena EMF adalah radiasi apa pun dan semuanya memancarkan energi kecuali pada nol mutlak.” (Dia mengacu pada suhu nol mutlak, atau -459,67 derajat Fahrenheit.)

Dengan pemikiran ini, Ray mengatakan ada kemungkinan bahwa tubuh manusia dapat memancarkan semacam radiasi – dan para ahli mengonfirmasi bahwa semua hal, termasuk tubuh manusia, memancarkan radiasi.

“Tapi tidak ada sama sekali dalam vaksin yang kami harapkan untuk mengubah jumlah radiasi yang dikeluarkan seseorang,” kata Ray.

Dia juga merinci bahwa vaksin COVID-19 tidak akan memengaruhi jumlah radiasi seseorang.

Dengan demikian klaim bahwa Vaksin mengandung logam/nano chip/nano bot yang menyebabkan radiasi elektromagnetik dalam diri manusia meningkat adalah hoaks dengan kategori konten yang menyesatkan.

= = =
Referensi:

  1. https://www.politifact.com/factchecks/2021/may/21/facebook-posts/no-getting-covid-19-vaccine-wont-expose-you-high-a/

= = =
Editor: Bentang Febrylian